Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kalbar Punya Potensi Skandium dari Limbah Bauksit, Mengapa Belum Diolah Secara Komersial?

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 5 Juni 2026 | 13:44 WIB
Ilustrasi Skandium. Logam langka ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih. (GEMINI AI)
Ilustrasi Skandium. Logam langka ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih. (GEMINI AI)

PONTIANAK POST - Di tengah gencarnya hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat, perhatian mulai mengarah pada satu mineral yang sejauh ini belum banyak dibahas publik, yakni skandium.

Logam kritis yang digunakan dalam industri pesawat terbang, energi bersih, hingga teknologi tinggi itu ternyata berpotensi ditemukan dalam residu pengolahan bauksit.

Walau hasil penelitian menunjukkan peluang yang menjanjikan, hingga kini skandium di Kalbar masih belum diolah secara komersial.

Baca Juga: Skandium Bak Harta Karun Tersembunyi Energi Bersih, Kalbar Berpotensi Jadi Rebutan Industri Dunia

Dalam kajian yang dipublikasikan oleh Lemhannas RI (24/3/2021), disebutkan bahwa sekitar 66,77 persen cadangan bauksit Indonesia berada di Kalbar.

Potensi ini menjadi modal penting bagi pengembangan industri pengolahan mineral dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Seiring berkembangnya industri alumina di daerah tersebut, muncul pertanyaan baru mengenai potensi mineral lain yang selama ini tersembunyi dalam proses pengolahan bauksit.

Skandium Ternyata Tersimpan dalam Limbah Bauksit

Pengolahan bauksit menjadi alumina menghasilkan residu yang dikenal sebagai red mud atau lumpur merah. Selama bertahun-tahun, residu ini lebih banyak dipandang sebagai limbah industri.

Baca Juga: Skandium Semakin Dibutuhkan Dunia, Potensi Hilirisasi di Kalbar Kian Menguat

Kajian terbaru terbaru menunjukkan bahwa residu tersebut masih mengandung sejumlah unsur bernilai ekonomi, termasuk skandium.

Temuan tersebut diungkap dalam tulisan berjudul Studi Perbandingan Proses Pelindian untuk Ekstraksi Skandium dari Terak Residu Bauksit yang diterbitkan melalui Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA) Kementerian ESDM pada September 2023.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti BRIN dan Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara itu menunjukkan bahwa skandium dapat diekstraksi dari residu bauksit menggunakan metode hidrometalurgi tertentu.

Dalam pengujian laboratorium, tingkat perolehan skandium bahkan mencapai 88,40 persen pada kondisi tertentu.

Hasil tersebut membuka peluang baru bahwa limbah pengolahan bauksit tidak hanya menjadi sisa produksi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sumber mineral strategis bernilai tinggi.

Mengapa Skandium Mulai Diburu Dunia?

Skandium merupakan salah satu mineral kritis yang kini semakin banyak dicari oleh berbagai negara.

Baca Juga: Limbah Bauksit Skandium Kini Dicari Industri Modern Dunia, Kalbar Punya Peluang Jadi Pemasok Utama

Logam ini digunakan sebagai bahan campuran aluminium untuk menghasilkan material yang lebih ringan, kuat, dan tahan korosi.

Karakteristik tersebut membuat skandium banyak digunakan dalam industri dirgantara, transportasi modern, manufaktur berteknologi tinggi, hingga pengembangan energi bersih.

Dengan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis, pasokan skandium global masih tergolong terbatas.

Kondisi inilah yang membuat banyak negara mulai mencari sumber pasokan baru dari berbagai wilayah, termasuk melalui pemanfaatan produk sampingan industri pertambangan.

Baca Juga: Bernilai Jutaan Rupiah per Kilogram, Skandium Kalbar dari Limbah Bauksit Berpotensi Jadi Mineral Masa Depan

Potensi Ada, Produksi Komersial Belum Berjalan

Meski penelitian menunjukkan potensi yang menjanjikan, hingga saat ini belum terdapat informasi resmi mengenai produksi skandium secara komersial di Kalimantan Barat.

Industri yang beroperasi di daerah ini masih berfokus pada pengolahan bauksit menjadi alumina dan produk turunannya.

Sedangkan langkah lanjutan skandium masih berada pada tahap penelitian, pengembangan teknologi ekstraksi, dan kajian keekonomian.

Selain memerlukan teknologi pemisahan yang relatif kompleks, pengembangan industri skandium juga membutuhkan investasi besar dan kepastian pasar agar layak dijalankan dalam skala komersial. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Logam tanah jarang #skandium #kalimantan barat #tambang bauksit