Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Alasan Di Balik China Mendominasi Logam Tanah Jarang, Apa Peluang Kalimantan ke Depan?

Khoiril Arif Ya'qob • Sabtu, 6 Juni 2026 | 13:29 WIB

 

Logam tanah jarang adalah logam yang tersebar pada seluruh lapisan litosfer bumi. Terdiri atas 17 unsur logam dengan jumlah sedikit, namun multifungsi seperti bahan penyusun baterai mobil hybrid dan komponen barang elektronik lainnya. (GEMINI AI)
Logam tanah jarang adalah logam yang tersebar pada seluruh lapisan litosfer bumi. Terdiri atas 17 unsur logam dengan jumlah sedikit, namun multifungsi seperti bahan penyusun baterai mobil hybrid dan komponen barang elektronik lainnya. (GEMINI AI)

PONTIANAK POST - Logam tanah jarang (LTJ) kini menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia.

Mineral ini menjadi bahan baku penting untuk kendaraan listrik, ponsel pintar, turbin angin, teknologi kecerdasan buatan hingga industri pertahanan.

Di tengah derasnya kebutuhan global, China masih menjadi pemain dominan dalam rantai pasok logam tanah jarang dunia.

Baca Juga: Kasus Kontainer Batam Memanas, Satgas PKH Ungkap Dugaan Logam Tanah Jarang dalam Muatan Ekspor

Namun di balik dominasi tersebut, Indonesia termasuk Kalimantan mulai dilirik sebagai calon sumber pasokan baru yang berpotensi mengubah peta industri mineral kritis global.

China Kuasai Rantai Pasok Dunia

Dominasi China dalam industri logam tanah jarang bukan hanya karena memiliki cadangan mineral yang besar, tetapi juga karena menguasai teknologi pengolahan dan pemurnian.

Berdasarkan laporan dari International Energy Agency (IEA), China menyumbang sekitar 60 persen produksi tambang logam tanah jarang dunia pada 2024.

Negara tersebut menguasai sekitar 91 persen kapasitas pemurnian global dan sekitar 94 persen produksi magnet permanen berbasis logam tanah jarang yang digunakan dalam kendaraan listrik, elektronik, dan industri pertahanan.

Baca Juga: Kalbar Masuk Peta Pengembangan Logam Tanah Jarang Nasional, Indonesia Siapkan Delapan Blok Tambang dan BUMN Khusus

Penguasaan teknologi pemisahan dan pengolahan inilah yang membuat China menjadi pemain utama dalam industri logam tanah jarang global selama puluhan tahun.

Menurut IEA, tahap pemurnian merupakan bagian paling kompleks dan bernilai tinggi dalam rantai industri logam tanah jarang.

Yang perlu digarisbawahi adalah tidak semua negara yang memiliki cadangan mampu mengolah mineral tersebut menjadi produk siap pakai.

Mengapa Dunia Mulai Mencari Alternatif?

Ketergantungan dunia terhadap China membuat banyak negara mulai mencari sumber pasokan alternatif.

Pakar Geologi dari Universitas Gadjah Mada, Lucas Donny Setijadji, menjelaskan bahwa perhatian dunia terhadap logam tanah jarang meningkat tajam ketika China mulai membatasi ekspor komoditas tersebut.

Kebijakan tersebut memicu (kalau boleh disebut) ketakutan negara-negara industri yang sangat bergantung pada pasokan logam tanah jarang untuk sektor teknologi dan manufaktur.

Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis

Akibatnya, berbagai negara mulai mempercepat eksplorasi sumber daya baru, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Kalimantan Masuk Wilayah Prospektif

Di tengah persaingan global tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar.

Menurut Lucas Donny Setijadji dalam laman UGM (18/2), Indonesia memiliki sejumlah wilayah prospektif logam tanah jarang yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Ia menyebut terdapat sedikitnya delapan lokasi yang saat ini menjadi perhatian dalam pengembangan mineral strategis tersebut.

Baca Juga: Kaya Cadangan Logam Tanah Jarang, Yusril Ihza Mahendra Sebut Indonesia Berpotensi Jadi Incaran Negara Besar: Kekuatan Militer Penting

Informasi serupa juga disampaikan Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto yang menyebut pemerintah telah mengidentifikasi delapan blok dengan potensi logam tanah jarang besar yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi dan Bangka Belitung.

Bagi Kalimantan, temuan ini membuka peluang baru di luar komoditas yang selama ini mendominasi seperti batu bara, bauksit dan kelapa sawit.

Peluang Besar dari Hilirisasi

Nilai ekonomi logam tanah jarang tidak hanya berasal dari kegiatan penambangan.

Mineral ini merupakan bahan baku penting untuk magnet permanen, baterai kendaraan listrik, panel surya, sistem radar, semikonduktor hingga peralatan militer modern.

Karena itu, keuntungan terbesar justru berada pada sektor pengolahan dan manufaktur lanjut.

Lucas menilai Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian.

Baca Juga: Melimpah di Kalbar: BRIN Ungkap Potensi Mineral Tanah Jarang Skandium, Harta Karun Baru dari Limbah Bauksit

Tantangan terbesar bukan sekadar menemukan cadangan, tetapi menguasai teknologi ekstraksi dan pemurnian yang selama ini masih terbatas.

Jika teknologi tersebut berhasil dikembangkan, Kalimantan berpeluang menjadi bagian penting dari rantai pasok industri mineral kritis dunia yang nilainya jauh lebih besar dibanding ekspor bahan mentah.

Tantangan yang Tidak Ringan

Meski prospeknya besar, pengembangan logam tanah jarang tidak mudah.

Pakar UGM mengingatkan bahwa logam tanah jarang sering berasosiasi dengan unsur radioaktif sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik dan pengawasan lingkungan yang ketat.

Baca Juga: Bernilai Jutaan Rupiah per Kilogram, Skandium Kalbar dari Limbah Bauksit Berpotensi Jadi Mineral Masa Depan

Selain itu, setiap lokasi memiliki karakteristik mineral berbeda sehingga teknologi ekstraksinya tidak bisa disamaratakan.

Karena itu, keberhasilan Kalimantan dalam memanfaatkan peluang logam tanah jarang tidak hanya bergantung pada besarnya cadangan, tetapi juga kesiapan riset, teknologi, investasi dan kebijakan hilirisasi nasional.

Peluang Kalimantan di Masa Depan

Walhasil, dengan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap kendaraan listrik, energi terbarukan dan teknologi canggih, permintaan logam tanah jarang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Jika eksplorasi berjalan sukses dan teknologi pengolahan mampu dikembangkan di dalam negeri, Kalimantan berpotensi menjadi salah satu pemain baru dalam industri mineral kritis global.

Posisi ini tidak hanya berpotensi mendatangkan investasi besar, tetapi juga membuka peluang tumbuhnya industri hilir bernilai tambah tinggi yang selama ini banyak dinikmati negara-negara pengolah seperti China. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Logam tanah jarang #mineral kritis #china #kalimantan