PONTIANAK POST – Logam tanah jarang (rare earth elements atau REE) semakin sering disebut sebagai komoditas strategis masa depan.
Mineral ini menjadi bahan baku penting bagi kendaraan listrik, turbin angin, elektronik canggih, hingga industri pertahanan.
Dalam laporan Pontianak Post (31/5), Kalimantan bahkan mulai masuk dalam peta pengembangan logam tanah jarang nasional. Pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah wilayah potensial, termasuk Kabupaten Ketapang di Kalimantan Barat, yang menjadi fokus eksplorasi lanjutan.
Namun jika potensinya besar dan permintaan dunia terus meningkat, mengapa rare earth Kalimantan belum mendapat perhatian sebesar nikel dalam agenda pembangunan nasional?
Masih Tahap Awal Eksplorasi
Boleh jadi, salah satu alasannya adalah tingkat kematangan proyek yang masih relatif awal. Kementerian ESDM menyebut delapan proyek logam tanah jarang yang telah teridentifikasi di Indonesia masih berada pada tahap awal eksplorasi.
Sebagaimana keterangan di atas, pemerintah bahkan masih berencana memperluas kegiatan eksplorasi ke sejumlah wilayah baru, termasuk Ketapang di Kalimantan Barat.
Kondisi ini berbeda dengan nikel yang telah memiliki data cadangan yang lebih matang, tambang aktif, hingga jaringan industri yang sudah berkembang selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis
Indonesia Belum Punya Fasilitas Pemurnian Komersial
Hambatan berikutnya justru berada pada sektor hilir. Menurut data industri mineral, Indonesia hingga saat ini belum memiliki fasilitas komersial untuk memisahkan dan memurnikan unsur-unsur logam tanah jarang.
Akibatnya, jika bahan baku berhasil diproduksi, sebagian besar nilai tambah berpotensi dinikmati negara lain yang memiliki teknologi pengolahan lebih maju.
Teknologi pemisahan REE dikenal sangat kompleks karena melibatkan proses kimia dan pemurnian berlapis yang membutuhkan investasi besar serta sumber daya manusia khusus.
Pemerintah Masih Fokus Membangun Rantai Industri
Pemerintah sebenarnya telah mulai menyiapkan fondasi pengembangan rare earth nasional.
Salah satunya melalui pembentukan Perminas atau Perusahaan Mineral Nasional yang mendapat mandat khusus untuk mengembangkan sektor logam tanah jarang dan mineral kritis lainnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa fokus pemerintah saat ini masih berada pada tahap membangun fondasi industri, mulai dari eksplorasi, pengelolaan cadangan, hingga penyusunan rantai pasok nasional.
Persaingan Global Masih Berat
Meski kebutuhan dunia terus meningkat, pasar logam tanah jarang global masih didominasi oleh negara-negara yang telah lebih dahulu menguasai teknologi pemurnian dan manufaktur turunannya.
Kondisi tersebut membuat Indonesia harus bersaing bukan hanya pada tahap penambangan, tetapi juga dalam penguasaan teknologi dan industri hilir.
Kalimantan Menunggu Momentum
Masuknya Kalimantan ke dalam peta pengembangan rare earth nasional menunjukkan bahwa pemerintah melihat potensi besar di wilayah ini.
Bahkan Ketapang telah masuk daftar prioritas eksplorasi lanjutan bersama sejumlah daerah lain di Indonesia.
Namun hingga saat ini, tantangan utama masih terletak pada kepastian cadangan, penguasaan teknologi pemurnian, pembangunan industri hilir, serta kesiapan investasi.
Selama faktor-faktor tersebut belum teratasi, rare earth Kalimantan kemungkinan masih akan berada di belakang nikel, tembaga, dan bauksit dalam daftar prioritas pengembangan mineral nasional. (*)
Editor : Miftahul Khair