PONTIANAK POST — Nanik S. Deyang resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026). Pelantikan ini menjadi perhatian publik karena berlangsung di tengah upaya pemerintah membenahi BGN setelah kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyeret jajaran pimpinan sebelumnya.
Usai pengambilan sumpah jabatan, Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan sejumlah pejabat negara memberikan ucapan selamat kepada para pejabat yang baru dilantik. Di tengah prosesi tersebut, perhatian tertuju kepada Nanik yang tampak tak mampu menyembunyikan emosinya.
Pantauan dari siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden di Istana Negara menunjukkan mata Nanik mulai berkaca-kaca sesaat setelah berjabat tangan dengan Presiden Prabowo.
Tak lama kemudian, air mata mengalir di pipinya. Beberapa kali ia mengangkat tangan untuk menyeka wajahnya sambil berusaha tetap tersenyum kepada para pejabat yang menghampiri dan mengucapkan selamat.
Hingga berita ini diturunkan, Nanik belum menyampaikan pernyataan resmi kepada awak media mengenai perasaannya setelah dilantik. Namun ekspresi haru yang ditunjukkannya menjadi gambaran kuat mengenai besarnya tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.
Tangis Nanik terjadi pada saat BGN sedang menghadapi salah satu krisis terbesar sejak lembaga tersebut dibentuk.
Ia dipercaya memimpin BGN setelah pemerintah melakukan pergantian kepemimpinan menyusul terungkapnya dugaan korupsi dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo.
Berdasarkan penyidikan Kejaksaan Agung, mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua mantan wakil kepala badan ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyimpangan tata kelola program MBG periode 2025–2026.
Penyidik menduga terjadi berbagai pelanggaran, mulai dari pengaturan proses verifikasi yayasan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), konflik kepentingan karena adanya afiliasi pejabat dengan pengelola yayasan, hingga dugaan intervensi dalam pengadaan barang dan jasa.
Dalam proses penyidikan, Kejaksaan Agung juga mengungkap dugaan pengadaan sejumlah barang yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan tujuan utama program pemenuhan gizi nasional, termasuk ribuan televisi, puluhan ribu pasang sepatu, dan lebih dari 21 ribu sepeda motor listrik.
Kasus tersebut menjadi pukulan bagi BGN yang selama ini mengemban tugas menjalankan program pemenuhan gizi bagi jutaan anak sekolah dan kelompok rentan di Indonesia.
Bagi sebagian orang, tangis Nanik mungkin sekadar luapan emosi saat menerima jabatan baru. Namun di balik momen itu terdapat beban yang jauh lebih besar.
Sebagai sosok yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik bukan orang baru di lingkungan lembaga tersebut. Ia memahami secara langsung dinamika internal BGN, termasuk tantangan yang muncul setelah kasus korupsi mencuat ke ruang publik.
Saat menerima ucapan selamat dari satu per satu pejabat negara, Nanik beberapa kali berusaha menampilkan senyum. Namun air mata terus mengalir dan harus berulang kali diseka.
Momen itu menjadi salah satu adegan paling emosional dalam rangkaian pelantikan di Istana Negara. Di tengah sorotan terhadap BGN, ekspresi Nanik seolah mencerminkan besarnya harapan sekaligus tekanan yang kini harus dihadapinya.
Penunjukan Nanik juga menarik perhatian karena rekam jejaknya yang panjang di dunia media dan politik.
Perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur, itu mengawali karier sebagai jurnalis sebelum berkiprah di berbagai perusahaan media dan komunikasi nasional. Namanya kemudian semakin dikenal setelah aktif dalam tim pemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno.
Kariernya berlanjut di pemerintahan setelah Prabowo terpilih menjadi presiden. Sebelum dipercaya memimpin BGN, Nanik menjabat Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan dan kemudian Wakil Kepala BGN.
Publik kini menunggu apakah perempuan yang tak kuasa menahan tangis saat menerima amanah itu mampu mengembalikan integritas lembaga, memperbaiki tata kelola, dan memastikan Program Makan Bergizi Gratis benar-benar dijalankan secara efisien dan optimal untuk kepentingan masyarakat yang paling membutuhkan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro