PONTIANAK POST - Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements semakin menjadi komoditas strategis dunia seiring meningkatnya kebutuhan untuk teknologi modern, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri pertahanan.
Dalam persaingan global, sejumlah negara tercatat memiliki cadangan LTJ terbesar di dunia. China masih mendominasi, sementara Brasil, India, Australia, dan Rusia juga menjadi pemain penting dalam rantai pasok global.
Sementara itu, Indonesia turut masuk dalam peta potensi LTJ global, meski masih berada pada tahap eksplorasi dan pengembangan riset dibanding negara-negara utama tersebut.
Melansir Indonesia Mining Association, berikut 5 negara dengan cadangan LTJ terbesar di dunia, serta posisi Indonesia dalam lanskap mineral kritis ini.
1. China
China menjadi negara dengan cadangan logam tanah jarang (LTJ) terbesar di dunia, yakni sekitar 44 juta metrik ton.
Negara ini juga menjadi produsen utama LTJ global dengan produksi sekitar 270.000 metrik ton pada 2024.
Tambang utama LTJ di China berada di Bayan Obo, Inner Mongolia, yang dikenal sebagai salah satu deposit terbesar di dunia dengan cadangan lebih dari 40 juta metrik ton.
Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis
China juga dikenal memiliki kontrol ketat terhadap industri LTJ, mulai dari pembatasan tambang ilegal hingga pengaturan ekspor dan kuota produksi untuk menjaga stabilitas industri strategisnya.
2. Brasil
Brasil berada di posisi kedua dengan cadangan LTJ sekitar 21 juta metrik ton. Salah satu proyek utamanya adalah Pela Ema di Goias, yang dikelola oleh Serra Verde.
Deposit ini termasuk kategori lempung ionik yang mengandung unsur penting seperti neodymium, praseodymium, terbium, dan dysprosium.
Brasil mulai memasuki fase produksi komersial dan menargetkan peningkatan kapasitas dalam beberapa tahun ke depan.
3. India
India memiliki cadangan LTJ sekitar 6,9 juta metrik ton dan produksi sekitar 2.900 metrik ton pada 2024.
Sebagian besar sumber daya LTJ India berasal dari pasir mineral pantai (beach sands) yang mengandung unsur tanah jarang dalam jumlah signifikan.
India juga mulai membangun industri hilir dengan rencana pembangunan fasilitas produksi magnet dan logam tanah jarang sebagai bagian dari strategi industrialisasi mineral kritis.
4. Australia
Australia memiliki cadangan LTJ sekitar 5,7 juta metrik ton dan produksi sekitar 13.000 metrik ton pada 2024.
Proyek utama berada di Mount Weld (Lynas Corporation), salah satu deposit LTJ berkualitas tinggi di dunia.
Saat ini, sebagian besar hasil produksi masih dikirim ke fasilitas pengolahan di Malaysia, namun Australia mulai mendorong pembangunan fasilitas pemrosesan domestik untuk memperkuat rantai nilai dalam negeri.
5. Rusia
Rusia menempati posisi kelima dengan cadangan LTJ sekitar 3,8 juta metrik ton dan produksi sekitar 2.500 metrik ton pada 2024.
Beberapa deposit utama berada di wilayah Lovozero, Tomtorskoe, Skalnoe (Popigai), dan Ilmensky Reserve, yang menjadi basis pengembangan mineral strategis negara tersebut.
Posisi Indonesia dalam Peta Logam Tanah Jarang Dunia
Meski tidak termasuk lima besar cadangan LTJ dunia, Indonesia disebut memiliki potensi logam tanah jarang yang masih terus diteliti dan dipetakan.
Sejumlah unsur LTJ seperti skandium dan unsur lainnya dilaporkan berasosiasi dengan mineral utama seperti bauksit, timah, dan nikel, yang selama ini menjadi komoditas tambang utama Indonesia.
Pemerintah melalui berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi saat ini tengah melakukan kajian untuk mengidentifikasi cadangan serta potensi pengolahan LTJ di dalam negeri, termasuk peluang hilirisasi agar tidak hanya mengekspor bahan mentah.
Namun, hingga kini industri LTJ Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan dibanding negara-negara utama seperti China dan Australia yang sudah memiliki ekosistem produksi dan pemrosesan yang matang. (*)
Editor : Miftahul Khair