PONTIANAK POST - Ketika cadangan sumber daya alam berupa bauksit, emas, dan perkebunan sawit yang menjadi andalan ekonomi daerah melimpah, justru tingkat pengangguran di Kalimantan Barat mengalami kenaikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kalbar mencapai 4,57 persen pada Februari 2026, naik dibandingkan 4,23 persen pada Februari 2025.
Data BPS menunjukkan jumlah angkatan kerja di Kalbar pada Februari 2026 mencapai 3,04 juta orang atau bertambah 131,64 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Sebab Musabab Lulusan SMK jadi Penyumbang Tertinggi Pengangguran di Kalbar
Sementara jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 2,91 juta orang.
Angkatan Kerja Bertambah, Pengangguran Ikut Naik
Kenaikan TPT menunjukkan pasar kerja di Kalimantan Barat masih menghadapi tantangan dalam menyerap tambahan tenaga kerja yang masuk setiap tahun.
Meski jumlah penduduk bekerja meningkat sebanyak 115,84 ribu orang dibandingkan Februari 2025, pertumbuhan angkatan kerja yang lebih besar membuat tingkat pengangguran ikut mengalami kenaikan.
Secara nasional, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen.
Baca Juga: Bupati Kubu Raya Soroti Kenaikan Pengangguran, Fokus pada Pembangunan Jalan Poros Ekonomi
Dengan demikian, TPT Kalbar masih sedikit berada di bawah rata-rata nasional, namun menunjukkan tren kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kaya Bauksit, Emas dan Sawit
Kalimantan Barat selama ini dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya alam di Indonesia.
Provinsi ini memiliki cadangan bauksit yang besar dan menjadi salah satu pemasok utama bahan baku industri aluminium nasional.
Selain itu, Kalbar juga memiliki potensi tambang emas, perkebunan kelapa sawit yang luas, komoditas karet, serta sumber daya kehutanan yang menjadi penopang perekonomian daerah.
Sektor-sektor tersebut selama bertahun-tahun menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi dan investasi di Kalimantan Barat.
Namun data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam belum sepenuhnya mampu menghilangkan persoalan pengangguran.
Baca Juga: Lulusan Vokasi Dominasi Pengangguran di Kalbar, Ekonom Dorong Peningkatan Keterampilan dan Usaha
Pertanian Masih Menjadi Penopang Utama
Data BPS menunjukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kalbar.
Pada Februari 2026, sebanyak 1,33 juta orang bekerja di sektor tersebut atau sekitar 45,70 persen dari total penduduk bekerja.
Sektor perdagangan besar dan eceran berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 12,45 persen, disusul industri pengolahan sebesar 6,68 persen.
Komposisi ini menunjukkan sebagian besar tenaga kerja Kalbar masih menggantungkan pekerjaan pada sektor-sektor berbasis sumber daya alam dan aktivitas ekonomi primer.
Baca Juga: Prabowo Subianto Ungkap Kemiskinan dan Pengangguran Terus Menurun
Tantangan Kualitas Tenaga Kerja
Selain persoalan penyerapan tenaga kerja, BPS juga mencatat tantangan lain dari sisi kualitas sumber daya manusia.
Penduduk bekerja di Kalbar masih didominasi lulusan SD ke bawah dengan porsi mencapai 41,65 persen. Sementara tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencapai 5,87 persen.
Data tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam menyesuaikan kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi tenaga kerja yang tersedia.
Kekayaan Alam dan Tantangan Lapangan Kerja
Kenaikan tingkat pengangguran di Kalimantan Barat menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya alam tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja.
Di tengah besarnya potensi bauksit, emas, sawit, dan berbagai komoditas unggulan lainnya, Kalbar masih menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
Peningkatan kualitas tenaga kerja dan penguatan aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah lebih besar di dalam daerah menjadi salah satu tantangan yang akan menentukan kemampuan Kalbar mengubah kekayaan alam menjadi kesejahteraan yang lebih merata. (*)
Editor : Miftahul Khair