Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mentan Amran Dorong Hilirisasi Kakao, Lima Varietas Unggul Baru Siap Tingkatkan Pendapatan Petani

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 9 Juni 2026 | 18:33 WIB
DUKUNGAN INOVASI – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjabat tangan dengan peneliti kakao Rubiyo usai pertemuan kolaborasi Kementerian Pertanian dan BRIN di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Pertemuan tersebut membahas pengembangan lima varietas unggul baru kakao yang disiapkan untuk mendukung hilirisasi, meningkatkan produktivitas kebun rakyat, dan memperkuat daya saing kakao Indonesia di pasar global. (IST/Kementan)
DUKUNGAN INOVASI – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjabat tangan dengan peneliti kakao Rubiyo usai pertemuan kolaborasi Kementerian Pertanian dan BRIN di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Pertemuan tersebut membahas pengembangan lima varietas unggul baru kakao yang disiapkan untuk mendukung hilirisasi, meningkatkan produktivitas kebun rakyat, dan memperkuat daya saing kakao Indonesia di pasar global. (IST/Kementan)

PONTIANAK POST – Upaya memperkuat hilirisasi kakao nasional memasuki babak baru. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama peneliti yang kini berada di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima varietas unggul baru kakao yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas, kualitas biji, dan nilai tambah bagi petani.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan sekaligus memperkuat daya saing kakao Indonesia di pasar global.

Peneliti kakao senior, Rubiyo, mengatakan inovasi tersebut mendapat perhatian langsung dari Menteri Pertanian dalam pertemuan kolaborasi Kementan dan BRIN.

"Pak Menteri menanyakan apakah ada inovasi teknologi yang dihasilkan dari penelitian yang dahulu berasal dari Kementerian Pertanian. Saya sampaikan bahwa kami telah menghasilkan lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan," ujar Rubiyo, Selasa (9/6/2026).

Produktivitas Tinggi dan Mutu Lebih Baik

Salah satu varietas yang menjadi andalan adalah BP 1. Varietas ini memiliki ukuran biji lebih besar, kandungan lemak tinggi, dan produktivitas mencapai sekitar tiga ton biji kakao kering per hektare per tahun.

Selain BP 1, tim peneliti juga mengembangkan varietas RHS 1 dan RHS 2 yang berfungsi sebagai sumber benih unggul sekaligus mendukung pengembangan kakao hibrida.

Bagi petani, kehadiran varietas baru bukan sekadar soal teknologi. Produktivitas yang lebih tinggi berarti peluang pendapatan yang lebih baik, terutama di tengah tantangan kebun kakao rakyat yang masih menghadapi persoalan tanaman tua dan produktivitas rendah.

Di balik angka produksi nasional, terdapat jutaan keluarga petani yang menggantungkan hidup pada komoditas kakao. Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat luas kebun kakao Indonesia mencapai sekitar 1,37 juta hektare, dengan lebih dari 99 persen dikelola petani rakyat.

Namun produktivitas rata-rata nasional masih berada di kisaran 450 kilogram per hektare per tahun. Karena itu, kehadiran varietas unggul baru menjadi harapan bagi petani untuk meningkatkan hasil panen hingga berkali lipat, memperkuat posisi kakao Indonesia di pasar global, sekaligus membuka peluang kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat perkebunan.

Dari Laboratorium ke Kebun Petani

Rubiyo menegaskan hasil penelitian tersebut tidak berhenti di ruang laboratorium. Varietas BP 1 bahkan telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sementara RHS 1 dan RHS 2 telah dikembangkan di tujuh provinsi dan dimanfaatkan untuk kebun induk, kebun benih, maupun teknik sambung pucuk (grafting) yang banyak digunakan petani.

Menurutnya, penyebaran inovasi pertanian hanya bisa berjalan efektif jika melibatkan banyak pihak.

"Kalau ingin penyebarluasan inovasi berlangsung secara masif, maka kolaborasi seperti ini sangat penting. Tujuannya agar menghasilkan kakao dengan produktivitas tinggi, mutu yang baik, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan petani," katanya.

Perjalanan 35 Tahun Seorang Peneliti Kakao

Di balik lahirnya varietas-varietas unggul tersebut, terdapat perjalanan panjang seorang peneliti yang mengabdikan hidupnya bagi pertanian Indonesia.

Rubiyo mengaku telah menghabiskan sekitar 35 tahun meneliti dan mengembangkan komoditas kakao.

Baginya, perhatian yang diberikan Menteri Pertanian terhadap hasil penelitian menjadi motivasi tersendiri bagi para ilmuwan pertanian.

Ia menilai dukungan pemerintah sangat penting agar inovasi yang telah dihasilkan tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, melainkan benar-benar dimanfaatkan petani.

"Pak Menteri memberikan apresiasi yang luar biasa kepada para peneliti. Saya siap mendukung dan berkolaborasi agar inovasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani dan pembangunan pertanian Indonesia," ujarnya.

Hilirisasi untuk Meningkatkan Nilai Tambah

Pemerintah menilai hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku kakao, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan riset harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, inovasi yang lahir dari penelitian harus sampai ke tangan petani, meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, dan menciptakan kesejahteraan.

"Penelitian harus menghasilkan sesuatu yang nyata untuk rakyat. Jangan berhenti di laboratorium atau jurnal, tetapi harus sampai ke petani, meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional," tegas Amran.

Harapan Baru bagi Petani Kakao

Di banyak sentra kakao Indonesia, petani masih menghadapi tantangan mulai dari tanaman yang menua, serangan hama, hingga fluktuasi harga.

Karena itu, kehadiran varietas unggul baru memberi harapan baru bagi keluarga-keluarga petani yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.

Jika penyebarannya berjalan luas dan didukung industri hilir yang kuat, lima varietas unggul baru ini berpotensi menjadi fondasi penting bagi kebangkitan kakao nasional—bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan yang lebih besar bagi petani di berbagai daerah. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#hilirisasi kakao #petani kakao indonesia #varietas unggul #amran sulaiman #inovasi