PONTIANAK POST - Upaya menyelamatkan Badak Kalimantan memasuki tahap krusial setelah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Kementerian Kehutanan dan berbagai pemangku kepentingan mempercepat rencana translokasi Pari Mahulu, satu-satunya badak Kalimantan yang masih hidup di alam liar.
Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi di Balikpapan, Senin (8/6), sebagai langkah menyelamatkan salah satu satwa paling langka di Indonesia.
Saat ini, populasi Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) hanya tersisa dua individu betina.
Satu individu bernama Pahu berada di Suaka Badak Kelian dalam pengawasan intensif, sedangkan Pari Mahulu masih bertahan di habitat alaminya di Kabupaten Mahakam Ulu.
Harapan Terakhir Selamatkan Materi Genetik
Kepala BKSDA Kalimantan Timur Ari Wibawanto mengatakan seluruh pihak memahami bahwa penyelamatan Pari Mahulu tidak bisa lagi ditunda.
Menurutnya, setiap langkah harus dirancang secara rinci agar memberi manfaat bagi satwa maupun keberlanjutan program konservasi.
"Semua pihak cukup paham bahwa upaya penyelamatan ini harus segera dilakukan. Kita harus mendetailkan lagi agar upaya penyelamatan bisa memberikan hasil yang berguna bagi badaknya maupun bagi manusianya," ujar Ari, dikutip dari Prokal.co (jaringan Pontianak Post).
Pemerintah dan pegiat konservasi menilai kematian Pari Mahulu di alam tanpa pengawasan akan menghilangkan peluang penyelamatan materi genetik terakhir Badak Kalimantan.
Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, menyebut keberadaan Pari Mahulu sangat penting bagi program pengembangbiakan di masa depan.
"Keberadaan badak di Kalimantan ini hanya tersisa satu ekor yang berada di alam. Karena itu diperlukan langkah komprehensif untuk penyelamatan dan pengembangbiakan selanjutnya," katanya.
Habitat Mahakam Ulu Tetap Dipertahankan
Selain proses translokasi, pemerintah juga memastikan habitat asli Pari Mahulu tetap dilindungi.
Ari menegaskan kawasan hutan di Mahakam Ulu akan diusulkan menjadi areal preservasi kepada pemerintah pusat.
Baca Juga: Habitat Gajah Kalimantan dan Sumatra Terus Menyusut, Kini Tinggal Tersisa 21 Kantong
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga fungsi ekologis kawasan dan membuka peluang pelepasliaran jika program pengembangbiakan berhasil.
"Kami sepakat habitatnya tetap dipertahankan. Harapannya habitat itu tetap terjaga sehingga jika penyelamatan berhasil dan berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran kembali," tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait isu hilangnya kawasan habitat setelah translokasi dilakukan.
Kandang Karantina dan Helikopter Disiapkan
Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert), Kurnia Oktavia Khairani, mengatakan berbagai persiapan teknis terus dikebut untuk meminimalkan risiko pemindahan.
Tim saat ini membangun boma atau kandang karantina dan paddock baru di Suaka Badak Kelian yang akan menjadi tempat tinggal Pari Mahulu setelah dipindahkan.
Badak tersebut akan menjalani masa karantina sekitar tiga bulan sebelum ditempatkan di kandang eksklosur permanen.
"Kami saat ini sedang membangun boma dan paddock baru khusus untuk Pari," ujar Kurnia.
Selain fasilitas, tim juga menyiapkan penggunaan helikopter untuk proses pemindahan serta menyusun prosedur komunikasi yang melibatkan banyak instansi.
Baca Juga: Heboh! Orangutan Masuk Sawah dan Dekati Permukiman Warga di Seponti, Diduga Sedang Terluka
Masyarakat Adat Beri Dukungan Penuh
Program penyelamatan ini mendapat dukungan dari masyarakat adat Kalimantan Timur.
Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur Victor Juan menyatakan pihaknya mendukung penuh penyelamatan dan pengembangbiakan Badak Pari.
Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya menyelamatkan satwa langka, tetapi juga menjaga kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistem Kalimantan.
"Kami mewakili masyarakat adat Kalimantan Timur mendukung penuh upaya penyelamatan dan pengembangbiakan Badak Pari," katanya.
Melalui translokasi ini, pemerintah berharap teknologi reproduksi berbantuan dan penyelamatan materi genetik dapat segera dilakukan agar Badak Kalimantan tetap memiliki peluang bertahan dan berkembang biak di masa depan. (*)
Editor : Efprizan