PONTIANAK POST - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga dapat memicu kenaikan harga berbagai barang secara bertahap.
Hal tersebut disampaikan dr Tirta melalui unggahan di media sosialnya X pada Selasa (10/6), saat menanggapi dampak ekonomi yang muncul setelah kenaikan harga energi.
Menurutnya, kenaikan harga barang umumnya tidak terjadi secara langsung, melainkan bergerak perlahan dari sektor hulu menuju hilir.
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terbesar kepada masyarakat yang memiliki pendapatan tetap dan ruang keuangan yang terbatas.
Kenaikan Harga Terjadi Bertahap
Dalam unggahannya, dr Tirta menjelaskan bahwa kenaikan harga biasanya bermula dari bahan mentah, kemudian merambat ke barang setengah jadi, hingga akhirnya memengaruhi harga barang jadi yang dibeli konsumen.
“Kenaikan barang itu terjadinya perlahan, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, baru bahan jadi,” tulisnya.
Ia menilai kenaikan harga BBM merupakan langkah awal yang dapat menimbulkan efek domino terhadap biaya produksi dan distribusi berbagai komoditas.
Baca Juga: BBM Naik dan Efek Berantai: Logistik Mahal, Harga Barang Meroket
Ketika biaya energi meningkat, pelaku usaha berpotensi menyesuaikan harga untuk menutupi kenaikan biaya operasional.
Kelompok Berpenghasilan Tetap Paling Rentan
Lebih lanjut, dr Tirta menyoroti kelompok masyarakat yang paling terdampak oleh kenaikan harga secara beruntun tersebut.
Menurutnya, tekanan terbesar akan dirasakan oleh masyarakat yang memiliki penghasilan terbatas atau tidak mengalami peningkatan pendapatan di tengah naiknya biaya hidup.
“Yang tercekik itu yang finansialnya dan gajinya terbatas,” ujarnya dalam unggahan tersebut.
Kondisi tersebut terjadi karena daya beli masyarakat dapat tergerus ketika harga kebutuhan terus meningkat sementara pendapatan tidak berubah.
Tiga Pilihan Mengelola Keuangan
Selain itu, dr Tirta juga mengulas prinsip dasar pengelolaan keuangan yang pernah diajarkan dalam perkuliahan ekonomi.
Ia menyebut secara umum terdapat tiga pilihan ketika seseorang menghadapi tekanan keuangan.
Pertama, meningkatkan pendapatan atau mencari sumber pemasukan tambahan. Kedua, mengurangi pengeluaran hingga batas yang memungkinkan. Ketiga, mengajukan pinjaman apabila dua langkah sebelumnya tidak dapat dilakukan.
“Solusi keuangan kan tiga kalau diajari dosen. Tambah revenue (income), kalau tidak bisa, potong pengeluaran (expenses) sampai mentok. Kalau masih tidak bisa, ajukan pinjaman,” tulisnya.
Kenaikan Biaya Hidup Memaksa Penyesuaian Pengeluaran
Menurut dr Tirta, ketika harga BBM dan berbagai kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak ikut naik, sebagian masyarakat pada akhirnya harus melakukan penyesuaian dari sisi pengeluaran.
Ia menyebut kenaikan harga BBM tidak serta-merta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Karena itu, langkah yang paling realistis bagi banyak orang adalah menekan pengeluaran agar kondisi keuangan tetap terkendali.
“Sekarang harga bensin dinaikkan. Langkah berikutnya, potong pengeluaran,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair