Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Titiek Soeharto Soroti Jutaan Ton Beras Tua di Gudang Bulog, Minta Stok di Atas Setahun Dialihkan Jadi Pakan

Basilius Andreas Gas • Kamis, 11 Juni 2026 | 08:52 WIB
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto memberi keterangan kepada awak media usai Rapat Kerja Komisi IV DPR RI dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman serta jajarannya di Jakarta, Rabu (10/6). (ANTARA/Harianto)
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto memberi keterangan kepada awak media usai Rapat Kerja Komisi IV DPR RI dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman serta jajarannya di Jakarta, Rabu (10/6). (ANTARA/Harianto)

PONTIANAK POST- Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, meminta pemerintah tidak lagi menyalurkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang telah tersimpan lebih dari satu tahun untuk program bantuan pangan dan menyarankan stok tersebut dialihkan menjadi pakan guna menjaga mutu cadangan pangan nasional.

Usulan itu disampaikan Titiek dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, di Jakarta, Rabu.

"Saya minta supaya (stok CBP) di atas satu tahun, 1,5 tahun, itu sudahlah buat pakan ajalah Pak. Jangan buat bantuan pangan lagi," kata Titiek.

Menurut dia, percepatan perputaran stok menjadi hal penting agar kualitas beras yang tersimpan di gudang tetap terjaga dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Titiek mengingatkan bahwa sejak awal Komisi IV DPR RI telah mendorong agar usia simpan beras di gudang tidak melebihi enam bulan guna menjaga kualitas sebelum disalurkan kepada masyarakat.

Namun berdasarkan data yang diterimanya, masih terdapat stok beras dengan usia simpan antara satu hingga satu setengah tahun dalam jumlah yang cukup besar.

Ia menyebutkan dari total cadangan beras pemerintah yang mencapai sekitar 5 juta ton, terdapat sekitar 1,3 juta hingga 1,5 juta ton beras yang telah berusia lebih dari satu tahun.

Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi memengaruhi mutu beras yang nantinya digunakan dalam berbagai program pemerintah.

"Ini saya baru minta nih ke staf bapak juga nih yang jawab, bukan saya ngarang-ngarang. Yang umur satu tahun sampai 1,5 tahun itu cukup tinggi. Ada 1,3 juta (ton). Bapak punya stok 5 juta tapi yang warnanya putih tua itu ada 1,5 juta ton," ujarnya.

Titiek juga menyoroti kondisi stok beras di Jawa Timur. Berdasarkan data yang diterimanya, dari sekitar 1,4 juta ton stok yang tersimpan, sebanyak 400 ribu ton di antaranya telah berusia lebih dari satu tahun.

Selain Jawa Timur, kondisi serupa disebut juga ditemukan di Jawa Barat sehingga diperlukan langkah percepatan distribusi agar stok lama segera terserap dan tergantikan oleh stok baru.

Untuk mencegah persoalan yang sama terulang, Titiek kembali menegaskan perlunya pengalihan stok beras yang telah berusia satu hingga satu setengah tahun menjadi pakan dan tidak lagi digunakan sebagai bantuan pangan.

"Ini tolong diperhatiin Pak supaya perputarannya cepat. Jadi enggak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, jangan kasih sasaran tembak. Jadi tolong diperhatiin lagi stoknya Pak, supaya berputarnya lebih cepat lagi," pintanya.

Menanggapi hal tersebut, Amran mengatakan pemerintah telah meminta Perum Bulog melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi cadangan beras yang tersimpan di berbagai gudang.

Ia mengungkapkan telah memanggil Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, sehari sebelum rapat guna memperoleh laporan rinci mengenai kualitas stok beras dan potensi kerusakan yang terjadi.

"Kami sudah panggil Dirutnya kemarin dan tadi pagi baru tiba dari China. Saya katakan, Pak Dirut ini pasti ditanya besok. Ini jangan jangan Bapak yang berbuat, masalahnya ke saya. 'Oh siap Pak Menteri'," kata Amran menirukan percakapannya dengan Direktur Utama Bulog.

Berdasarkan laporan Bulog, jumlah beras yang mengalami kerusakan tercatat sekitar 3.619 ton dari total cadangan beras pemerintah yang saat ini mencapai sekitar 5,3 juta ton.

Selain itu, terdapat sekitar 93.488 ton beras yang memerlukan penanganan khusus. Namun sebagian besar stok tersebut masih dapat diperbaiki kualitasnya sehingga tetap bisa dimanfaatkan.

Amran menjelaskan apabila terdapat beras yang tidak dapat dipulihkan kualitasnya, komoditas tersebut masih dapat diolah menjadi tepung sehingga tetap memiliki nilai ekonomi.

Ia juga mengaku menemukan sejumlah beras dengan mutu kurang baik saat melakukan kunjungan kerja ke daerah. Temuan itu langsung ditindaklanjuti dengan meminta Bulog mengganti stok pada hari yang sama agar tidak sampai diterima masyarakat.

Meski demikian, Amran mengingatkan pentingnya pengelolaan stok secara lebih hati-hati mengingat cadangan beras nasional saat ini berada pada level tinggi berkat peningkatan produksi petani dalam negeri.

"Tapi kami minta Bulog waspada dari sekarang. Kita sudah setengah mati kerja. Ini alhamdulillah ada yang rusak, karena berasnya ada. Kalau dulu tidak rusak karena berasnya kurang," kata Amran. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#komisi iv #DPR RI #pemerintah #beras #Pakan