PONTIANAK POST - Rencana pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan masih saja menjadi perbincangan. Setelah pemerintah berulang kali memasukkan pengembangan perkeretaapian luar Jawa ke dalam agenda pembangunan jangka panjang.
Di balik harapan yang mulia: efisiensi logistik dan konektivitas wilayah, muncul kemudian pertanyaan lain. Bagaimana dampaknya terhadap angkutan truk yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi barang?
Sepanjang penelusuran penulis yang boleh jadi salah, hingga kini belum ada kajian resmi yang menghitung secara spesifik dampak Kereta Api Trans Kalimantan terhadap jumlah sopir truk atau kebutuhan armada angkutan barang.
Tetapi, ada sejumlah data yang menunjukkan bahwa kehadiran kereta api umumnya tidak menghilangkan peran truk, melainkan mengubah pola distribusi barang.
Transportasi Darat Masih Menjadi Tulang Punggung
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut transportasi darat merupakan bagian penting dari sistem transportasi nasional yang berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.
Dalam publikasi Statistik Transportasi Darat 2024, BPS menyajikan data panjang jalan, kendaraan bermotor, kecelakaan lalu lintas, surat izin mengemudi, hingga angkutan kereta api sebagai indikator utama sektor transportasi darat Indonesia.
Kondisi tersebut juga terlihat di Kalimantan yang hingga kini belum memiliki jaringan kereta api antarkota untuk angkutan umum. Akibatnya, distribusi barang antardaerah masih sangat bergantung pada jalan raya dan angkutan truk.
Baca Juga: Akhirnya Tender Masterplan Rampung, Kereta Api Kalimantan Masuk Tahap Baru
Kereta Api Umumnya Mengambil Angkutan Jarak Jauh
Menyadur pada laman World Bank (2025), investasi pada logistik berbasis rel dilakukan oleh banyak negara untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang, menekan biaya transportasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap moda jalan raya.
Menurutnya, kereta api dinilai efektif untuk memindahkan barang dalam volume besar dan jarak jauh. World Bank juga mencatat bahwa pengalihan sebagian angkutan barang dari jalan ke rel dapat membantu mengurangi tekanan terhadap infrastruktur jalan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Truk Tetap Dibutuhkan
Walau begitu, pengalaman internasional menunjukkan kereta api dan truk tidak selalu saling lawan dan menggantikan.
World Bank menekankan pentingnya integrasi antarmoda dalam sistem logistik modern. Dalam skema ini, kereta api digunakan untuk perjalanan utama jarak jauh, sementara truk tetap dibutuhkan untuk mengangkut barang dari terminal kereta menuju gudang, kawasan industri, pelabuhan, pasar, dan konsumen akhir.
Dengan kata lain, apabila suatu saat jaringan kereta api benar-benar dibangun di Kalimantan, peran angkutan truk kemungkinan tidak akan hilang sepenuhnya. Yang berpotensi berubah adalah pola distribusi dan jenis layanan yang dibutuhkan pasar logistik.
Baca Juga: Sarawak Kaji Kereta Api Tiga Negara, IKN Berpeluang Jadi Hub Baru Kalimantan
Menunggu Skema Kereta Api Kalimantan
Hingga hari ini, pemerintah belum merilis rincian operasional jaringan kereta api Kalimantan, termasuk jenis komoditas yang akan menjadi muatan utama, lokasi terminal barang, maupun integrasinya dengan jaringan jalan yang sudah ada.
Karena itu, belum ada data resmi yang dapat menyimpulkan apakah pembangunan kereta api akan mengurangi kebutuhan sopir truk atau justru menciptakan peluang baru dalam distribusi barang.
Yang jelas, berdasarkan pengalaman berbagai negara, pembangunan rel umumnya tidak menghapus peran angkutan jalan, melainkan mengubah cara keduanya bekerja dalam satu sistem logistik yang terintegrasi. (*)
Editor : Miftahul Khair