PONTIANAK POST- Kawasan hutan dan savana di sekitar Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan berada dalam kondisi sangat rentan terhadap kebakaran seiring memasuki musim kemarau, sehingga masyarakat dan pengunjung diminta meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Budy Kurniawan menegaskan bahwa kondisi kering pada musim kemarau dapat dengan cepat memicu meluasnya kebakaran hanya dari percikan api kecil.
"Satu percikan api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang luas dan mengancam keanekaragaman hayati, sumber air, serta keselamatan masyarakat dan pengunjung," kata Budy dalam keterangan tertulis di Mataram, Kamis.
Menurut dia, seluruh masyarakat, pelaku wisata, dan pendaki diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar lahan, membuang puntung rokok sembarangan, maupun menyalakan api tanpa pengawasan.
Ia juga meminta agar setiap pihak segera melaporkan apabila melihat asap, titik api, atau indikasi awal kebakaran di dalam maupun sekitar kawasan hutan.
Budy menegaskan bahwa upaya menjaga kelestarian kawasan Gunung Rinjani tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi merupakan kewajiban bersama seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan tersebut.
"Menjaga Rinjani bukan hanya tugas petugas, tetapi tanggung jawab bersama," ujarnya.
Ia menambahkan, kepedulian dan kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran hutan serta menjaga keberlanjutan ekosistem Gunung Rinjani untuk generasi mendatang.
"Karena satu kelalaian dapat menghanguskan ribuan harapan," kata Budy.
Sementara itu, memasuki musim kemarau 2026, sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan telah tercatat, di antaranya di kawasan Savana Propok Resor Aikmel pada 2 Juni 2026 serta di Bukit Sempana Desa Sembalun Bumbung pada 9 Juni 2026. Petugas telah melakukan upaya penanganan di lokasi kejadian tersebut. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas