Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mamuju Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang, Gubernur Sulbar: Masih Tahap Penelitian

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 15 Juni 2026 | 14:59 WIB
Logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah salah satu mineral yang tersebar di permukaan bumi. Permukaan bumi di zaman dahulu telah berubah seiring berjalannya waktu. (MAE)
Logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah salah satu mineral yang tersebar di permukaan bumi. Permukaan bumi di zaman dahulu telah berubah seiring berjalannya waktu. (MAE)

PONTIANAK POST - Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kembali menjadi sorotan setelah disebut memiliki potensi logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element (REE) yang cukup besar.

Mineral yang menjadi bahan baku kendaraan listrik, pesawat tempur hingga teknologi pertahanan itu bahkan kini dibahas bersama Badan Industri Mineral (BIM), PT Perminas dan Danantara.

Namun, di balik potensi besar itu, ada satu kenyataan yang diingatkan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka: pengembangannya kemungkinan masih membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun.

Baca Juga: Kalbar Dilirik untuk Industri Logam Tanah Jarang, Pakar Ungkap Tantangan Besar Sebelum Hilirisasi

Mamuju Disebut Punya Cadangan LTJ yang Besar

Potensi logam tanah jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju mulai mendapat perhatian serius pemerintah pusat.

Hal itu terungkap setelah Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menghadiri rapat bersama Badan Industri Mineral (BIM), PT Perminas dan Danantara di Jakarta yang membahas pengembangan mineral strategis nasional tersebut.

“Saya dipanggil ke Jakarta untuk rapat bersama Badan Industri Mineral, PT Perminas, dan Danantara terkait tanah jarang. Dalam rapat tanggal 13 Mei lalu, saya mendengarkan paparan mengenai potensi LTJ di Mamuju,” kata Gubernur, Suhardi Duka dikutip dari Sulbar Digital (21/5).

Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki cadangan logam tanah jarang yang cukup besar dan berpotensi menjadi aset strategis nasional pada masa depan.

Baca Juga: Kalbar Berpeluang Jadi Pemain Baru Logam Tanah Jarang, Pakar UGM Ungkap Potensinya

Mengapa Logam Tanah Jarang Jadi Rebutan Dunia?

Logam tanah jarang merupakan kelompok mineral yang kini menjadi rebutan banyak negara karena digunakan dalam berbagai produk teknologi modern.

Mulai dari kendaraan listrik, turbin angin, telepon pintar, hingga peralatan pertahanan seperti pesawat tempur dan sistem peluru kendali.

“Mineral tanah jarang sangat dibutuhkan dunia saat ini dan menjadi komponen penting dalam berbagai industri modern,” ujar Suhadi Duka.

Ia menilai, negara yang memiliki cadangan dan kemampuan mengolah logam tanah jarang akan memiliki posisi strategis dalam peta geopolitik global.

Menurutnya, pengembangan logam tanah jarang di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama pada aspek teknologi pengolahan.

“Teknologi pengolahan LTJ masih banyak dikuasai Cina. Indonesia belum memiliki teknologi itu, sementara negara lain seperti Amerika Serikat juga masih bergantung pada Cina,” katanya.

Baca Juga: Alasan Di Balik China Mendominasi Logam Tanah Jarang, Apa Peluang Kalimantan ke Depan?

Pengembangannya Diperkirakan Masih 10-20 Tahun

Lebih lanjut, Gubernur tersebut menjelaskan, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) masih melakukan penelitian mengenai teknologi pengolahan logam tanah jarang dalam skala laboratorium.

Karena itu, pengembangan LTJ di Mamuju masih berada pada tahap penelitian dan belum memasuki fase produksi industri.

“Jadi LTJ di Mamuju ini masih dalam tahap penelitian. Teknologi yang ada sekarang masih skala laboratorium dan masih akan diuji untuk pengembangan lebih lanjut,” ujarnya.

Gubernur Suhardika bahkan memperkirakan pengembangan LTJ di Mamuju masih membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Baca Juga: Kabupaten Mana di Kalimantan yang Paling Berpotensi Simpan Logam Tanah Jarang? Ini Daftarnya

“Pengembangan LTJ di Mamuju kemungkinan masih membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun ke depan,” ungkapnya.

Saat ini, penelitian baru dilakukan di area sekitar 10 hektare, meskipun terdapat delapan blok kawasan yang dinilai memiliki potensi logam tanah jarang di Kabupaten Mamuju.

“Yang berjalan sekarang baru penelitian sekitar 10 hektare. Jadi nuansanya masih penelitian dan eksplorasi awal,” pungkasnya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Logam tanah jarang #Rare Earth Elements #Tambang Nikel #Mamuju