Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bahlil Siapkan Kompor Listrik Daya Rendah untuk Rumah Tangga, Target Kurangi Ketergantungan Impor LPG

Uray Ronald • Senin, 15 Juni 2026 | 22:18 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia didampingi Seskab Teddy dalam keterangan pers, Istana Merdeka, 16 April 2026. (YOUTUBE)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (YOUTUBE)

 

PONTIANAK POST – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan program kompor listrik berdaya di bawah 900 VA untuk rumah tangga. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang terus membebani anggaran negara.

Kebijakan tersebut disampaikan Bahlil usai Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6). Program ini ditujukan agar masyarakat di daerah dan desa dapat menggunakan energi yang lebih efisien serta memanfaatkan pasokan listrik nasional yang tersedia.

“Sebagai tahap awal, karena ada beberapa model kompor listrik, yang sekarang kami minta itu di sekitar di bawah 900 kVA, supaya rakyat yang di daerah-daerah, di desa itu bisa pakai,” kata Bahlil dikutip dari Antara.

Meski demikian, pemerintah belum menetapkan jumlah unit kompor listrik yang akan disediakan. Kepastian mengenai target distribusi diperkirakan baru diumumkan pada Agustus mendatang.

Baca Juga: Menteri ESDM Usulkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik demi Kurangi Impor LPG

Ketergantungan LPG Dinilai Membebani Keuangan Negara

Bahlil menjelaskan sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut membuat Indonesia harus mengeluarkan devisa dalam jumlah besar setiap tahun.

Menurutnya, nilai impor LPG saat ini mencapai sekitar Rp120 triliun per tahun. Dengan harga energi global yang masih berfluktuasi, angka tersebut berpotensi meningkat hingga Rp130 triliun.

Selain biaya impor, pemerintah juga harus menanggung beban subsidi LPG yang nilainya telah melampaui Rp80 triliun.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi masalah. Maka, alternatifnya adalah kompor listrik,” ujar Bahlil.

Pemerintah Usulkan Anggaran Rp815 Miliar

Sebagai bentuk keseriusan menjalankan program tersebut, Kementerian ESDM mengusulkan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung implementasi program kompor listrik sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi nasional.

Pemerintah menilai pemanfaatan listrik domestik dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi rumah tangga.

Wacana Lama yang Kembali Menguat

Rencana pengalihan penggunaan kompor LPG ke kompor listrik sebenarnya bukan hal baru. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, program serupa pernah digulirkan sebagai bagian dari transformasi energi nasional.

Namun pada September 2022, PT PLN (Persero) memutuskan membatalkan program konversi kompor LPG 3 kilogram ke kompor listrik. Keputusan itu diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat yang saat itu masih dalam masa pemulihan pascapandemi Covid-19.

Kini, wacana tersebut kembali mengemuka seiring meningkatnya tekanan terhadap anggaran subsidi energi dan ketidakpastian harga energi global.

Baca Juga: Prabowo Perintahkan Percepatan Transisi LPG ke CNG, Fokus Jaga Ketahanan Energi dan Daya Beli Rakyat

Dorongan Percepatan Transisi Energi

Dorongan penggunaan kompor listrik juga datang dari Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno. Ia menilai biaya transisi ke kompor listrik lebih ekonomis dibandingkan beban subsidi LPG yang terus meningkat.

Menurut Eddy, harga LPG sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Ketika terjadi gejolak geopolitik internasional dan harga energi melonjak, beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah ikut membesar.

Karena itu, transisi menuju penggunaan energi listrik di sektor rumah tangga dinilai dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Dampak bagi Masyarakat

Bagi jutaan keluarga Indonesia, kebijakan ini bukan sekadar perubahan alat memasak. Program tersebut berpotensi memengaruhi pola konsumsi energi rumah tangga, pengeluaran bulanan keluarga, hingga akses masyarakat desa terhadap energi yang lebih modern.

Di sisi lain, keberhasilan program akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur listrik, keterjangkauan harga perangkat, serta edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan kompor listrik secara aman dan efisien.

Kompor Listrik Berpotensi Lebih Efisien, Namun Perlu Dukungan untuk Keluarga Miskin

Menurut laporan IESR, Fabby Tumiwa, dari Institute for Essential Services Reform, menilai penggunaan kompor listrik, khususnya kompor induksi, secara teknis lebih efisien dibandingkan LPG karena energi panas yang dihasilkan lebih banyak terserap langsung ke peralatan masak. 

Menurutnya, biaya memasak dengan kompor listrik dapat lebih rendah dibandingkan LPG dalam kondisi tertentu.

Namun, Fabby mengingatkan bahwa tantangan terbesar bagi keluarga berpenghasilan rendah bukan semata biaya operasional, melainkan investasi awal untuk membeli kompor listrik dan peralatan masak yang kompatibel.

Harga kompor induksi umumnya lebih mahal dibandingkan kompor gas konvensional sehingga memerlukan dukungan pemerintah apabila ingin diterapkan secara luas kepada masyarakat penerima subsidi energi. 

Sejumlah kajian dan simulasi biaya rumah tangga menunjukkan kompor induksi dapat menghemat biaya energi sekitar 10–15 persen dibandingkan LPG non-subsidi karena tingkat efisiensinya yang lebih tinggi.

Namun bagi pengguna LPG 3 kilogram bersubsidi, biaya memasak masih relatif lebih murah karena adanya subsidi pemerintah yang besar pada harga tabung gas. 

Baca Juga: Bahlil Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik, Pemerintah Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Testimoni Pelaku UMKM: Memasak Lebih Cepat dan Pengeluaran Lebih Terkendali

Manfaat kompor induksi telah dirasakan sejumlah pelaku usaha mikro yang mengikuti program percontohan PLN. Di kawasan wisata Pantai Lampuuk, Aceh Besar, sebanyak 83 pelaku UMKM kuliner telah menggunakan kompor induksi selama lebih dari satu tahun.

Ketua pengelola wisata kuliner setempat, Anisrullah, mengaku proses memasak menjadi lebih cepat, lebih hemat, dan lebih bersih dibandingkan saat menggunakan LPG. 

Di tingkat rumah tangga, sejumlah pengguna kompor induksi yang berbagi pengalaman di forum daring menyebut tagihan listrik bulanan tetap terkendali meskipun seluruh aktivitas memasak dilakukan menggunakan listrik.

Mereka menilai keuntungan utama kompor induksi bukan hanya penghematan biaya, tetapi juga kemudahan penggunaan, kebersihan dapur, dan berkurangnya risiko kebocoran gas.

Meski demikian, sebagian pengguna mengingatkan perlunya daya listrik yang memadai dan penggunaan peralatan masak khusus agar kinerja kompor tetap optimal. *

Editor : Uray Ronald
#konversi LPG ke listrik #subsidi LPG #impor LPG Indonesia #bahlil lahadalia #kompor listrik