PONTIANAK POST - Kalimantan dikenal sebagai satu-satunya pulau besar di Indonesia yang belum memiliki jaringan kereta api umum.
Di tengah ketertinggalan itu, ada sebuah peluang yang justru tidak dimiliki oleh daerah lain. Pembangunan sistem perkeretaapian yang lebih hijau, modern, dan rendah emisi.
Pemerintah pun mulai memasukkan pengembangan Kereta Api Trans Kalimantan sebagai bagian dari strategi besar pemerataan infrastruktur nasional.
Kereta Api Tak Lagi Sekadar Alat Transportasi
Pemerintah terus mempercepat pengembangan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa, termasuk Trans Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Langkah tersebut bukan hanya untuk memperkuat konektivitas nasional, tetapi juga menekan biaya logistik dan mendorong pemerataan pembangunan antar wilayah.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), pernah mengatakan bahwa pengembangan kereta api kini menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam bidang infrastruktur dan pembangunan kewilayahan.
Menurutnya, pengembangan jaringan rel di luar Jawa sedang dirumuskan secara komprehensif bersama berbagai kementerian dan lembaga.
“Kereta api kita harapkan bisa berperan lebih besar, bukan hanya untuk penumpang, melainkan juga untuk angkutan barang. Dengan begitu, biaya logistik bisa ditekan dan produktivitas daerah meningkat,” ujar AHY dikutip dari laman Kemenko Bidang Infra (22/4).
Berpeluang Terapkan Teknologi Baru
Di saat Pulau Jawa telah memiliki jaringan rel yang padat dan Sumatra terus mengembangkan konektivitas antardaerah, Kalimantan masih belum memiliki jaringan kereta api umum.
AHY mengakui kondisi tersebut masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Menurutnya, Sumatra sudah memiliki jaringan rel meski belum sepenuhnya terhubung.
Sulawesi masih terbatas, sementara Kalimantan bahkan belum mempunyai jaringan kereta api sama sekali.
Namun, belum adanya rel justru bisa menjadi keuntungan tersendiri.
Tanpa terbebani infrastruktur lama, Kalimantan memiliki peluang untuk langsung mengadopsi teknologi perkeretaapian terbaru. Pembangunan dapat dirancang dengan sistem persinyalan digital, operasi yang lebih otomatis, hingga penggunaan kereta listrik atau teknologi energi bersih lainnya.
Baca Juga: Hal-Hal Terbaru tentang Proyek Kereta Api Kalimantan
Artinya, Kalimantan tidak harus mengikuti jejak pembangunan kereta api konvensional seperti yang dilakukan puluhan tahun lalu.
Pulau ini justru berpeluang melompat langsung ke sistem transportasi masa depan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Emisi Kereta Api Jauh Lebih Rendah
Salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan kereta api adalah karena moda transportasi ini dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan transportasi jalan.
AHY mengungkapkan kontribusi emisi karbon dari sektor perkeretaapian sangat kecil, yakni kurang dari 1 persen.
Baca Juga: Peluang Kereta Api Kalimantan Makin Terbuka, BRIN Kembangkan Teknologi Baru untuk Infrastruktur Rel
“Kontribusi emisi dari kereta api sangat kecil, kurang dari 1 persen, dibandingkan transportasi darat berbasis jalan yang mencapai sekitar 89 persen. Artinya, pengembangan kereta juga sejalan dengan upaya kita mengurangi emisi karbon,” ungkapnya.
Dengan kondisi geografis yang masih didominasi hutan dan kawasan konservasi, penerapan transportasi rendah emisi menjadi isu penting bagi Kalimantan. (*)
Editor : Miftahul Khair