PONTIANAK POST – Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi di bidang kemaritiman. Melalui tim peneliti dari Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), ITS mengembangkan kapal pembersih sampah tanpa awak yang telah menjalani uji coba di perairan Bali dan Kalimantan.
Inovasi tersebut lahir dari keprihatinan para peneliti terhadap meningkatnya persoalan sampah laut yang mengancam ekosistem perairan Indonesia. Selain menjadi solusi teknologi, kapal ini diharapkan dapat membantu masyarakat pesisir menangani sampah secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Berawal dari Persoalan Sampah Laut
Rektor ITS, Bambang Pramujati, mengatakan pengembangan kapal pembersih sampah merupakan bentuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Menurut dia, masalah sampah di perairan bukan hanya menjadi perhatian pemerintah dan pemerhati lingkungan, tetapi juga dunia akademik yang memiliki tanggung jawab menghadirkan solusi.
"Jadi ini teknologinya sederhana, tetapi InsyaAllah manfaatnya besar, sehingga itu sesuai dengan cita-cita kami sebagai kampus yang berdampak," ujarnya di Kampus ITS, Jumat (12/6), dilansir dari Jawa Pos (grup Pontianak Post).
Dirancang untuk Masyarakat Pesisir
Ketua tim peneliti kapal pembersih sampah tanpa awak, Hasanudin, menjelaskan inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab ancaman pencemaran mikroplastik yang semakin mengkhawatirkan.
Menurut dia, sampah kiriman yang menumpuk di kawasan pesisir dapat mengganggu keberlanjutan ekosistem laut apabila tidak segera ditangani.
"Sampah kiriman di wilayah pesisir menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hayati. Jika tidak ditangani segera, ekosistem laut kita jadi taruhan," katanya.
Kapal tersebut dirancang dengan konsep sederhana agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat setempat. Desainnya juga disesuaikan dengan kebutuhan warga pesisir sehingga tidak memerlukan teknologi yang rumit dalam pengoperasiannya.
Mampu Dikendalikan dari Jarak 1 Kilometer
Pada bagian depan kapal dipasang sirip pengarah yang berfungsi mengumpulkan sampah ke dalam keranjang penampung saat kapal bergerak. Sistem kendali kapal menggunakan remote control yang dapat dioperasikan hingga jarak sekitar satu kilometer.
Hasanudin menjelaskan, teknologi yang digunakan sengaja dibuat efisien agar biaya operasional dan perawatan tetap terjangkau.
"Kami sengaja mendesain kapal tanpa awak ini dengan sistem yang sederhana namun kuat, karena memang ditargetkan untuk masyarakat pesisir," ujarnya.
Telah Diuji di Bali dan Kalimantan
Hingga saat ini, tim FTK ITS telah mengembangkan dua unit kapal pembersih sampah tanpa awak. Kedua kapal tersebut memiliki panjang sekitar delapan meter dan dirancang lebih tangguh menghadapi kondisi gelombang laut terbuka.
Uji coba lapangan telah dilakukan di wilayah pesisir Bali dan Kalimantan. Selain berfungsi mengangkut sampah, kapal juga dilengkapi alat pencacah sampah, kamera CCTV, serta sumber energi berbasis panel surya.
"Kapal pembersih sampah tanpa awak ini sudah diuji coba di Bali dan Kalimantan. Kami lengkapi dengan alat pencacah sampah, sistem pemantauan CCTV, serta suplai energi ramah lingkungan berbasis panel surya," jelas Hasanudin.
Siap Dikembangkan dengan Teknologi AI
Dalam pengembangan berikutnya, tim peneliti ITS berencana menambahkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut akan memungkinkan kapal mendeteksi lokasi penumpukan sampah secara otomatis dan meningkatkan efisiensi pembersihan perairan.
Inovasi kapal pembersih sampah tanpa awak yang dikembangkan ITS hadir di tengah upaya nasional mengurangi pencemaran laut. Berdasarkan target pemerintah dalam Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut, Indonesia menargetkan pengurangan sampah plastik yang masuk ke laut hingga 70 persen. Sementara itu, KKP menyebut kebocoran sampah ke laut masih mencapai ratusan ribu ton setiap tahun sehingga dibutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi untuk mempercepat penanganannya. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro