Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Tak Perlu Ruang Rapat, Dua Gubernur Kalimantan Pilih Meja Durian untuk Bicara Kerja Sama

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 22 Juni 2026 | 11:41 WIB
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, berbincang dengan Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, saat menikmati durian Balai Karangan (BK) di Bazar Durian BK, Pontianak, Sabtu (20/6/2026). (ISTIMEWA)
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, berbincang dengan Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, saat menikmati durian Balai Karangan (BK) di Bazar Durian BK, Pontianak, Sabtu (20/6/2026). (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Tak ada undangan resmi, tak ada susunan acara, tak ada mikrofon di atas podium. Yang ada hanya aroma durian Balai Karangan yang menyeruak di udara malam Pontianak, dan dua gubernur yang duduk santai, bicara lepas, tanpa sekat birokrasi.

Itulah yang terjadi di Bazar Durian BK, Jalan Gusti Hamzah, Sabtu malam (20/6), ketika Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dan Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang memilih bazar kuliner sebagai tempat membahas masa depan kerja sama dua provinsi.

Ketika Meja Makan Lebih Efektif dari Ruang Rapat

Bagi sebagian pemimpin daerah, agenda kerja sama antarprovinsi lazimnya dimulai dari surat-menyurat formal, dijadwalkan berminggu-minggu sebelumnya, dan digelar di ruang berpendingin udara dengan deretan pejabat berdasi. Ria Norsan rupanya punya cara pandang berbeda.

Baca Juga: ‎Ria Norsan dan Gubernur Kaltara Nikmati Durian Bersama, Sembari Bahas Peluang Kerja Sama Antarprovinsi

“Pertemuan seperti ini penting untuk membangun komunikasi yang lebih cair dan produktif antarpemimpin daerah. Silaturahmi menjadi salah satu sarana memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan dan kemajuan kawasan Kalimantan,” ujarnya malam itu.

Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan filosofi yang tidak ringan: bahwa kepercayaan dan kerja sama antardaerah tidak selalu lahir dari dokumen, ia bisa tumbuh dari percakapan yang hangat, dari kebersamaan yang tulus.

Tren Diplomasi Informal Pemimpin Daerah

Fenomena ini bukan hanya milik Ria Norsan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kepala daerah di Indonesia mulai meninggalkan pendekatan birokrasi yang kaku dan beralih ke model komunikasi yang lebih personal dan membumi.

Pertemuan di warung kopi, kunjungan ke pasar tradisional, hingga makan bersama di kedai pinggir jalan semuanya kini dibaca bukan sebagai ketidakformalan, melainkan sebagai strategi membangun kedekatan yang genuine, yang sulit diciptakan di balik meja rapat.

Baca Juga: Ria Norsan Resmi Pimpin Mabida Pramuka Kalbar, Tekankan Pembinaan Generasi Muda Berkarakter  

Psikologi komunikasi mengenal konsep ini: orang lebih terbuka dan jujur ketika berada dalam situasi yang nyaman dan setara. Tidak ada hierarki di depan sepiring durian.

Dari Obrolan Santai ke Agenda Konkret

Yang menarik, pertemuan malam itu bukan sekadar basa-basi. Di balik canda dan tawa, Ria Norsan dan Zainal Arifin Paliwang membahas sejumlah isu yang sangat konkret. Pengembangan ekonomi daerah, pariwisata, olahraga, hingga peningkatan kualitas SDM di Kalimantan.

Ketua KONI Kalbar Daud Yordan pun hadir, sebuah sinyal bahwa sektor olahraga menjadi salah satu pintu masuk kolaborasi yang serius antara Kalbar dan Kaltara.

Bahkan durian BK yang tersaji malam itu ikut masuk dalam diskusi, potensinya sebagai komoditas ekonomi masyarakat yang perlu dikembangkan bersama menjadi salah satu topik yang diperbincangkan dua gubernur dengan pemilik bazar.

Pemimpin yang Turun ke Tanah

Ada sesuatu yang simbolik dari malam itu. Dua gubernur yang memimpin wilayah seluas ratusan ribu kilometer persegi, duduk di bazar terbuka, ditemani warga biasa yang juga sedang menikmati durian musiman.

Tidak ada pagar pembatas. Tidak ada pengamanan berlebihan. Kedatangan mereka menarik perhatian pengunjung, bukan karena protokol, tapi karena kehadiran yang terasa nyata dan dekat.

Baca Juga: Mengapa Kereta Api Kaltara Dinilai Penting? Proyek Rp25 Triliun Ini Diproyeksikan Serap 2.000 Pekerja Lokal

Di era ketika jarak antara pemimpin dan rakyat kerap terasa melebar, momen seperti ini punya pesan tersendiri.

Bahwa kepemimpinan yang efektif tidak selalu soal seberapa besar ruang rapat yang dimiliki, tapi seberapa mau seorang pemimpin untuk duduk setara, mendengar, dan berbicara dari hati. (*)

Editor : Miftahul Khair
#gubernur kaltara #zainal arifin #ria norsan #durian #gubernur kalbar