PONTIANAK POST - Nyobeng bukan sekadar pesta panen, melainkan denyut budaya yang menjaga persaudaraan lintas negara dan menghidupkan perbatasan Indonesia.
Aroma embun masih terasa di perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Saat pagi menyapa kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia itu, warga Dayak Bidayuh mulai berjalan menuju ladang di lereng-lereng bukit.
Bagi mereka, ladang bukan sekadar tempat bercocok tanam, tetapi ruang yang menjaga identitas dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Dari hasil panen padi itulah lahir Nyobeng, tradisi syukur terbesar masyarakat Dayak Bidayuh yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Baca Juga: Ratusan Warga Malaysia Hadiri Nyobeng, Ritual Leluhur Dayak Bidayuh Tetap Hidup di Perbatasan
Setelah padi tersimpan di lumbung, masyarakat memasuki masa gawai adat yang menjadi puncak rasa syukur atas hasil panen sekaligus penghormatan kepada leluhur.
“Nyobeng dilaksanakan setelah masyarakat selesai panen. Ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur yang menjaga kampung dan kehidupan masyarakat,” kata Kepala Dusun Sebujit Baru, Novel Andika.
Di tengah kampung berdiri Rumah Baluk, rumah adat yang menjadi pusat pelaksanaan ritual. Denting gong, tarian tradisional, dan cerita para tetua kepada generasi muda menjadikan Nyobeng sebagai ruang pewarisan nilai dan penguat ikatan sosial di tengah arus modernisasi.
Persaudaraan Lintas Negara
Keunikan Nyobeng tidak hanya terletak pada ritualnya, tetapi juga pada kuatnya hubungan masyarakat Dayak Bidayuh yang melampaui batas Indonesia-Malaysia.
Baca Juga: ICDN dan Kejari Sintang Perkuat Literasi Hukum dan Edukasi Masyarakat
Setiap perayaan digelar, ribuan kerabat dari Sarawak datang ke Desa Hlibuei. Batas negara seolah memudar ketika keluarga yang lama terpisah kembali berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Rumah-rumah warga dipenuhi hidangan khas, kopi, dan tuak untuk menyambut tamu. Anak-anak bermain bersama tanpa mempersoalkan kewarganegaraan, sementara orang tua mengenang ikatan keluarga yang telah terjalin jauh sebelum lahirnya batas negara modern.
“Di balik kemeriahan budaya tersebut, Nyobeng juga menghadirkan manfaat ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat,” ujar Novel.
Baca Juga: Pengakuan Hutan Adat dan Hak Kelola Masyarakat Jadi Kunci Kelestarian Hutan di Sintang
Ribuan pengunjung yang datang setiap tahun menciptakan perputaran ekonomi baru. Warga menjual makanan tradisional, hasil kebun, kerajinan tangan, hingga menyediakan jasa transportasi dan penginapan sederhana.
Tahun ini, lebih dari 300 kendaraan roda empat dari luar daerah memadati Desa Hlibuei. Ribuan pengunjung dari Kalbar dan Malaysia datang untuk menyaksikan tradisi yang tumbuh alami dari kehidupan masyarakat perbatasan.
“Keaslian itulah yang kini menjadi daya tarik utama wisata budaya di berbagai belahan dunia,” kata Novel.
Atraksi Unik yang Mendunia
Dewan Adat Dayak (DAD) Bengkayang menilai Nyobeng sebagai warisan budaya yang berhasil dipertahankan dengan baik. Perwakilan DAD Bengkayang, Rudi MPD, mengatakan Nyobeng 2026 menjadi kebanggaan bersama masyarakat Dayak, khususnya Suku Bidayuh. “Nyobeng bukan hanya milik satu kelompok, tetapi warisan budaya kita bersama,” katanya.
Baca Juga: Bupati Karolin Tutup Senakin Roah Cup 2026 dan Tekankan Pentingnya Menjaga Adat Dayak
Salah satu atraksi yang paling menarik perhatian adalah panjat bambu “putar balik”, yang disebut sebagai satu-satunya di dunia dan menjadi ikon khas Bengkayang. “Dibutuhkan kekuatan, konsentrasi, dan ketahanan fisik yang tinggi untuk melakukan atraksi ini,” ujarnya.
Tahun ini, Nyobeng juga menarik wisatawan dari Malaysia, India, dan Thailand. “Ini menunjukkan bahwa budaya Nyobeng sudah dikenal luas hingga mancanegara,” kata Rudi.
Pariwisata dan Infrastruktur
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menilai Nyobeng telah berkembang menjadi aset strategis yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat perbatasan. “Kita ingin kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang lebih baik. Karena itu perlu penataan bersama agar ke depan bisa menarik lebih banyak wisatawan,” katanya.
Baca Juga: Persiapan Gawai Adat Dayak Sanggau Hampir Sempurna, Panitia Matangkan Agenda Budaya di Rumah Betang
Pemerintah daerah mulai mempersiapkan berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, sanitasi, ruang publik, hingga akses menuju lokasi kegiatan tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang menjadi kekuatan utama Nyobeng.
Dukungan serupa datang dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi mengatakan pengembangan destinasi perbatasan diarahkan pada konsep pariwisata berkelanjutan.
“Kita terus mendorong perbaikan destinasi wisata dengan menjaga kebersihan lingkungan, kenyamanan pengunjung, serta penyediaan sanitasi yang memadai,” katanya. Menurut Sugeng, posisi Kalbar yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuka peluang besar bagi pengembangan wisata lintas batas berbasis budaya dan kearifan lokal.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan, Nyobeng tidak hanya menjadi benteng pelestarian budaya Dayak Bidayuh, tetapi juga motor penggerak ekonomi masyarakat di beranda terdepan Indonesia. (*/ant)
Editor : Hanif