PONTIANAK POST - Selama bertahun-tahun, truk-truk bermuatan penuh batu bara dan tandan buah segar kelapa sawit menjadi pemandangan sehari-hari di jalan-jalan Kalimantan Utara.
Akibatnya bisa ditebak, mulai dari jalan cepat rusak, biaya logistik membengkak, dan daya saing komoditas daerah tergerus sebelum sampai ke pelabuhan.
Kini, Pemerintah Provinsi Kaltara mulai meletakkan fondasi untuk mengubah gambaran itu.
Baca Juga: Kereta Api Rp25 Triliun di Kaltara: Bisakah Membuka Lapangan Kerja bagi Warga Lokal?
Kereta Jadi Solusi Efisiensi Batu Bara dan Sawit
Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kantor Gubernur Kaltara, Kamis (11/6/2026), Pemprov bersama investor dan sejumlah perusahaan membahas serius rencana pembangunan kereta api logistik.
Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang, menegaskan bahwa kereta api bukan sekadar proyek infrastruktur biasa.
Baginya, rel kereta adalah kunci untuk membuka efisiensi yang selama ini tersumbat oleh ketergantungan pada angkutan jalan darat.
“Bagi pelaku usaha batu bara maupun sawit nantinya bisa memanfaatkan kereta api yang akan dibangun ini sehingga biaya angkut mereka lebih murah,” ujar Zainal saat membuka FGD dikutip dari Benuanta (12/6).
Baca Juga: Kereta Api Trans Sumatra Belum Juga Dibangun, Padahal Lahan Disebut Sudah Disiapkan Sejak Era Jokowi
Sekatak – Mangkupadi - Tanah Kuning
Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltara, Rahman Putrayani, menjelaskan bahwa pembahasan saat ini masih berada pada tahap penyamaan persepsi antara pemerintah, investor, dan calon pengguna jasa angkutan.
Namun arah pembangunan sudah mulai jelas. Tahap awal proyek direncanakan berpusat di Kabupaten Bulungan, dengan jalur yang menghubungkan kawasan Sekatak hingga Mangkupadi, lalu terkoneksi ke kawasan industri Tanah Kuning, salah satu simpul industri strategis di Kaltara.
“Hari ini kita ingin menyamakan persepsi dulu. Fokus utama kita memang logistik karena kebutuhan angkutan komoditas di Kaltara cukup besar,” kata Rahman.
Ia optimistis proyek ini akan mendapat dukungan luas, mengingat nilai investasi yang masuk ke Kaltara hingga triwulan pertama 2026 telah menembus angka Rp11 triliun.
Kehadiran infrastruktur rel dinilai akan semakin memperkuat daya tarik investasi daerah sekaligus membuka akses transportasi yang lebih efisien bagi dunia usaha.
PKS dan Feasibility Study Jadi Langkah Awal
Sebelum proyek memasuki tahap pembangunan fisik, Gubernur Zainal menyebut dua langkah awal yang akan segera dijalankan: menyiapkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT Indonesia Transit Synergy (INTRA), serta menyusun studi kelayakan atau feasibility study yang akan menjadi peta jalan teknis proyek ini.
“Kita akan menyiapkan PKS dengan PT INTRA dan membuat feasibility study untuk berlangsungnya kegiatan real kereta api di Kalimantan Utara,” kata Zainal.
Langkah terukur ini menunjukkan bahwa Pemprov Kaltara tidak ingin terburu-buru, namun juga tidak mau berlama-lama di tataran wacana.
Mimpi Lebih Besar: Penumpang hingga Jalur Rel Lintas Brunei
Yang membuat proyek ini terasa lebih ambisius bukan hanya soal batu bara dan sawit. Pemprov Kaltara menyimpan visi jangka panjang.
Gubernur Kaltara berharap suatu saat, jalur yang bermula dari angkutan barang ini bisa berkembang menjadi sarana transportasi penumpang.
Lebih jauh lagi, komunikasi awal dengan Brunei Darussalam terkait konektivitas kereta api antarnegara di Pulau Kalimantan pun telah dijajaki.
“Mudah-mudahan nanti rel kereta api untuk barang bisa berkembang menjadi rel kereta api untuk penumpang juga,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair