Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Sebelum Rel Kereta Kalimantan Terpasang, Pelajar SMTI Pontianak Sudah Siapkan Sistem Keselamatannya

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 26 Juni 2026 | 11:17 WIB
Ilustrasi perlintasan kereta api. (Dok JAWA POS)
Ilustrasi perlintasan kereta api. (Dok JAWA POS)

PONTIANAK POST - Kalimantan belum punya satu pun kilometer rel kereta aktif. Tapi di sebuah ruang belajar sederhana di SMTI Pontianak, dua pelajar kelas X sudah sibuk merancang sistem keselamatan perlintasannya.

Itulah gambaran Indra Setyawan dan Faridh Zulfahmi. Dua remaja yang tanpa menunggu keretanya ada, sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi era perkeretaapian Kalimantan yang kini tengah digagas pemerintah pusat.

Mereka adalah potret kecil dari pertanyaan besar yang belum dijawab. Ketika rel Trans-Kalimantan kelak terpasang, siapa SDM lokal yang akan mengoperasikan, merawat, dan mengamankannya?

Baca Juga: Kereta Api Trans Sumatera Jadi Perbincangan Warganet: Proyek yang Lain Cepat Jalan, Ini Masih Sebatas Wacana

Nol Kilometer, Tapi Rencana Sudah Raksasa

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY mengungkapkan bahwa hingga saat ini Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api, sehingga panjang jalur di wilayah tersebut masih tercatat nol kilometer.

Namun di balik angka nol itu, ambisi yang sedang dibangun sangatlah besar. Dalam laman resmi Kemenkoinfra, AHY menegaskan pemerintah terus mempercepat pengembangan jaringan perkeretaapian Trans Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Langkah tersebut dinilai strategis untuk memperkuat konektivitas nasional, menekan biaya logistik, dan mendorong pemerataan pembangunan.

Pemerintah berencana membentuk komite lintas kementerian untuk menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional agar pengembangannya lebih terarah dan terintegrasi.

Baca Juga: Seabad Menunggu Janji, Nol Rel: Menelusuri Wacana Kereta Api Kalimantan Barat dari Masa ke Masa

Proyek ini bukan skala kecil, ia menyentuh seluruh ekosistem transportasi Pulau Kalimantan yang selama ini sepenuhnya bertumpu pada jalan darat.

SDM Lokal yang Tidak Menunggu

Ketika konstruksi dimulai, Kalimantan tidak hanya butuh baja dan bantalan rel. Ia butuh manusia alias sumber dayanya (SDM). Di sinilah Indra dan Faridh berdiri sebagai contoh SDM lokal.

Keduanya adalah siswa SMTI Pontianak, sekolah menengah teknik industri yang mencetak tenaga vokasional di Kalimantan Barat.

Ketika guru menunjuk keduanya untuk mengikuti lomba keselamatan lalu lintas, mereka tidak memilih tema yang mudah. Mereka justru menggali persoalan perlintasan kereta api, sebuah infrastruktur yang bahkan belum ada di tanah mereka sendiri.

“Kami mencari ide yang sesuai dengan tema keselamatan lalu lintas. Akhirnya kami mengembangkan Smart Barrier Lidar untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api,” kata Indra.

Yang mereka hasilkan bukan sekadar maket pajangan. Prototipe Smart-Barrier Lidar memanfaatkan tiga sensor di titik berbeda pada jalur kereta.

Baca Juga: Prediksi Skor dan Susunan Pemain Jerman vs Pantai Gading: Die Mannschaft Harus Redam ”Kereta Ekspres” Les Elephants

Sensor itu mendeteksi kedatangan kereta dan memberi peringatan otomatis. Bila ada kendaraan terjebak di perlintasan, palang pintu terbuka kembali secara otomatis sekaligus mengirim notifikasi bahaya langsung ke masinis.

“Ketika kereta terdeteksi berada pada jarak tertentu, sistem akan memberikan peringatan. Jika ada kendaraan yang terjebak di area perlintasan, palang pintu dapat terbuka kembali dan masinis akan menerima notifikasi,” jelas Indra.

Diselesaikan dalam satu hingga dua minggu, prototipe itu meraih nilai 94,28 dari penilaian karya ilmiah dan presentasi di hadapan dewan juri. Hasilnya adalah Juara I Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tingkat Kota Pontianak 2026, dengan piagam diserahkan langsung oleh Walikota Edi Rusdi Kamtono.

Infrastruktur Tanpa SDM Lokal, Siapa yang Menjalankan?

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menangkap sesuatu yang lebih dalam dari sekadar trofi yang diraih dua pelajar itu.

Baca Juga: Proyek Kereta Api Kalimantan Rp6,98 Triliun Dimatangkan, Kaltara Bidik Pusat Logistik Masa Depan

Menurutnya, ajang Pelajar Pelopor adalah ruang lahirnya generasi muda yang benar-benar siap menghadapi tantangan transportasi masa depan.

“Mereka diharapkan menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas dan mampu mengimplementasikan inovasi yang telah diciptakan,” ujarnya.

Persoalan kesiapan SDM dalam proyek infrastruktur besar bukan hal yang bisa ditunda. Pembangunan kereta di Kalimantan membutuhkan ekosistem manusia yang terlatih. Mulai dari teknisi lapangan hingga perancang sistem keselamatan.

Jika SDM lokal tidak disiapkan sejak dini, maka ketika rel itu selesai dibangun, yang mengoperasikannya bisa jadi bukan orang Kalimantan.

Indra dan Faridh, dengan segala keterbatasan ruang belajar mereka, telah menunjukkan bahwa kesiapan itu bisa dimulai jauh sebelum proyek resmi berjalan. Mereka tidak menunggu keretanya datang. Mereka sudah berpikir bagaimana membuatnya aman. (*)

Editor : Miftahul Khair
#konektivitas Kalimantan #kereta api kalimantan #smti pontianak #teknologi keselamatan kereta #SDM lokal