Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Mengenal Smart-Barrier Lidar, Teknologi Perlintasan Kereta yang Dirancang Dua Pelajar Pontianak

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 26 Juni 2026 | 11:20 WIB
Ilustrasi peran transformatif teknologi LiDAR di Perkeretaapian. (LinkedIn)
Ilustrasi peran transformatif teknologi LiDAR di Perkeretaapian. (LinkedIn)

PONTIANAK POST - Terdengar canggih namanya, Smart-Barrier Lidar, dan memang demikian adanya. Sistem palang pintu otomatis berbasis sensor ini dirancang oleh dua pelajar kelas X SMTI Pontianak Indra Setyawan dan Faridh Zulfahmi dalam waktu satu hingga dua minggu.

Hasilnya meraih nilai 94,28 dan Juara I Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas Tingkat Kota Pontianak 2026.

Tapi lebih dari sekadar trofi, sistem itu mewakili pendekatan teknologi yang sesungguhnya sudah menjadi frontier riset keselamatan kereta api di tingkat global.

Baca Juga: Sebelum Rel Kereta Kalimantan Terpasang, Pelajar SMTI Pontianak Sudah Siapkan Sistem Keselamatannya

Apa Itu Lidar dan Mengapa Ia Dipilih?

Lidar adalah singkatan dari Light Detection and Ranging, sebuah teknologi penginderaan yang bekerja dengan memancarkan pulsa laser dan mengukur waktu pantulannya saat mengenai objek.

Dari data itu, sistem membangun peta tiga dimensi lingkungan sekitar secara presisi dan real-time.

Pada konteks perlintasan kereta api, dalam Jurnal Internasional Sains dan Teknologi Penelitian Inovasi (2024) disebutkan Lidar mampu mendeteksi kereta yang mendekat dan kendaraan secara akurat.

Ia memberikan data real-time soal kecepatan dan jarak, sekaligus mengidentifikasi rintangan atau individu di dekat jalur rel untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Baca Juga: Seabad Menunggu Janji, Nol Rel: Menelusuri Wacana Kereta Api Kalimantan Barat dari Masa ke Masa

Dalam aplikasi perkeretaapian, karena kereta mengikuti jalur tetap yang sudah ditentukan, sensor Lidar dalam posisi tetap di titik-titik kritis seperti perlintasan sebidang menjadi pendekatan yang sangat layak. Sensor dipasang di atas tiang untuk memantau area terbatas di sekitarnya.

Itulah persis pendekatan yang diterapkan Indra dan Faridh: tiga sensor ditempatkan di titik berbeda sepanjang jalur kereta, bukan hanya di satu titik perlintasan, untuk memberi jangkauan deteksi yang lebih luas dan waktu respons yang lebih panjang.

Dua Lapis Perlindungan

Sistem konvensional perlintasan kereta bertumpu pada satu scenario. Kereta datang, palang menutup, kendaraan berhenti.

Masalahnya, skenario itu mengasumsikan semua pihak berperilaku ideal. Kenyataan di lapangan jauh dari kata ideal. Smart-Barrier Lidar dirancang untuk merespons dua skenario sekaligus.

Pertama, deteksi dini. Ketika kereta terdeteksi mendekati perlintasan pada jarak tertentu, sistem langsung memicu peringatan dan menutup palang secara otomatis tanpa menunggu respons manusia.

Kedua, dan ini yang membedakannya, respons darurat. Bila ada kendaraan yang terlanjur terjebak di dalam area perlintasan setelah palang menutup, sistem mendeteksinya dan membuka kembali palang secara otomatis sambil mengirim notifikasi bahaya langsung ke masinis.

Baca Juga: Proyek Kereta Api Kalimantan Rp6,98 Triliun Dimatangkan, Kaltara Bidik Pusat Logistik Masa Depan

“Ketika kereta terdeteksi berada pada jarak tertentu, sistem akan memberikan peringatan. Jika ada kendaraan yang terjebak di area perlintasan, palang pintu dapat terbuka kembali dan masinis akan menerima notifikasi,” jelas Indra.

Pendekatan seperti ini mendeteksi dan melacak objek di perlintasan secara real-time lalu mengirim respons peringatan ke kereta adalah inti dari sistem keselamatan perlintasan berbasis IoT yang kini tengah dikembangkan para peneliti di berbagai negara.

Dua pelajar Pontianak itu, sadar atau tidak, sedang berjalan di jalur yang sama dengan riset internasional.

Masih Simulasi, Tapi Sudah Teruji

Prototipe ini memang baru berupa simulasi, bukan instalasi fisik di perlintasan nyata. Namun ia telah melalui tahap uji coba terstruktur dan berhasil meyakinkan dewan juri dengan nilai 94,28.

Baca Juga: Inovasi Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas: Dari Kelas Kimia, Lahir Inovasi Penjaga Perlintasan Kereta Aman

Dukungan sekolah menjadi faktor kunci di balik capaian itu. “Sekolah sangat membantu, baik dari sisi pendanaan maupun pendampingan oleh guru pembimbing. Dukungan tersebut menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi,” kata Indra.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menekankan bahwa inovasi seperti ini harus berlanjut jauh melampaui panggung lomba.

“Mereka diharapkan menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas dan mampu mengimplementasikan inovasi yang telah diciptakan,” ujarnya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#konektivitas Kalimantan #kereta api kalimantan #smti pontianak #Smart-Barrier Lidar #teknologi keselamatan kereta api