Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Percepat Hilirisasi Logam Tanah Jarang Nasional, BRIN Gandeng Universiti Teknologi Petronas

Efprizan • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:21 WIB
Ilustrasi logam tanah jarang. (magnific.com)
Ilustrasi logam tanah jarang. (magnific.com)

PONTIANAK POST - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia menjajaki kolaborasi riset strategis untuk mempercepat hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) nasional yang ditargetkan memasuki skala komersial pada 2028.

Pertemuan teknis dan penjajakan kerja sama tersebut berlangsung di fasilitas Pilot Plant Plutho, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) GA Siwabessy, Pasar Jumat, Jakarta, Selasa (23/6), sebagaimana dilansir dari laman resmi BRIN.

Pilot Plant Plutho Jadi Jembatan Menuju Industri

Peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN, Kurnia Setiawan Widana, mengatakan Pilot Plant Plutho berperan sebagai fasilitas transisi dari riset laboratorium menuju penerapan industri.

Fasilitas yang beroperasi sejak 2017 itu difokuskan untuk mengolah monasit asal Bangka yang memiliki kandungan logam tanah jarang cukup tinggi.

Baca Juga: Prabowo Rapat Khusus soal Logam Tanah Jarang di Hambalang, Apa yang Sedang Disiapkan Indonesia?

"Target utama kami adalah memisahkan kandungan uranium dan torium agar diperoleh produk Mixed Rare Earth (MRE) yang bebas radioaktif," ujar Kurnia.

Menurut Kurnia, BRIN saat ini tengah melakukan revitalisasi dan modifikasi proses untuk meningkatkan kinerja fasilitas sehingga siap memasuki tahap demonstrasi industri.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset internasional sangat penting untuk memperkuat kapasitas penelitian melalui keterlibatan akademisi dan mahasiswa.

Teknologi Pengolahan Hasilkan Produk Bebas Radioaktif

Dalam pemaparan teknis, peneliti PRTBNLR BRIN, Riesna Prassanti, menjelaskan Pilot Plant Plutho memiliki kapasitas pengolahan 50 kilogram monasit setiap batch.

Baca Juga: G7 Kurangi Ketergantungan pada China, Peluang Mineral Kritis dan Logam Tanah Jarang Indonesia Kian Besar

Proses pengolahan menggunakan metode basa dengan natrium hidroksida (NaOH) untuk memisahkan kandungan fosfat dari monasit.

"Kandungan monasit terdiri dari sekitar 25 persen fosfat, 60 persen LTJ, serta unsur torium dan uranium," jelas Riesna.

Setelah melalui proses dekomposisi, filtrasi, dan pengendapan menggunakan amonium hidroksida, fasilitas tersebut menghasilkan hidroksida logam tanah jarang yang telah bebas dari unsur radioaktif.

Produk selanjutnya dikirim ke fasilitas BRIN di Yogyakarta untuk dimurnikan menjadi unsur individual seperti lantanum, serium, dan neodymium dengan tingkat kemurnian mencapai 99 persen.

Baca Juga: Prabowo Bahas Tanah Jarang dan Penguatan SDM Demi Siapkan Lompatan Industri, Kalbar Berpeluang Jadi Pemain

Kolaborasi Teknologi Hijau Perkuat Daya Saing

Pihak UTP menyatakan ketertarikannya untuk mengembangkan kolaborasi dengan BRIN melalui integrasi teknologi ramah lingkungan dalam proses pemisahan mineral strategis.

UTP tengah mengembangkan teknologi pemisahan berbasis fisik dan membran yang bertujuan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan.

Sinergi antara keahlian hidrometalurgi BRIN dan inovasi teknologi hijau UTP diharapkan mampu mempercepat pengembangan industri logam tanah jarang di kawasan regional.

Selain mendukung hilirisasi nasional, kerja sama tersebut juga dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia serta mendukung kemandirian industri berbasis sumber daya mineral strategis di masa depan. (*)

Editor : Efprizan
#Logam tanah jarang #Universiti Teknologi Petronas #Pilot Plant Plutho #Hilirisasi Mineral Strategis #BRIN