PONTIANAK POST – Aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSekarat yang digelar sejumlah elemen masyarakat di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6), berakhir ricuh. Massa terlibat bentrokan dengan aparat keamanan, merusak sebagian area Gedung Grahadi, serta memicu tindakan pembubaran menggunakan water cannon. Hingga Jumat malam, sejumlah demonstran juga diamankan polisi.
Kericuhan terjadi ketika aksi yang semula berlangsung damai berubah memanas setelah malam hari. Insiden ini kembali menimpa Gedung Grahadi yang masih dalam proses renovasi akibat kerusakan saat demonstrasi pada Agustus 2025 lalu.
Aksi Awalnya Berlangsung Damai
Demonstrasi dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dengan long march dari arah timur menuju Jalan Gubernur Suryo hingga depan Gedung Grahadi. Massa membawa berbagai spanduk dan poster berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk meme satir yang menjadi simbol aksi.
Dalam orasinya, peserta aksi menyampaikan 12 tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan tersebut mencakup penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG), evaluasi Koperasi Merah Putih, pencabutan Undang-Undang Polri dan Undang-Undang TNI, hingga sejumlah isu sosial dan ekonomi lainnya.
"Kebijakan pemerintah tidak menyentuh akar masalah. Sebaliknya, kini masyarakat harus dihadapkan dengan masalah-masalah pelik," kata juru bicara demonstran dari Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma.
Situasi Memanas Saat Malam Hari
Memasuki malam, situasi berubah. Sekelompok massa yang mayoritas mengenakan atribut berwarna hitam mulai melempar batu ke arah aparat yang berjaga di sekitar lokasi.
Aksi pembakaran terjadi di badan jalan. Sebagian massa juga merusak pagar Gedung Grahadi dan terus melempar benda ke arah barikade aparat keamanan.
Beberapa kali petugas meminta massa menghentikan tindakan anarkistis tersebut. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfi Sulistiawan yang berada di lokasi turut mengimbau demonstran menjaga situasi tetap kondusif.
"Kami minta semuanya menjaga kondusivitas," ujarnya.
Namun, imbauan tersebut tidak diindahkan. Aparat kemudian menggunakan water cannon untuk membubarkan massa. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah peserta aksi turut diamankan dan dibawa ke dalam area Grahadi.
Berdasarkan penelusuran hingga saat ini, belum ada rilis resmi dari Polda Jawa Timur maupun Polrestabes Surabaya yang memuat jumlah demonstran yang diamankan, korban luka, atau pasal yang dikenakan terkait aksi #IndonesiaSekarat pada 26 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan di lokasi, aparat kepolisian mengamankan sejumlah peserta aksi setelah kericuhan terjadi. Hingga berita ini diturunkan, Polda Jawa Timur maupun Polrestabes Surabaya belum merilis keterangan resmi mengenai jumlah demonstran yang diamankan, korban luka, maupun dugaan pasal yang akan dikenakan terhadap peserta aksi. Informasi tersebut masih menunggu hasil pendataan dan penyelidikan kepolisian.
Gedung Grahadi Kembali Menjadi Sasaran Perusakan
Kerusakan yang terjadi di Gedung Grahadi menjadi perhatian pemerintah daerah. Bangunan cagar budaya tersebut diketahui masih menjalani proses perbaikan setelah mengalami kerusakan akibat demonstrasi pada Agustus 2025.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menyayangkan aksi perusakan yang kembali terjadi.
"Ini sangat disayangkan. Kita sedang menyelesaikan perbaikan Grahadi yang tahun lalu juga terbakar akibat demonstrasi. Ini terjadi lagi, jadi sangat disayangkan," katanya di depan Gedung Grahadi, Jumat (26/6) malam.
Hingga berita ini diturunkan, kepolisian belum mengeluarkan keterangan resmi mengenai jumlah peserta aksi yang diamankan maupun perkembangan penanganan hukum atas kericuhan tersebut.
Aksi #IndonesiaSekarat merupakan demonstrasi yang diikuti sejumlah elemen masyarakat untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat. Demonstrasi berlangsung di sejumlah daerah dengan tuntutan yang beragam, mulai dari isu pendidikan, ekonomi, hingga penegakan hukum.
Pengamanan aksi dilakukan aparat kepolisian sejak demonstrasi dimulai pada sore hari. Polisi membentuk barikade di sekitar Gedung Grahadi dan beberapa kali mengimbau massa agar menyampaikan aspirasi secara tertib. Setelah situasi memanas akibat aksi pelemparan batu, pembakaran di badan jalan, dan perusakan pagar Grahadi, aparat membubarkan massa menggunakan water cannon serta mengamankan sejumlah peserta aksi. Hingga berita ini diturunkan, kepolisian belum mengeluarkan keterangan resmi mengenai jumlah personel yang diterjunkan, jumlah demonstran yang diamankan, maupun perkembangan proses hukum terhadap peserta aksi.
Sebelum aksi berlangsung, aparat telah melakukan pengamanan di kawasan Grahadi sebagai langkah antisipasi agar penyampaian pendapat berlangsung aman dan tidak mengganggu ketertiban umum. Namun, situasi berubah pada malam hari ketika sebagian massa melakukan tindakan anarkistis yang berujung pada pembubaran oleh aparat. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro