PONTIANAK POST – Tim peneliti Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat, meneliti potensi kombinasi tiga tanaman obat tradisional, yakni kulit manis, ciplukan, dan bawang Dayak, sebagai alternatif pengobatan diabetes dan hipertensi yang kerap terjadi bersamaan dan memicu komplikasi jangka panjang.
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UNAND, Prof. Fauzan Azima, mengatakan penelitian ini dikembangkan berdasarkan kandungan senyawa bioaktif pada ketiga tanaman tersebut yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Tanaman Lokal Berpotensi Menekan Risiko Komplikasi Penyakit Kronis
Prof. Fauzan menjelaskan diabetes dan hipertensi merupakan dua penyakit metabolik yang saling berkaitan. Apabila diderita bersamaan dalam waktu lama, keduanya dapat memicu stres oksidatif, peradangan kronis, serta gangguan fungsi organ.
"Kondisi komplikasi ini diketahui dapat meningkatkan risiko kerusakan organ penting seperti pankreas, ginjal, jantung hingga pembuluh darah," ujarnya dilansir dari ANTARA, Jumat (26/6/2026).
Menurut dia, kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar dalam pengembangan alternatif pengobatan berbahan baku alami. Senyawa bioaktif seperti polifenol, flavonoid, antosianin, dan organosulfur yang terkandung dalam tanaman obat dinilai mampu membantu mengatur keseimbangan metabolisme dengan efek samping yang relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan obat sintetis jangka panjang.
Harapan Baru bagi Penderita Diabetes dan Hipertensi
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak kulit manis, ciplukan, dan bawang Dayak mampu menormalkan kadar glukosa darah serta tekanan darah secara bersamaan pada hewan uji yang mengalami komplikasi diabetes dan hipertensi.
Peneliti juga menemukan tekanan darah pada hewan uji dengan komplikasi diabetes dan hipertensi lebih cepat kembali ke angka normal dibandingkan hewan uji yang hanya mengalami hipertensi. Selain itu, kombinasi ekstrak tersebut mampu mengurangi peradangan sistemik dan memberikan perlindungan terhadap kerusakan organ pankreas dan ginjal.
Temuan ini membuka harapan baru bagi jutaan penderita diabetes dan hipertensi yang selama ini menghadapi risiko komplikasi serius, mulai dari gagal ginjal, penyakit jantung, hingga kerusakan pembuluh darah.
Kombinasi Tanaman Obat Dinilai Lebih Komprehensif
Prof. Fauzan mengatakan kombinasi beberapa tanaman obat dapat menghasilkan efek terapeutik yang lebih luas. Keragaman senyawa bioaktif memungkinkan berbagai jalur penyakit ditangani secara simultan.
"Penelitian tanaman obat tradisional ini sangat penting, tidak hanya untuk mendukung bukti ilmiah dari efek terapeutik, tetapi juga mendukung pengembangan alternatif pengobatan alami berbahan baku lokal," katanya.
Penelitian kolaboratif tersebut melibatkan guru besar dari Universitas Negeri Malang, Universitas Jambi, serta mahasiswa UNAND. Tim peneliti berharap studi lanjutan dapat dilakukan untuk mengetahui mekanisme kerja, tingkat keamanan, serta tahapan uji klinis sebelum hasil penelitian diterapkan secara luas pada manusia.
Kekayaan Hayati Indonesia dan Tantangan Penyakit Kronis
Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas edisi ke-11, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 20,4 juta orang dewasa penyandang diabetes pada 2024, dengan prevalensi mencapai 11,3 persen pada kelompok usia 20–79 tahun.
Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di antara negara dengan beban diabetes terbesar di dunia. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan menyebut hipertensi sebagai silent killer dan kontributor utama penyakit jantung, gagal ginjal, serta stroke di Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengembangan alternatif terapi yang aman, efektif, dan mudah diakses masyarakat, termasuk pemanfaatan tanaman obat berbahan baku lokal yang didukung pembuktian ilmiah dan uji klinis yang memadai.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai sekitar 30,8 persen, sedangkan prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter sebesar 5,6 persen.
Tingginya angka kedua penyakit tidak menular tersebut menjadi tantangan serius karena berpotensi menimbulkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal.
Data BPJS Kesehatan juga menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat 20,5 juta peserta JKN terdiagnosis hipertensi dan 7,4 juta peserta JKN terdiagnosis diabetes melitus, dengan total pembiayaan pelayanan kesehatan untuk kedua penyakit tersebut mencapai Rp30,5 triliun, termasuk untuk penanganan penyakit penyerta seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengembangan upaya pencegahan dan alternatif terapi yang aman, efektif, dan terjangkau bagi masyarakat. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro