Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

MIND ID Target Pangkas Emisi GRK 15,5 Persen pada 2030, Hilirisasi Tambang Tetap Jalan dengan Strategi Energi Bersih

Basilius Andreas Gas • Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:46 WIB
Salah satu produksi dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. (ANTARA/HO-MIND ID)
Salah satu produksi dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. (ANTARA/HO-MIND ID)

PONTIANAK POST- Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 15,5 persen pada 2030. Target tersebut setara dengan pengurangan sekitar dua juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

Division Head of Sustainability MIND ID Binahidra Logiardi mengatakan langkah itu menjadi bagian dari komitmen perusahaan mendukung target Indonesia menuju second Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan net zero emissions.

"Kami berkomitmen mendukung target Indonesia dalam mencapai second NDC tahun 2030 serta aspirasi net zero emissions Indonesia," kata Binahidra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, target pengurangan emisi dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan energi akibat program hilirisasi mineral strategis nasional.

MIND ID memperkirakan kebutuhan energi perusahaan hampir meningkat dua kali lipat hingga 2030. Kondisi itu terjadi karena ekspansi industri tambang dan pengolahan mineral.

"Dengan mandat hilirisasi yang diberikan kepada MIND ID, kebutuhan energi operasional kami diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat pada 2030. Terlebih, emisi ini diproyeksikan bisa meningkat sekitar 2,1 kali lipat apabila tidak dilakukan intervensi," ujarnya.

Berdasarkan proyeksi perusahaan, kebutuhan energi Grup MIND ID meningkat dari sekitar 149.000 terajoule (TJ) pada 2026 menjadi 293.000 TJ pada 2030.

Tanpa langkah pengendalian, emisi GRK diperkirakan naik dari 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e.

Kenaikan tersebut berkaitan dengan berbagai proyek strategis. Mulai dari pengembangan tambang di Kalimantan, ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, ekspansi fasilitas aluminium, pembangunan smelter, hingga proyek pertambangan bawah laut.

Untuk mengendalikan emisi, MIND ID menjalankan sejumlah strategi. Salah satunya melalui peralihan menuju penggunaan energi rendah karbon.

Langkah itu dilakukan dengan meningkatkan pemakaian biodiesel dari B35 menuju B40. Selain itu, perusahaan mengganti penggunaan high speed diesel (HSD) ke liquefied natural gas (LNG) dan mengoptimalkan listrik dari jaringan PLN.

PT Bukit Asam Tbk menjadi salah satu perusahaan yang menerapkan strategi tersebut. Perusahaan menggunakan bucket wheel excavator (BWE) untuk coal handling di Unit Pertambangan Tanjung Enim.

Penggunaan teknologi itu menggantikan dump truck berbahan bakar fosil. Langkah tersebut mampu mengurangi emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun.

Sementara PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) melakukan konversi energi dari HSD ke LNG pada fasilitas baking plant. Program itu menurunkan emisi sekitar 3.700 ton CO2e dan meningkatkan efisiensi energi.

MIND ID juga memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Salah satunya melalui penggunaan biomassa dan energi surya.

PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) menerapkan co-firing biomassa cangkang kelapa sawit sebagai pengganti sebagian batu bara. Program tersebut mampu menekan emisi sekitar 560 ton CO2e.

PT Timah Tbk juga mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt peak (kWp). Fasilitas itu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e.

Selain pengurangan emisi langsung, MIND ID mengembangkan skema offset karbon. Program itu dilakukan melalui proyek berbasis alam atau nature-based solutions (NBS), renewable energy certificate (REC), serta perdagangan karbon.

Binahidra menegaskan dekarbonisasi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Program tersebut juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk mineral Indonesia di pasar global.

Investor, lembaga keuangan, dan rantai pasok internasional kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

"Karena itu, seluruh strategi kami harus mengintegrasikan aspek ESG ke dalam operasional perusahaan," ujar Binahidra.

MIND ID memastikan transformasi menuju operasional rendah karbon terus berjalan. Perusahaan menargetkan hilirisasi mineral tetap menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan Indonesia. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#CO2e #emisi karbon #dekarbonisasi #Mind ID