PONTIANAK POST - Di tengah gelombang durian tsunami, harga Musang King premium asal Malaysia anjlok hingga RM9 per kilogram pada musim panen Juni hingga Agustus 2026.
Di sisi lain, petani durian lokal di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, justru menikmati panen melimpah.
Hal itu karena durian lokal dipasarkan melalui jalur yang berbeda dengan durian impor premium seperti Musang King.
Baca Juga: Pesona Durian Jemongko: Dari Singkawang ke Pontianak Demi Menyantap Durian
Berkah Panen di Desa Gunung Sembilan
Di Desa Gunung Sembilan, Kecamatan Sukadana, musim durian tahun ini membawa berkah bagi warga setempat.
Hasil panen durian dari kebun warga tidak hanya dipasarkan di wilayah setempat, tetapi juga dijual hingga ke Kabupaten Ketapang dengan harga bervariasi mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu, hingga Rp15 ribu per buah.
Selain dijual segar, sebagian hasil panen juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti dodol durian dan aneka olahan lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Kecamatan Sukadana sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi durian di Kabupaten Kayong Utara, dan melimpahnya hasil panen setiap musim turut memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Baca Juga: Durian Gunung Sembilan Tembus Pasar Ketapang, Panen Melimpah Bawa Berkah bagi Petani Kayong Utara
Segmen Pasar yang Tidak Saling Bersinggungan
Berbeda dari Musang King yang dijual per kilogram dengan standar grading ketat untuk pasar ekspor, durian lokal Kayong Utara umumnya dijual per buah dan mengandalkan pasar domestik di sekitar Kalbar.
Karakter pasar yang berbeda ini membuat koreksi harga Musang King di Malaysia kemungkinan besar tidak banyak berdampak langsung pada petani durian lokal Kalbar.
Pelaku usaha kebun di Malaysia sendiri menegaskan buah dengan kualitas atau grade ekspor relatif aman dari fenomena anjloknya harga ini.
Durian Kelas A dan AB yang memenuhi standar ekspor masih dijual pada kisaran RM30 hingga RM40 per kilogram, sementara dampak terbesar justru terjadi pada durian Kelas C dan buah berukuran kecil yang tidak masuk standar ekspor.
Dukungan Pemerintah Pusat untuk Pertanian Kayong Utara
Perhatian pemerintah pusat terhadap penguatan sektor pertanian di Kayong Utara juga terus berlanjut, meski selama ini lebih difokuskan pada komoditas pangan strategis seperti padi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Dijual Mentah, Durian Gunung Sembilan Diolah Jadi Produk Bernilai Lebih Tinggi
Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, dalam kunjungan kerjanya ke Kayong Utara (21/6/2025), menegaskan prioritas pemerintah pusat saat ini adalah memperbesar jumlah tanaman dan panen dalam satu tahun.
Melalui dukungan dari berbagai intervensi teknis dan bantuan langsung kepada petani, dengan dukungan berupa penyediaan bibit hingga perbaikan irigasi dan alat pertanian.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, turut menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian menargetkan capaian luas tambah tanam di Kalbar mencapai 42.000 hektar, target yang ke depan idealnya juga dapat menjangkau penguatan komoditas hortikultura unggulan daerah seperti durian.
Kabar Gembira, Bukan Ancaman
Dengan jalur pasar dan segmen konsumen yang berbeda, fenomena durian tsunami di Malaysia pada akhirnya lebih banyak menjadi berita gembira untuk konsumen lintas batas yang ingin berburu Musang King murah.
Baca Juga: Peluang Warga Kalbar Nikmati Durian Tsunami Malaysia, Harga Musang King Anjlok hingga Agustus
Ia bukan ancaman bagi keberlangsungan ekonomi petani durian lokal Kayong Utara yang sudah lebih dulu memiliki pasar dan basis konsumennya sendiri di Kalimantan Barat. (*)
Editor : Miftahul Khair