Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Menteri Keuangan Sebut Saldo Anggaran Lebih Akhir 2025 Capai Rp438,26 Triliun, Tetap Kuat Jadi Penyangga Fiskal Hadapi Ketidakpastian Ekonomi

Basilius Andreas Gas • Kamis, 2 Juli 2026 | 15:03 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Jakarta, Rabu (1/7). (ANTARA/Bayu Saputra/am).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Jakarta, Rabu (1/7). (ANTARA/Bayu Saputra/am).

PONTIANAK POST- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah pada akhir 2025 tetap berada pada level yang kuat sehingga mampu berfungsi sebagai penyangga fiskal dalam menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian ekonomi.

Dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-23 Masa Persidangan V di Jakarta, Kamis, Purbaya menyampaikan SAL hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp438,26 triliun setelah dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang tahun.

“Saldo ini tetap berada pada level yang memadai dan berfungsi sebagai penyangga fiskal dalam menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian,” kata Purbaya.

Ia menjelaskan posisi awal SAL pada awal 2025 mencapai Rp457,54 triliun. Selama tahun berjalan, pemerintah menggunakan SAL sebesar Rp93,15 triliun untuk mendukung pembiayaan APBN.

Sementara itu, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tercatat sebesar Rp72,40 triliun. Setelah memperhitungkan sejumlah penyesuaian lainnya, saldo akhir SAL tercatat sebesar Rp438,26 triliun.

Menurut Purbaya, posisi tersebut menunjukkan ruang fiskal pemerintah masih terjaga. SAL juga tetap berperan sebagai bantalan fiskal guna menjaga kesinambungan pembiayaan negara di tengah dinamika ekonomi global serta kebutuhan pembangunan nasional.

Dari sisi neraca keuangan per 31 Desember 2025, total aset pemerintah tercatat mencapai Rp14.600,98 triliun. Sementara itu, total kewajiban sebesar Rp11.527,29 triliun dan ekuitas mencapai Rp3.073,69 triliun.

Purbaya mengatakan kondisi tersebut mencerminkan kekayaan bersih negara sekaligus menunjukkan kapasitas fiskal pemerintah dalam mendukung agenda pembangunan secara berkelanjutan.

Pada laporan operasional, pendapatan pemerintah tercatat sebesar Rp3.006,42 triliun, sedangkan beban operasional mencapai Rp3.429,51 triliun sehingga terjadi defisit operasional sebesar Rp423,09 triliun.

Selain itu, aktivitas non-operasional juga membukukan defisit sebesar Rp109,91 triliun. Dengan demikian, total defisit dalam laporan operasional pemerintah mencapai Rp532,99 triliun.

Sementara dari sisi arus kas, aktivitas operasi mencatat arus kas bersih negatif sebesar Rp243,90 triliun. Aktivitas investasi juga membukukan arus kas negatif Rp712,07 triliun, sedangkan aktivitas transitoris mencatat arus kas minus Rp44,16 triliun.

Di sisi lain, aktivitas pendanaan menghasilkan arus kas positif sebesar Rp828,37 triliun.

“Arus kas dari aktivitas investasi yang negatif tersebut mencerminkan kuatnya komitmen pemerintah untuk terus melakukan investasi produktif guna mendorong akselerasi pembangunan nasional,” ujarnya. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#Saldo Anggaran Lebih #penyangga fiskal #menteri keuangan #Purbaya #apbn