Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Percakapan di Medsos dan Pemberitaan Online terhadap Prabowo Masih Rapuh, Sentimen Positif Baru 41,5 Persen

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 3 Juli 2026 | 22:53 WIB
Kajian analisis Sentimen Negatif dan Positif terhadap Citra Prabowo (5 Juni-2 Juli 2026) oleh Sintesa Strategi Indonesia.
Kajian analisis Sentimen Negatif dan Positif terhadap Citra Prabowo (5 Juni-2 Juli 2026) oleh Sintesa Strategi Indonesia.

PONTIANAK POST – Persepsi publik terhadap Presiden Prabowo Subianto di ruang digital masih cenderung positif. Namun, hasil pemantauan Strategi Indonesia (SSI) menunjukkan sentimen positif terhadap Prabowo baru mencapai 41,5 persen, sehingga belum dapat dikategorikan sebagai dukungan mayoritas secara absolut.

Berdasarkan hasil monitoring percakapan di platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online selama 5 Juni hingga 2 Juli 2026, sentimen negatif tercatat sebesar 13,8 persen, sedangkan 44,7 persen percakapan lainnya masih bersifat netral. [Tambahkan infografis perbandingan sentimen positif, negatif, dan netral.]

Direktur SSI, Ikrama Masloman, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan citra Presiden masih relatif kuat di ruang digital. Namun, dukungan publik belum sepenuhnya terkonsolidasi.

Hampir Separuh Percakapan Masih Netral

Besarnya porsi percakapan netral menjadi perhatian tersendiri. Kelompok netral merupakan ruang persepsi yang masih cair dan dapat bergerak ke arah dukungan maupun kritik, tergantung pada bagaimana pemerintah merespons isu-isu publik.

SSI mencatat nada percakapan kritis terhadap Prabowo mencapai sekitar 17 persen. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan sentimen negatif yang berada di angka 13,8 persen dan sikap kontra sebesar 14,3 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan kritik publik lebih banyak diarahkan pada kebijakan, implementasi program, dan dinamika pemerintahan dibandingkan penolakan langsung terhadap figur Presiden.

Dukungan Digital Masih Rentan terhadap Isu Baru

Penelitian SSI menemukan bahwa pada awal periode pemantauan, percakapan publik didominasi sentimen netral hingga negatif. Momentum itu dipengaruhi pembahasan RUU Polri, RAPBN, dan berbagai isu ekonomi nasional.

Sentimen kemudian berangsur membaik setelah pemerintah secara aktif menyampaikan perkembangan investasi nasional dan optimisme ekonomi melalui sejumlah kementerian.

Puncak sentimen positif terjadi menjelang akhir periode penelitian ketika Presiden Prabowo menghadiri Pekan Nasional Petani dan Nelayan di Gorontalo serta membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026.

Meski demikian, SSI menilai besarnya porsi percakapan netral menunjukkan dukungan di ruang digital masih belum sepenuhnya solid. Setiap isu baru, terutama yang berkaitan dengan ekonomi, pelayanan publik, maupun kontroversi kebijakan, berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap pemerintah.

Komunikasi Pemerintah Menjadi Faktor Penentu

SSI menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan semata menghadapi sentimen negatif, melainkan mengubah kelompok netral menjadi basis dukungan yang lebih kuat melalui komunikasi yang konsisten, responsif, dan terintegrasi.

Berbeda dengan survei elektoral yang mengukur kepuasan publik secara langsung, sentimen digital menggambarkan dinamika percakapan di internet yang bergerak sangat cepat. Dalam konteks ini, capaian sentimen positif Prabowo sebesar 41,5 persen menunjukkan persepsi publik di ruang digital masih berada pada fase pembentukan. Besarnya percakapan netral, yakni 44,7 persen, mengindikasikan dukungan mayoritas belum benar-benar mengkristal dan masih rentan dipengaruhi isu-isu baru yang berkembang. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#sentimen positif Prabowo #persepsi publik terhadap Prabowo #dukungan digital Prabowo #opini publik di media sosial #citra Presiden Prabowo Subianto