PONTIANAK POST - Sebanyak 3,9 juta anak tidak sekolah (ATS) masih menjadi tantangan besar dunia pendidikan Indonesia. Untuk memperluas akses pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) 2026 yang ditujukan bagi anak-anak yang selama ini belum terjangkau layanan pendidikan.
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 1 April 2026, jumlah ATS mencapai 3.966.858 anak. Mereka terdiri atas anak yang belum pernah bersekolah, putus sekolah (drop out), serta lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan.
Kemiskinan hingga Perundungan Jadi Penyebab
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penyebab anak tidak bersekolah sangat beragam. Faktor tersebut meliputi keterbatasan biaya, menikah, hingga menjadi korban perundungan.
Beragam persoalan itu membuat sebagian anak kehilangan akses terhadap pendidikan formal. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi memengaruhi masa depan mereka.
SPMB PJJ Menjangkau Anak, Bukan Menunggu Pendaftar
Melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Kemendikdasmen mengubah pendekatan layanan pendidikan. Jika sebelumnya sekolah menunggu peserta didik datang, kini layanan pendidikan diarahkan untuk menjangkau anak-anak yang mengalami hambatan mengakses sekolah.
Program SPMB PJJ 2026 menargetkan sekitar 2,4 juta ATS berusia 16 hingga 18 tahun agar kembali mengikuti proses pembelajaran.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan jutaan ATS harus segera dijangkau agar tidak semakin jauh dari dunia pendidikan.
"Tugas kita adalah menjangkau mereka kembali ke sekolah dan memastikan mereka menyelesaikan pendidikan sehingga tidak kehilangan kesempatan memperbaiki masa depan," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (4/7).
Menurut Suharti, negara perlu mengubah paradigma pelayanan pendidikan agar lebih proaktif terhadap kelompok yang mengalami hambatan.
"Hari ini kita harus berani mengubah paradigma. Untuk anak-anak yang mengalami hambatan akses pendidikan, negara harus hadir mendekati dan menjemput mereka," katanya.
Keberhasilan Diukur hingga Anak Lulus
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan SPMB PJJ bukan sekadar mekanisme penerimaan peserta didik baru. Program tersebut dirancang sebagai gerakan untuk mengembalikan anak tidak sekolah ke dalam sistem pendidikan.
Menurutnya, keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya peserta yang mendaftar. Indikator utama adalah kemampuan peserta bertahan hingga menyelesaikan pendidikan.
"Target akhirnya bukan banyaknya pendaftar atau anak yang kembali ke bangku sekolah, tetapi berapa banyak yang mampu bertahan sampai lulus," tegasnya.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menambahkan layanan pendidikan harus aktif mendatangi kelompok rentan.
"Anak tidak sekolah tidak boleh lagi menunggu layanan. Justru layanan yang harus mendatangi mereka," ujarnya.
Deklarasi Nasional Libatkan Pemerintah Daerah
Peluncuran program tersebut dibarengi dengan Deklarasi Nasional Gerakan Daerah Nol Anak Tidak Sekolah melalui pendidikan jarak jauh. Pemerintah daerah didorong berperan aktif memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan sebagai bagian dari pemenuhan standar pelayanan minimal.
Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Kementerian Dalam Negeri, Paudah, menyatakan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari layanan pendidikan.
132 Sekolah Siap Menjangkau Anak Tidak Sekolah
Pada 2026, program SPMB PJJ diterapkan di 32 provinsi dengan melibatkan 132 sekolah.
Pemerintah berharap program ini menjadi pintu masuk untuk menekan angka anak tidak sekolah sekaligus membuka kembali kesempatan bagi mereka memperoleh ijazah, melanjutkan pendidikan, dan meningkatkan peluang memasuki dunia kerja.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menambah angka partisipasi pendidikan, tetapi juga memastikan setiap anak, termasuk yang berasal dari kelompok rentan, memperoleh kesempatan yang sama untuk membangun masa depan yang lebih baik.*
Editor : Uray Ronald