PONTIANAK POST – Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) MPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, menegaskan etnis Tionghoa merupakan salah satu arsitek utama dalam pembangunan Republik Indonesia. Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas masih adanya dikotomi antara pribumi dan nonpribumi di tengah masyarakat.
Neng Eem menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan" di Jakarta, Minggu (19/7). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Persaudaraan Antariman (Berani) dalam rangka menyambut Hari Lahir Ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Baca Juga: Daniel Johan Sebut Etnis Tionghoa Beri Sumbangsih Besar dalam Sejarah Indonesia
Kontribusi Etnis Tionghoa Dinilai Menjadi Fondasi Bangsa
Menurut Neng Eem, sejarah menunjukkan masyarakat Tionghoa bukan sekadar bagian dari perjalanan bangsa, tetapi turut membangun fondasi Indonesia sejak sebelum kemerdekaan.
"Jika kita berani menengok masa lalu dengan mata batin yang jernih, etnis Tionghoa bukanlah penumpang gelap di kapal besar bernama Indonesia, mereka adalah salah satu arsitek utama, pendiri sekaligus pemilik sah saham republik ini," katanya dikutip dari Antara.
Ia mengatakan proses pembauran budaya telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka. Interaksi antaretnis, menurutnya, melahirkan akulturasi yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kuliner hingga arsitektur.
Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado
Solidaritas Lintas Etnis Sudah Terbangun Sejak Lama
Neng Eem menilai sejarah juga mencatat kerja sama lintas etnis dalam perjuangan melawan penjajahan.
"Di masa itu, Laskar Tionghoa dan pejuang Jawa bersatu di medan laga, menghantam kezaliman VOC. Sejarah ini menjadi bukti bahwa solidaritas lintas etnis demi menegakkan keadilan telah tumbuh subur di bumi pertiwi sejak berabad-abad silam," ujarnya.
Gus Dur Dinilai Mengakhiri Diskriminasi terhadap Etnis Tionghoa
Neng Eem mengatakan perjalanan bangsa juga pernah diwarnai diskriminasi terhadap masyarakat Tionghoa setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, perubahan besar terjadi pada masa Presiden Keempat RI sekaligus pendiri PKB, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mematahkan belenggu Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Beliau memulihkan hak sipil etnis Tionghoa, mengembalikan kebebasan merayakan Imlek, dan menempatkan Khonghucu setara dengan agama lainnya," jelasnya.
Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina, sehingga pembatasan terhadap ekspresi budaya dan tradisi Tionghoa di ruang publik dihapus. Kebijakan tersebut menjadi salah satu tonggak pemulihan hak-hak sipil masyarakat Tionghoa di Indonesia.
F-PKB MPR Komitmen Perkuat Narasi Kebangsaan
Menurut Neng Eem, perjuangan tersebut membuka ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk kembali berkontribusi di berbagai bidang, seperti birokrasi, parlemen, akademik, seni budaya, hingga olahraga.
Meski demikian, ia menilai dikotomi antara pribumi dan nonpribumi masih menjadi tantangan yang harus dihilangkan karena merupakan warisan politik pecah belah kolonial.
F-PKB MPR RI, lanjutnya, berkomitmen mengikis sisa-sisa diskriminasi, menempatkan narasi kontribusi etnis Tionghoa secara proporsional dan terhormat dalam kurikulum sejarah, serta memperkuat kolaborasi inklusif antarelemen bangsa.
Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok
Ajak Jaga Persatuan dan Bhinneka Tunggal Ika
Neng Eem mengajak seluruh elemen masyarakat terus menjaga persatuan dan merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai apabila seluruh warga negara memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi.
"Menjadi Indonesia bukanlah soal garis keturunan atau asal-usul genetik. Menjadi Indonesia adalah sebuah kesepakatan spiritual, kesepakatan politik dan kebudayaan untuk hidup bersama, saling menopang, dan bahu-membahu mewujudkan kejayaan di bawah kibaran bendera Merah Putih," ujarnya.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara