PONTIANAK POST - Saat mengolah buah kluwih, sebagian besar orang biasanya langsung membuang kulitnya.
Padahal, bagian yang selama ini dianggap limbah tersebut ternyata menarik perhatian para peneliti karena mengandung berbagai senyawa yang berpotensi dimanfaatkan.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, MS, menjelaskan bahwa penelitian mengenai kulit buah kluwih terus berkembang untuk mengetahui kandungan senyawa aktif di dalamnya.
Baca Juga: Tepung Biji Kluwih Berpotensi Jadi Bahan Makanan Bergizi untuk Bayi
Penelitian Mengidentifikasi Puluhan Senyawa
Prof. Mangestuti menjelaskan, masyarakat selama ini terbiasa membuang kulit buah kluwih sebelum dimasak. Kondisi itu mendorong peneliti Indonesia mempelajari kandungan yang terdapat pada bagian tersebut.
Kulit buah yang telah dibersihkan dan dikeringkan kemudian diekstraksi menggunakan berbagai jenis pelarut.
Hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2020 menunjukkan terdapat sekitar 25 jenis senyawa kimia dengan komposisi yang berbeda-beda.
Baca Juga: Tak Hanya Sayur Lodeh, Buah Kluwih Kaya Protein dan Mineral Penting
Mengandung Senyawa Fitosterol
Pada ekstrak etilasetat ditemukan senyawa golongan terpenoid, salah satunya lupeol asetat. Menurut Prof. Mangestuti, lupeol asetat merupakan senyawa fitosterol yang layak mendapatkan perhatian lebih lanjut dalam penelitian.
Pada studi lain, senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antiradang dan antikanker.
Meski demikian, pemanfaatannya masih memerlukan penelitian lanjutan agar manfaatnya dapat dipahami secara lebih mendalam.
Prof. Mangestuti menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengoptimalkan pemanfaatan kulit buah kluwih yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Selain sumber bahan bakunya melimpah, kulit buah kluwih juga mudah diperoleh karena merupakan hasil samping dari pengolahan buah. (*)
Editor : Chairunnisya