Wamenekraf: AI Tak Hapus Lapangan Kerja, Justru Buka Profesi Baru dan Perluas Peluang Industri Kreatif Indonesia ke Pasar Global

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 08:35 WIB
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menyampaikan sambutannya dalam acara peluncuran Google AI Economic Impact Report di Jakarta, Kamis (23/7). (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menyampaikan sambutannya dalam acara peluncuran Google AI Economic Impact Report di Jakarta, Kamis (23/7). (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)

PONTIANAK POST- Teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dinilai tidak akan menghapus lapangan kerja, melainkan menghadirkan profesi baru sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif untuk bersaing di pasar global.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar mengatakan perkembangan AI telah melahirkan jenis pekerjaan yang sebelumnya belum pernah dikenal, seiring meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi berbasis kecerdasan buatan.

"AI tidak akan menggantikan pekerjaan, tetapi AI akan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya," kata Irene dalam peluncuran Google AI Economic Impact Report di Jakarta, Kamis.

Ia mencontohkan profesi prompt engineer yang mulai banyak dibutuhkan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pekerjaan tersebut bahkan tidak mensyaratkan gelar sarjana, tetapi lebih menekankan kemampuan menyusun instruksi yang tepat agar AI menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan pengguna.

"Dalam lima tahun terakhir ada pekerjaan baru yang tidak memerlukan gelar sarjana, tapi Anda bisa menjadi insinyur yang disebut sebagai prompt engineer," ujarnya.

Irene menjelaskan kemampuan utama seorang prompt engineer adalah merancang perintah atau prompt yang jelas dan terstruktur sehingga sistem AI mampu memberikan hasil yang optimal.

"Kalau kita tidak tahu apa yang kita inginkan, AI tidak akan bisa menciptakan hasil yang kita inginkan," katanya.

Karena itu, ia mendorong pelaku industri kreatif, pengembang aplikasi, hingga kreator konten di Indonesia memanfaatkan AI dan analisis data untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.

Menurut Irene, dampak ekonomi dari pemanfaatan AI tidak dapat diperoleh secara instan. Oleh sebab itu, implementasinya perlu dievaluasi secara berkelanjutan agar peluang usaha, penciptaan lapangan kerja, dan nilai tambah ekonomi dapat diukur secara lebih akurat.

Ia juga mengingatkan pelaku ekonomi kreatif agar tidak hanya berorientasi pada pasar domestik, tetapi mulai membidik pasar internasional yang menawarkan peluang lebih besar. Indonesia, kata dia, harus tampil sebagai pencipta inovasi, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk teknologi global.

"Jadi saya ingin menantang semua orang di sini bukan hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tapi Indonesia sebagai kreator, sebagai kekuatan pendorong, sehingga kita bisa mengekspor apa yang kita miliki ke pasar global," katanya. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
Wamenekraf Irene Umar Ekonomi Kreatif ai pasar global