Wamenkomdigi Ingatkan Indonesia Jangan Terlambat Masuk Rantai Pasok AI Global demi Perkuat Daya Saing Industri Digital

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 12:36 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria menjadi pembicara dalam Alumni Night: Grab Velocity Ventures (GVV) di, Jakarta Pusat, Rabu (22/07). (ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital)
Wamenkomdigi Nezar Patria menjadi pembicara dalam Alumni Night: Grab Velocity Ventures (GVV) di, Jakarta Pusat, Rabu (22/07). (ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital)

PONTIANAK POST- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan Indonesia harus segera mengambil posisi dalam rantai pasok industri kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) global agar tidak tertinggal dalam persaingan ekonomi digital.

Menurut Nezar, kompetisi pengembangan AI kini tidak lagi hanya berfokus pada penciptaan aplikasi, tetapi telah bergeser ke penguasaan industri semikonduktor, pusat data, serta mineral kritis yang menjadi fondasi utama teknologi digital dunia.

"Yang paling penting lagi adalah, jangan terlambat untuk masuk ke dalam rantai pasok global, termasuk AI," kata Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan paradigma pengembangan startup juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya perusahaan rintisan lebih mengejar valuasi dan pertumbuhan yang agresif, kini orientasinya bergeser pada pembangunan bisnis yang berkelanjutan dengan fondasi yang lebih kuat.

Menurut Nezar, pengalaman India menunjukkan kebijakan pemerintah melalui penguatan ekosistem startup, program Make in India, dan pembangunan industri semikonduktor mampu mendorong lahirnya inovasi berbasis AI.

"AI kali ini menjadi driving process (proses pendorong) untuk bertumbuhnya startup-startup," ujarnya.

Nezar menilai Indonesia memiliki modal besar untuk ikut bersaing dalam industri AI. Tingginya tingkat adopsi teknologi AI, tumbuhnya startup berbasis AI, serta inisiatif pengembangan large language model (LLM) nasional menjadi bekal penting menuju kemandirian AI.

Meski demikian, ia mengakui Indonesia masih berada pada tahap pemanfaatan teknologi sehingga perlu memperkuat kapasitas nasional melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI," katanya.

Ia menambahkan penguasaan AI membutuhkan dukungan infrastruktur digital yang memadai, mulai dari pusat data, Graphics Processing Unit (GPU), hingga industri semikonduktor.

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki keunggulan berupa cadangan mineral kritis seperti nikel dan pasir silika yang perlu dihilirisasi agar menghasilkan nilai tambah bagi industri teknologi nasional.

Dengan memperkuat industri semikonduktor berbasis hilirisasi mineral kritis, Indonesia diyakini dapat meningkatkan posisi tawar dalam rantai pasok teknologi global.

"Hilirisasi dari mineral kritis yang mentah itu menjadi produk antara yang kira-kira memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global di industri semikonduktor," jelasnya.

Pemerintah, lanjut Nezar, saat ini tengah menyiapkan Peta Jalan AI yang akan dituangkan dalam Peraturan Presiden sebagai pedoman pengembangan kecerdasan artifisial nasional.

Regulasi tersebut disusun menggunakan pendekatan berbasis risiko agar tetap membuka ruang inovasi sekaligus memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara bertanggung jawab.

Nezar menegaskan kecerdasan artifisial harus dimanfaatkan sebagai teknologi pendamping yang membantu meningkatkan produktivitas manusia, bukan menggantikan peran dan kemampuan berpikir manusia.

"Teknologi ini harus dijadikan sebagai companion (pendamping) buat kita. Bukan kita kemudian menyerahkan semuanya kepada artificial intelligence," katanya. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
kecerdasan artifisial industri semikonduktor hilirisasi mineral kritis Graphics Processing Unit pusat data nasional