Aspebindo Nilai Bioenergi Berbasis Kelapa Sawit Berpeluang Jadi Pilar Ketahanan Energi Nasional dan Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 11:41 WIB
Petugas menunjukkan contoh biodiesel berbahan baku sawit. (ANTARA/Subagyo)
Petugas menunjukkan contoh biodiesel berbahan baku sawit. (ANTARA/Subagyo)

PONTIANAK POST- Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menilai pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit memiliki prospek besar untuk mendukung ketahanan energi nasional karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah serta bersifat terbarukan.

Wakil Ketua Umum Aspebindo M Hadi Nainggolan mengatakan kelapa sawit memiliki keunggulan sebagai sumber energi hayati karena dapat diproduksi sepanjang tahun dengan tingkat produktivitas yang relatif stabil.

"Kelapa sawit ini akan menjadi sumber kekuatan energi hayati dengan didukung oleh 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit,” ujar Hadi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, seluruh bagian tanaman kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioenergi. Selain minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel, biomassa berupa tandan kosong, cangkang, hingga batang sawit juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan.

Saat ini, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan potensi produksi biomassa hingga 272 juta ton setiap tahun.

"Jadi, kelapa sawit kita ini bisa menjadi pilar untuk kekuatan energi nasional. Indonesia bisa menjadi negara nomor satu di dunia yang menghasilkan energi berbasis kekayaan hayati,” katanya.

Hadi menilai pengembangan bioenergi sawit akan memberikan manfaat strategis bagi Indonesia, mulai dari mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil, menekan emisi gas rumah kaca, membantu mitigasi pemanasan global, hingga memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas nasional.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pelaksanaan program biodiesel sepanjang 2015-2025 telah menghemat devisa sebesar Rp722,9 triliun. Program tersebut juga menghasilkan nilai tambah Rp114,7 triliun dari pengolahan CPO menjadi biodiesel, menyerap sekitar 10,9 juta tenaga kerja di sektor sawit, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 228,41 juta ton CO₂.

Salah satu upaya mendorong pengembangan bioenergi dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) yang memfasilitasi berbagai riset dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, termasuk di bidang energi terbarukan.

Sementara itu, Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan pemanfaatan kelapa sawit sebagai bioenergi akan memberikan manfaat di sektor ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Menurut dia, diversifikasi pemanfaatan kelapa sawit menjadi bioenergi akan memperluas pasar tandan buah segar (TBS) petani sehingga tidak hanya bergantung pada kebutuhan industri minyak goreng.

Tungkot menyebut pasar bioenergi berbasis kelapa sawit di Indonesia saat ini telah melampaui pasar minyak goreng sehingga ikut menjaga stabilitas harga TBS di tingkat petani dan meningkatkan pendapatan mereka.

Ia juga menilai bioenergi sawit menjadi bagian dari solusi menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim. Tanaman kelapa sawit mampu menyerap karbon melalui proses fotosintesis, sementara bioenergi yang dihasilkan dapat menggantikan penggunaan energi fosil yang menjadi penyumbang utama emisi karbon dunia. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
bioenergi Aspebindo energi hayati Ketahanan energi kelapa sawit