Indonesia-Singapura Perkuat Kerja Sama Pendidikan, Fokus Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran dan Perluasan Akses bagi Pelajar

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 12:41 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee di Singapura, Rabu (22/7) memperkuat kolaborasi pendidikan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, pembaruan MoU bidang pendidikan, hingga penguatan akses pendidikan bagi murid. (ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen)
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee di Singapura, Rabu (22/7) memperkuat kolaborasi pendidikan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, pembaruan MoU bidang pendidikan, hingga penguatan akses pendidikan bagi murid. (ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen)

PONTIANAK POST- Pemerintah Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama di bidang pendidikan melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam pembelajaran, pembaruan nota kesepahaman (MoU), serta upaya memperluas akses pendidikan bagi peserta didik.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pemerataan layanan pendidikan karena kondisi geografis sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 50 juta peserta didik, termasuk yang berada di wilayah terpencil.

Dalam pertemuan dengan Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee, Mu’ti menyampaikan pemerintah terus mendorong pembelajaran jarak jauh (distance learning) berbasis teknologi untuk memperluas akses pendidikan dan mengurangi kesenjangan layanan antarwilayah.

”Kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi, termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri,” ujar Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat, Minggu.

Menurut dia, pemanfaatan AI dalam pendidikan harus tetap diiringi penguatan kemampuan berpikir reflektif dan kritis peserta didik. Sebab, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan dalam memahami bahasa, budaya, serta konteks lokal.

”Kadang-kadang, AI bisa membantu mereka, untuk memiliki narasi atau deskripsi, tetapi jika berpikir refleksif, dan berpikir kritis, itu tidak banyak,” tegas Mu’ti.

Selain pemanfaatan teknologi, Mu’ti membuka peluang kerja sama dengan Temasek maupun perusahaan Singapura yang beroperasi di Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, terutama bagi peserta didik di wilayah yang memiliki kedekatan geografis dengan Singapura seperti Sumatera.

Kerja sama tersebut juga diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan learning loss serta memastikan keberlanjutan layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang berada di Singapura.

Kedua menteri turut membahas peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan pekerja migran Indonesia agar memiliki kemampuan profesional selama bekerja di Singapura.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee menginisiasi pembaruan MoU kerja sama pendidikan yang sebelumnya disepakati pada 2017.

Menurut Desmond, perkembangan teknologi, AI, serta tantangan global membutuhkan bentuk kerja sama yang lebih fleksibel dan berorientasi masa depan, terutama menjelang 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura pada 2027.

”Sejak 2017, banyak yang berubah. Teknologi, AI, fokus kita terhadap masalah di seluruh dunia, sehingga secara domestik, kita mengambil peluang, memperbaiki MoU-nya, menyesuaikan, dan membuatnya berorientasi ke masa depan, untuk kolaborasi Indonesia-Singapura,” kata Desmond Lee.

Selain membahas transformasi pendidikan berbasis teknologi, kedua pihak juga mendiskusikan keberlanjutan Sekolah Indonesia Singapura (SIS), mengingat masa penggunaan lokasi sekolah tersebut akan berakhir pada April 2027. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
akses pembelajaran pendidikan Kolaborasi Kerja sama ai