PONTIANAK POST- Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mendorong masyarakat internasional mengubah pendekatan dalam menghadapi konflik global dari paradigma kemenangan mutlak menuju koeksistensi atau hidup berdampingan.
Azis mengatakan perkembangan teknologi, keterhubungan ekonomi antarnegara, serta meningkatnya kemampuan negara dalam saling memberikan dampak kerusakan membuat konsep kemenangan absolut semakin sulit diwujudkan.
"Kekuatan masih penting, tetapi kemenangan menjadi semakin sulit didefinisikan," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, konflik modern tidak hanya berdampak terhadap negara yang terlibat langsung, tetapi juga memengaruhi masyarakat global melalui berbagai sektor, mulai dari gangguan jalur perdagangan, serangan siber, penggunaan pesawat nirawak, hingga terganggunya rantai pasok.
Ia menilai keberhasilan memenangkan pertempuran tidak selalu berujung pada keuntungan strategis bagi suatu negara.
"Kemenangan militer dapat berubah menjadi kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis dapat melahirkan kerugian strategis," katanya.
Karena itu, Azis mendorong penerapan paradigma koeksistensi sebagai pendekatan baru dalam menghadapi dinamika konflik internasional.
Ia menegaskan konsep tersebut bukan berarti menghilangkan persaingan maupun mengabaikan perbedaan kepentingan antarnegara.
"Koeksistensi adalah kesadaran bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kemenangan sesaat. Persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama," katanya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI Sugiono juga menegaskan Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme agar tetap mampu berperan di tengah kondisi dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian.
"Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya," kata Sugiono.
Menurut Menlu, prinsip politik luar negeri bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan sikap secara mandiri sekaligus tetap berkontribusi dalam menjaga perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara