Kementan Siapkan 56 Ribu Pompa Air Hadapi Kemarau 2026, Daerah Diminta Aktif Usulkan Bantuan

Uray Ronald • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 23:48 WIB
Petani menggunakan pompa sebagai upaya menjaga ketersediaan air irigasi, mempertahankan produktivitas padi, dan memitigasi dampak kekeringan selama musim kemarau. (ANTARA)
Petani menggunakan pompa sebagai upaya menjaga ketersediaan air irigasi, mempertahankan produktivitas padi, dan memitigasi dampak kekeringan selama musim kemarau. (ANTARA)

 

PONTIANAK POST  – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan 56 ribu unit pompa air pada Tahun Anggaran 2026 sebagai langkah mitigasi kekeringan nasional guna menjaga produksi pangan di tengah ancaman musim kemarau dan perubahan iklim.

Program pompanisasi menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memastikan lahan sawah tetap memperoleh pasokan air sehingga target swasembada pangan dapat dipertahankan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pompanisasi merupakan solusi cepat untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Pemerintah pun terus mempercepat penyaluran pompa air ke berbagai sentra produksi padi yang masih memiliki sumber air.

"Saya selalu sampaikan bahwa sekarang kita perlu pompanisasi untuk memenuhi air dari sungai ke sawah. Mengapa? Mustahil kita lolos dari krisis pangan kalau solusi cepat ini tidak kita lakukan," tegas Mentan Amran.

Baca Juga: Musim Kemarau Surutkan Sungai Kapuas, BPBD Pontianak Intensif Patroli Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Belajar dari Dampak El Nino

Menurut Amran, pengalaman menghadapi El Nino dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketersediaan air menjadi faktor penentu dalam menjaga produksi pangan nasional.

Karena itu, program pompanisasi dipadukan dengan modernisasi pertanian melalui penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan) agar petani mampu meningkatkan produktivitas sekaligus beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Distribusi Pompa Air Dipercepat

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Andi Nur Alam Syah mengatakan Kementan terus mempercepat distribusi pompa air ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan, terutama sentra produksi padi yang masih memiliki sumber air permukaan seperti sungai, embung, waduk, maupun saluran irigasi.

"Mitigasi kekeringan harus dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Pompanisasi merupakan salah satu strategi utama agar petani tetap dapat mengairi sawah meskipun curah hujan menurun. Di sisi lain, modernisasi pertanian melalui dukungan alsintan juga terus kami dorong agar produktivitas tetap terjaga dan target swasembada pangan dapat tercapai," ujar Andi.

Ia menjelaskan, dari total 56 ribu unit pompa air yang disiapkan pada Tahun Anggaran 2026, sekitar 11 ribu unit telah didistribusikan kepada penerima manfaat.

Sementara itu, sekitar 20 ribu unit lainnya sedang dalam proses penyaluran berdasarkan usulan pemerintah daerah, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan tetapi masih memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan.

Pompa-pompa tersebut akan segera dipasang agar mampu mengairi lahan sawah terdampak sehingga petani tetap dapat melakukan tanam dan menjaga produktivitas selama musim kemarau.

BMKG memperkirakan musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia hingga puncaknya pada Agustus–September 2026.

Sebagian besar wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di sentra-sentra pertanian yang bergantung pada ketersediaan air permukaan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah memperkuat program pompanisasi sebagai upaya menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau.

BMKG juga memprediksi sekitar 47,45 persen wilayah Indonesia akan mengalami durasi musim kemarau selama 10–21 dasarian, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus di sebagian besar wilayah.

Memasuki akhir Juli 2026, kondisi atmosfer menunjukkan sebagian besar Indonesia berada dalam fase relatif kering dengan curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 76,54 persen wilayah, sehingga potensi kekeringan perlu diantisipasi.

Baca Juga: Masuki Musim Kemarau, Kapolres Ketapang Tinjau Posko Karhutla dan Kanal Air untuk Antisipasi Kebakaran Lahan

Modernisasi Pertanian Terus Diperkuat

Selain mempercepat distribusi pompa air, Kementan juga memperkuat modernisasi pertanian melalui penyaluran berbagai alsintan, mulai dari traktor roda dua dan roda empat, rice transplanter, combine harvester, hingga sarana mekanisasi lainnya.

Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani, mempercepat masa tanam, serta menekan kehilangan hasil panen.

Daerah Diminta Aktif Usulkan Bantuan

Andi menegaskan keberhasilan program pompanisasi membutuhkan dukungan aktif pemerintah daerah dalam mengidentifikasi sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan selama musim kemarau.

Petani yang membutuhkan bantuan pompa air maupun alsintan dapat mengajukan usulan melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) atau Dinas Pertanian kabupaten/kota sesuai mekanisme yang berlaku. Seluruh usulan akan diverifikasi dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kebutuhan serta kondisi wilayah terdampak.

Penerima bantuan pemerintah meliputi Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), kelembagaan ekonomi petani yang terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN) maupun e-Banper, serta Brigade Pangan dan pemerintah daerah yang mengelola brigade alsintan.

"Harapannya bantuan pemerintah ini tidak hanya dimanfaatkan oleh penerima secara langsung, tetapi juga memberikan manfaat bagi petani lainnya. Dengan pengelolaan yang baik, alsintan akan meningkatkan efisiensi usaha tani, menjaga produktivitas di tengah ancaman kekeringan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung percepatan swasembada pangan," pungkas Andi.

Editor : Uray Ronald
pompanisasi Kementan 2026 pompa air pertanian mitigasi kekeringan nasional Swasembada Pangan kementerian pertanian