PONTIANAK POST - Pemerintah menetapkan kawasan cetak sawah Dadahup di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, sebagai proyek percontohan pertanian rawa modern hasil kerja sama Indonesia-Australia.
Kawasan ini dipilih karena dinilai memiliki potensi besar untuk menguji sistem pengelolaan air berbasis teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas lahan rawa sekaligus menjadi model bagi pengembangan kawasan serupa di Indonesia.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan hasil kajian para ahli Australia menunjukkan Dadahup memiliki karakteristik yang sesuai untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian rawa modern.
Baca Juga: Petani Papua Dukung Program Cetak Sawah Rakyat untuk Penuhi Kebutuhan Pangan, Jawab Perubahan Zaman
“Hasil kajian para ahli Australia menunjukkan Dadahup memiliki potensi besar menjadi model pertanian rawa modern. Rekomendasi yang diberikan sangat sejalan dengan prioritas Indonesia dalam mempercepat peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 300 dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Amran di Jakarta, Selasa.
Lahan Rawa Butuh Tata Kelola Air Berbeda
Berbeda dengan sawah irigasi pada umumnya, lahan rawa memiliki tantangan utama berupa pengaturan tinggi muka air.
Kondisi lahan yang mudah tergenang saat musim hujan dan berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau membuat produktivitas sangat bergantung pada sistem tata kelola air.
Karena itu, pengembangan Dadahup akan difokuskan pada pembangunan sistem irigasi modern berbasis teknologi agar lahan dapat dimanfaatkan lebih optimal sepanjang tahun.
Potensi Besar Dadahup di Kalteng
Dadahup memiliki potensi lahan sawah sekitar 5.000 hektare yang tersebar di sejumlah blok pengembangan.
Namun, sebagian kawasan masih membutuhkan penguatan tata kelola air, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta percepatan pengelolaan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Sebagai tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan pada lahan seluas sekitar 50 hingga 100 hektare sebelum diperluas secara bertahap hingga 1.000 sampai 5.000 hektare sesuai kesiapan lahan.
Secara lebih luas, Kalimantan Tengah juga menjadi salah satu wilayah strategis dalam program perluasan areal sawah nasional. Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan sawah hingga 500 ribu hektare di provinsi tersebut dengan proyeksi produktivitas sekitar lima ton gabah kering per hektare setiap musim tanam.
Didukung Teknologi dan Ahli Australia
Pengembangan Dadahup merupakan tindak lanjut kerja sama Indonesia dan Australia melalui Australian Water Partnership (AWP).
Berdasarkan hasil kajian para ahli Australia, pemerintah akan membentuk Joint Technical Working Group, menyusun Integrated Water Management Masterplan and Roadmap.
Baca Juga: Satgas TMMD Genjot Cetak Sawah di Sanggau Baru dengan Traktor
Kemudian, memperkuat tata kelola air berbasis petani, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan teknologi seperti telemetry, remote sensing, dan decision support system.
Dadahup juga akan dijadikan Indonesia–Australia Demonstration Project atau proyek percontohan pengembangan pertanian rawa modern.
“Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penerapan teknologi dan tata kelola air yang lebih modern,” ujar Amran.
Diharapkan Jadi Acuan Nasional
Pemerintah berharap keberhasilan pengembangan Dadahup tidak hanya meningkatkan produksi pangan di Kalimantan Tengah, tetapi juga menjadi acuan bagi pengembangan kawasan rawa produktif di berbagai daerah lain di Indonesia.
Baca Juga: Pemkab Mempawah Evaluasi Dokumen Lingkungan Program Cetak Sawah Tahun Anggaran 2026
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengatakan laporan akhir hasil kajian para ahli Australia diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan langkah lanjutan dalam meningkatkan produktivitas kawasan Dadahup.
“Kami berharap laporan ini dapat membantu Indonesia meningkatkan produktivitas kawasan Dadahup dan menjadikannya contoh pengembangan pertanian rawa modern,” kata Brazier.
Editor : Miftahul Khair