PONTIANAK POST- Pemerintah mempercepat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Melalui program ini, pemerintah menargetkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) atau indikator kesejahteraan nelayan meningkat dari sekitar 103 menjadi 120 pada 2027 dengan memperpendek jalur distribusi hasil tangkapan, memperkuat fasilitas penyimpanan, dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan peningkatan kesejahteraan nelayan menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung program swasembada pangan nasional.
“Kebijakan Presiden yang utama, kita harus swasembada. Nilai tukar nelayan kita di angka 103, sampai dengan 2027 kita proyeksikan nilai tukarnya meningkat menjadi 120,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, selama ini harga ikan yang diterima nelayan belum maksimal karena jalur distribusinya masih terlalu panjang. Di sisi lain, terbatasnya fasilitas penyimpanan membuat kualitas hasil tangkapan cepat menurun sehingga nilai jualnya ikut berkurang.
Karena itu, pemerintah membangun Kampung Nelayan Merah Putih sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Kawasan ini dilengkapi fasilitas penanganan hasil tangkapan, penyimpanan, distribusi, hingga berbagai unit usaha yang mendukung aktivitas nelayan.
Dengan adanya gudang pendingin dan sarana logistik yang lebih baik, hasil tangkapan diharapkan bisa disimpan lebih lama, dipasarkan ke wilayah yang lebih luas, dan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi nelayan.
"KNMP dirancang untuk meningkatkan Nilai Tukar Nelayan dengan memperpendek rantai distribusi hasil perikanan sehingga nelayan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil tangkapannya," ujar Zulhas.
Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih di seluruh Indonesia hingga 2029. Sebanyak 1.369 kawasan ditargetkan sudah selesai dibangun sampai akhir 2026.
Saat ini, pembangunan tahap pertama telah rampung di 65 lokasi yang tersebar di 25 provinsi. Sementara itu, 35 lokasi lainnya dijadwalkan selesai secara bertahap mulai Agustus 2026. Pemerintah juga telah memverifikasi 1.269 lokasi yang akan menjadi lokasi pembangunan berikutnya.
Di Nusa Tenggara Timur, empat Kampung Nelayan Merah Putih sudah siap beroperasi, yakni di Manggarai Barat, Flores Timur, Alor, dan Kupang.
Salah satunya berada di Desa Warloka, Kabupaten Manggarai Barat. Kawasan tersebut didukung 263 nelayan aktif dengan 178 armada penangkapan. Komoditas utama yang dihasilkan adalah ikan tongkol, tembang, dan layang.
Saat meninjau kawasan itu bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pada Kamis (30/7), Zulhas mengatakan KNMP Warloka diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 1.038 ton hasil perikanan setiap tahun. Setelah beroperasi, kawasan itu juga diproyeksikan dapat menambah pendapatan nelayan sekitar Rp3,5 juta per orang setiap bulan.
Untuk mendukung kegiatan nelayan, kawasan tersebut dilengkapi satu gudang beku portabel, satu pabrik es, satu mobil berpendingin, serta 50 kotak pendingin agar mutu hasil tangkapan tetap terjaga hingga sampai ke pasar.
Berdasarkan analisis kelayakan usaha, 10 unit usaha di kawasan itu diperkirakan mampu mencatat omzet sekitar Rp6,97 miliar per tahun dengan laba bersih sekitar Rp677,77 juta per tahun. Pendapatan terbesar diproyeksikan berasal dari gudang beku, disusul kios perbekalan dan pabrik es.
"Keberadaan KNMP Warloka diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang nyata," tutur Zulhas.
Pemerintah berharap pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih membuat hasil tangkapan nelayan memiliki nilai jual lebih tinggi, penghasilan meningkat, dan kesejahteraan masyarakat pesisir ikut terdongkrak. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara