Dua Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Detektor MBG, Makanan Basi Terdeteksi dalam Lima Detik

Efprizan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 14:41 WIB
 Siswa SMPN 1 Turi Abyan Syahlefi (berkacamata) dan Pradipta Widhi Nugroho menunjukkan kreasi alat Detektor MBG untuk menguji makanan basi. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Siswa SMPN 1 Turi Abyan Syahlefi (berkacamata) dan Pradipta Widhi Nugroho menunjukkan kreasi alat Detektor MBG untuk menguji makanan basi. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

PONTIANAK POST - Dua siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil menciptakan Detektor MBG, alat pendeteksi kualitas makanan yang mampu mengidentifikasi indikasi makanan tidak layak konsumsi hanya dalam waktu sekitar lima detik dengan biaya pembuatan sekitar Rp500 ribu.

Sebagaimana dilaporkan Radar Jogja (jaringan Pontianak Post), inovasi tersebut dikembangkan oleh Abyan Syahlefi (15) dan Pradipta Widhi Nugroho (14) sebagai respons atas maraknya pemberitaan mengenai kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Abyan mengatakan ide tersebut muncul setelah dirinya melihat banyak informasi mengenai kasus keracunan makanan yang beredar di media sosial.

"Kami lihat di media sosial banyak terjadi keracunan lalu kami buat alat ini buat mengurangi angka keracunan MBG," kata Abyan saat ditemui di SMPN 1 Turi, Rabu (29/7).

Baca Juga: Korban Dugaan Keracunan MBG Bertambah, Kini Menyasar Ibu Hamil dan Siswa

Dikembangkan Selama Lima Bulan

Pengembangan Detektor MBG dimulai sejak Maret dan membutuhkan waktu sekitar lima bulan hingga menghasilkan prototipe yang siap diuji.

Dalam proses pembuatannya, Abyan dan Pradipta memanfaatkan berbagai komponen elektronik, antara lain sensor MQ-135, MQ-3, TCS3200, DHT11, mikrokontroler ESP32, serta kipas pendingin untuk menjaga suhu di dalam boks tetap stabil.

Meski menggunakan teknologi yang cukup kompleks, total biaya pembuatan alat tersebut hanya sekitar Rp500 ribu, sehingga relatif terjangkau untuk ukuran proyek penelitian pelajar.

Cara kerja alat ini cukup sederhana karena pengguna hanya perlu memasukkan sampel makanan ke dalam boks, kemudian menghubungkannya ke jaringan WiFi melalui gawai.

Baca Juga: Kepala BGN Tegaskan Dapur MBG Tak Penuhi Standar Akan Ditutup Setelah Diberi Kesempatan Perbaikan

Dalam waktu sekitar lima detik, sistem akan menampilkan hasil pembacaan berupa indikator suhu, kelembapan, serta parameter lain yang berkaitan dengan keamanan makanan.

"Bisa jadi satu detik langsung keluar hasilnya, memang tergantung koneksi," ujar Abyan.

Dapat Digunakan untuk Berbagai Jenis Makanan

Detektor MBG dirancang untuk menguji berbagai jenis makanan, mulai dari nasi, sayuran, daging, hingga buah-buahan.

Sementara itu, untuk makanan kering, kedua siswa tersebut mengingatkan bahwa tanggal kedaluwarsa tetap harus menjadi acuan utama sebelum dikonsumsi.

Baca Juga: Kepala BGN Kayong Utara Adi Afrianto Dipindah ke Papua, Diduga Main HP Saat Pengarahan Sudaryono

Selain menjadi proyek penelitian sekolah, Detektor MBG kini mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dan telah lolos seleksi tahap pertama.

Apabila berhasil melanjutkan ke babak berikutnya, Abyan dan Pradipta akan berkesempatan mewakili sekolah pada kompetisi tingkat nasional di Jakarta.

Keduanya juga aktif mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) serta berbagai kompetisi riset dan robotika di sekolah.

Dapat Apresiasi Sekolah dan Menarik Perhatian Berbagai Pihak

Inovasi tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak setelah dipublikasikan.

Baca Juga: Badan Gizi Nasional Evaluasi Titik Dapur MBG untuk Prioritaskan Daerah dengan Angka Stunting Tinggi

Abyan mengungkapkan pihak sekolah sempat dihubungi tim dari Wakil Presiden pada Senin (27/7), kemudian disusul kedatangan aparat kepolisian untuk melakukan konfirmasi terkait mekanisme kerja alat serta identitas kedua penemu.

Kepala SMP Negeri 1 Turi, Hospita Henny Koerniati, menyampaikan apresiasi atas kreativitas kedua siswanya yang mampu menghadirkan solusi atas persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

"Kami dari sekolah sangat apresiasi dan memberi penghargaan yang memang setinggi-tingginya untuk anak-anak kami," kata Hospita.

Ia menambahkan sekolah akan terus mendampingi pengembangan Detektor MBG, termasuk mendorong pengurusan hak cipta agar inovasi tersebut memiliki perlindungan hukum dan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai karya ilmiah pelajar Indonesia. (*)

Editor : Efprizan
Detektor MBG SMPN 1 Turi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia makanan basi keracunan makanan