Saling Ejek Nama Orang Tua Berujung Tragis, Siswa MTs Pati Kehilangan Dua Jari

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 22:45 WIB
Ilustrasi siswa MTs terlibat aksi saling ejek yang berujung dugaan perundungan. Kasus serupa menjadi perhatian karena dapat berdampak serius terhadap keselamatan fisik dan psikologis anak di lingkungan sekolah.
Ilustrasi siswa MTs terlibat aksi saling ejek yang berujung dugaan perundungan. Kasus serupa menjadi perhatian karena dapat berdampak serius terhadap keselamatan fisik dan psikologis anak di lingkungan sekolah.

 

PONTIANAK POST — Dugaan perundungan di sebuah MTs di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berujung tragis. Seorang siswa kelas VII mengalami luka berat hingga kehilangan dua jari tangan kiri setelah terjepit pagar besi saat berusaha kabur dari kejaran tiga kakak kelasnya.

Peristiwa tersebut diduga bermula dari aksi saling ejek nama orang tua antara korban dan tiga siswa kelas IX. Kasus ini kini dilaporkan ke Polresta Pati dan masih dalam proses penyelidikan.

 

Lari Mencari Selamat, Jari Korban Terjepit Pagar Besi

Berdasarkan keterangan kuasa hukum korban dari LBH Garda Muda Nusantara Cabang Pati, Catur Andi Cahyanto, kejadian berlangsung Senin (27/7) setelah waktu salat Zuhur di lingkungan sekolah.

Korban dan tiga siswa senior diduga terlibat saling ejek nama orang tua hingga terjadi keributan. Belum diketahui pihak yang pertama kali memulai ejekan tersebut.

"Saling ejek. Kami tidak tahu siapa yang memulai," kata Catur.

 

Korban Sempat Masuk Kelas, tetapi Diduga Tetap Dikejar

Catur mengatakan, korban sempat berlari menuju ruang kelas untuk mencari perlindungan. Namun, tiga siswa yang diduga mengejarnya disebut tetap mengikuti hingga terjadi aksi kekerasan.

Korban kemudian kembali melarikan diri menuju pagar besi di sekitar kamar mandi dan tempat wudu sekolah.

Saat berusaha memanjat pagar setinggi sekitar dua meter, tangan kiri korban terjepit. Akibat kejadian tersebut, dua jari korban putus dan satu jari lainnya mengalami retak.

 

Upaya Menyelamatkan Jari Gagal Dilakukan

Potongan jari korban sempat dibawa dengan harapan dapat disambungkan kembali melalui tindakan medis. Namun, upaya tersebut urung dilakukan karena adanya kekhawatiran risiko infeksi.

Founder Astuti Foundation, Padina Mahardikasari, yang mendampingi korban, menyebut terdapat dugaan kuat unsur perundungan dalam kejadian tersebut.

Menurut Padina, berdasarkan keterangan keluarga, para terduga pelaku berada di sekitar lokasi saat korban terjepit.

"Namun mengapa pagar tidak dibuka. Tidak ditolong," ujarnya.

 

Sekolah Bantah Ada Unsur Bullying

Kasus dugaan penganiayaan tersebut telah dilaporkan ke Polresta Pati. Korban juga telah dimintai keterangan oleh penyidik pada Minggu (2/8).

Sebelumnya, Kepala MTs Syafi’i membantah adanya unsur bullying dalam kejadian tersebut. Pihak sekolah menyebut insiden itu merupakan kecelakaan yang terjadi saat jam istirahat.

"Tidak ada unsur perundungan," katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati Ahmad Syaikhu belum memberikan keterangan terkait kasus tersebut. Pihaknya masih menunggu proses penyidikan kepolisian.

 

Keluarga Korban Minta Kasus Diproses Hukum

Keluarga korban meminta polisi mengusut kasus tersebut hingga tuntas. Kakak sepupu korban, S, mengatakan, insiden itu terjadi saat rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Menurut keluarga, korban yang baru duduk di kelas VII diduga mengalami kekerasan dari tiga siswa kelas IX.

Keluarga memastikan tidak akan menempuh jalur damai dan berharap proses hukum tetap berjalan.

"Hingga kini, belum ada permintaan maaf dari pihak sekolah maupun keluarga para terduga pelaku," kata S.

 

Kronologi Siswa MTs Pati Kehilangan Dua Jari

Sumber: Keterangan kuasa hukum korban dan pendamping korban.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
dugaan bullying sekolah perundungan siswa Polresta Pati kekerasan pelajar saling ejek nama orang tua