Patung Santo Yusuf Arimatea Diterima Paus Leo XIV, Brata Gallery Mengaku Alami 'Mukjizat' Pesanan Baru

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 23:24 WIB
Paus Leo XIV menerima patung Santo Yusuf Arimatea karya Brata Gallery Yogyakarta yang diserahkan delegasi Indonesia dalam audiensi di Vatikan, 25 Maret 2026. Patung tersebut menjadi simbol penghormatan kepada tokoh yang mengurus pemakaman Yesus Kristus serta mempererat hubungan Gereja Katolik Indonesia dengan Takhta Suci. (IST)
Paus Leo XIV menerima patung Santo Yusuf Arimatea karya Brata Gallery Yogyakarta yang diserahkan delegasi Indonesia dalam audiensi di Vatikan, 25 Maret 2026. Patung tersebut menjadi simbol penghormatan kepada tokoh yang mengurus pemakaman Yesus Kristus serta mempererat hubungan Gereja Katolik Indonesia dengan Takhta Suci. (Putut Prabantoro for Pontianak Post)

 

PONTIANAK POST – Sebuah patung Santo Yusuf Arimatea karya Brata Gallery Yogyakarta menjadi sorotan setelah diterima langsung oleh Paus Leo XIV di Vatikan. Bagi pemilik galeri, Niko Harahap Tanubrata, momen tersebut bukan sekadar pengakuan atas karya seni, tetapi juga pemenuhan cita-cita almarhum ayahnya yang sejak lama berharap salah satu karya Brata Gallery dapat diterima oleh pemimpin Gereja Katolik sedunia.

"Jika papa masih hidup, ia pasti sangat terharu karena patung buatan Brata Gallery diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Keinginan papa akhirnya terwujud melalui patung Santo Yusuf Arimatea," kata Niko saat ditemui di Yogyakarta.

Menurut Niko, dirinya tidak pernah membayangkan patung yang dibuat bersama timnya akan sampai ke tangan Paus. Bahkan sejak awal ia hanya mengetahui karya tersebut akan dibawa ke Vatikan.

Dari Sebuah Pesanan Menjadi Momen Bersejarah

Patung Santo Yusuf Arimatea dipesan pada Agustus 2025 oleh AM Putut Prabantoro, Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Saat itu Niko mengaku belum memahami secara mendalam sosok Yusuf Arimatea.

Tokoh dalam Kitab Suci tersebut dikenal sebagai orang yang memakamkan Yesus Kristus setelah penyaliban. Yusuf Arimatea merupakan anggota Mahkamah Yahudi Sanhedrin sekaligus murid rahasia Yesus yang menyediakan makam keluarganya untuk pemakaman Yesus.

Niko Harahap Tanubrata, pemilik Brata Gallery Yogyakarta (Kanan).
Niko Harahap Tanubrata, pemilik Brata Gallery Yogyakarta (Kanan).

 

Bagi Brata Gallery, pembuatan patung ini menjadi pengalaman pertama sejak galeri tersebut berdiri.

"Saya happy banget. Saya hanya tahu patung itu akan dibawa ke Vatikan. Saya pikir mungkin untuk museum. Ternyata diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Itu berkah luar biasa," ujar Niko.

Delegasi Indonesia Menyerahkan Patung kepada Paus

Patung Santo Yusuf Arimatea diserahkan kepada Paus Leo XIV dalam audiensi di Vatikan pada 25 Maret 2026.

Patung tersebut dibawa oleh delapan delegasi Indonesia yang terdiri dari perwakilan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta didampingi Rm Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Vatikan asal Indonesia.

Peristiwa tersebut kemudian diberitakan berbagai media dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim Brata Gallery.

"Mukjizat" yang Dirasakan Setelah Patung Diterima Paus

Tak lama setelah pemberitaan mengenai penyerahan patung tersebut tersebar, Niko mengaku menerima pesanan yang menurutnya belum pernah terjadi sepanjang sejarah Brata Gallery.

Seorang kolektor dari Bandung memesan serial patung Jalan Salib berukuran sekitar 180 sentimeter untuk rumah pribadinya.

Pesanan itu dinilai istimewa karena terdiri atas 14 stasi dengan ukuran besar. Bahkan usulan Niko agar Stasi ke-13 menampilkan tiga tokoh, yakni Bunda Maria, Yesus, dan Yusuf Arimatea, langsung disetujui pemesan.

"Apakah ini bagian dari kisah setelah patung Yusuf Arimatea diterima Paus, saya tidak tahu. Tapi bagi saya ini menjadi berkat yang luar biasa," ujar Niko.

Tantangan Membuat Patung Tanpa Referensi

Berbeda dengan karya religius lainnya, pembuatan patung Santo Yusuf Arimatea dilakukan hampir tanpa referensi visual.

Niko mengungkapkan selama puluhan tahun berkarya ia lebih sering membuat patung Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf, maupun tokoh-tokoh Kitab Suci yang umum dikenal.

Ketika menerima pesanan tersebut, ia bersama Putut Prabantoro harus melalui proses berulang mulai dari pembuatan sketsa, pemodelan tanah liat, hingga beberapa kali revisi untuk mendapatkan karakter yang dianggap tepat.

Rosalinda Widjajanto, ilustrator yang terlibat langsung dalam proses tersebut, mengaku baru mengenal sosok Yusuf Arimatea ketika mengerjakan proyek itu.

"Yang membuat saya terharu, sosok semulia itu justru tidak pernah ingin diangkat. Padahal perannya sangat besar dalam kisah wafat Yesus," katanya.

Keinginan yang Kini Tumbuh

Keberhasilan patung karya Brata Gallery diterima langsung oleh Paus Leo XIV juga memunculkan harapan baru bagi Niko dan timnya.

Setelah sebelumnya karya Patung Maria Bunda Segala Suku pernah dikirim ke Museum Vatikan, kini ia berharap suatu saat dapat mengunjungi Vatikan dan bertemu langsung dengan Paus Leo XIV.

"Saya ingin sekali ke Vatikan. Kalau bisa bertemu langsung dengan Paus Leo XIV tentu menjadi kebahagiaan tersendiri," kata Niko.


Fakta Singkat

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Patung Santo Yusuf Arimatea Brata Gallery Niko Harahap Tanubrata vatikan Paus Leo XIV