PONTIANAK POST – Data penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan Masalembu kembali berubah. Di tengah proses pencarian dua korban yang belum ditemukan, pemerintah mengungkap lima anak penyintas ternyata tidak tercatat dalam manifes penumpang. Temuan itu memunculkan kembali sorotan terhadap akurasi pendataan penumpang sebagai aspek mendasar dalam keselamatan pelayaran.
Fakta tersebut terungkap setelah kapal Meratus Pematang Siantar, yang mengevakuasi sebagian korban kebakaran, sandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Senin (3/8) dini hari. Menteri Perhubungan Dody Purwagandhi mengatakan lima anak berada di atas kapal, tetapi tidak tercantum dalam manifes.
Manifes Kembali Jadi Sorotan"Ada lima anak di kapal tersebut yang tidak tercatat dalam manifes. Hanya dicantumkan membawa anak tanpa menyebut jumlahnya," ujarnya.
Dody menegaskan seluruh penumpang, termasuk bayi dan anak-anak, wajib tercatat dalam manifes. Temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendataan penumpang kapal.
Kewajiban mencatat seluruh penumpang dalam manifes merupakan bagian dari standar keselamatan pelayaran. Hal itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, yang menempatkan keselamatan dan keamanan pelayaran sebagai prioritas dalam penyelenggaraan angkutan laut.
Ketentuan tersebut kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan (yang kemudian diperbarui melalui PP Nomor 31 Tahun 2021), yang mewajibkan perusahaan angkutan di perairan menyusun daftar penumpang (manifes) dan memastikan data penumpang sesuai dengan jumlah orang yang diangkut. Manifes menjadi dokumen penting untuk proses pencarian, evakuasi, identifikasi korban, hingga pertanggungjawaban operator apabila terjadi kecelakaan.
Menurut Dody, persoalan manifes bukan kali pertama terjadi. Pada kecelakaan KLM Nurul Salsa di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, 15 Juli lalu, manifes hanya mencatat 45 orang, padahal kapal mengangkut sekitar 76 hingga 78 penumpang.
Kasus serupa juga terjadi saat KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali pada Juli 2025. Saat itu, sejumlah pekerja kapal yang ditemukan meninggal dunia tidak tercatat dalam manifes. Banyak penumpang tetap berada di dalam kendaraan sehingga petugas hanya mendata nomor kendaraan tanpa mencatat identitas seluruh penumpangnya.
Jumlah Penumpang Terus DirevisiKepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan jumlah orang di atas KMP Mutiara Sentosa 2 mengalami beberapa kali perubahan selama proses verifikasi.
Data awal dari owner kapal menyebut terdapat 286 orang. Namun, setelah dilakukan pengecekan, diketahui 31 kendaraan yang membawa sekitar 50 orang batal diberangkatkan karena tidak memperoleh tempat di kapal.
"Konfirmasi awal dari owner sebanyak 286 orang, tetapi ada 31 kendaraan berisi 50 orang yang tidak muat sehingga batal diberangkatkan," katanya.
Jumlah penumpang kemudian direvisi dari 271 orang menjadi 272 orang. Setelah pencocokan data kembali dilakukan, angka tersebut berubah menjadi 236 orang.
Dari total tersebut, hingga Senin (3/8), tim SAR gabungan telah mengevakuasi 234 korban. Sebanyak 229 orang ditemukan selamat, lima orang meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.
Nanang menegaskan data tersebut masih bersifat dinamis karena proses identifikasi korban dan pencocokan manifes masih berlangsung.
Survivor Mengaku Tak Melihat Sekoci
Di tengah proses evakuasi, kesaksian para penyintas mengungkap situasi mencekam saat kebakaran melanda kapal.
Muhammad Abdul Karim, salah seorang penumpang selamat, mengatakan dirinya sedang sarapan di dek lima ketika kru meminta seluruh penumpang segera berkumpul di haluan karena api dari dek kendaraan cepat membesar akibat tiupan angin.
"Kami diminta segera berkumpul di dek haluan depan karena api menyebar sangat cepat," ujarnya kepada Jawa Pos.
Sekitar 30 menit setelah asap pertama kali terlihat, seluruh penumpang telah mengenakan jaket pelampung. Namun Karim mengaku tidak menerima arahan menuju titik evakuasi dan tidak melihat adanya sekoci penyelamat.
"Tidak ada. Kalau ada, mungkin ceritanya berbeda," katanya.
Kesaksian serupa disampaikan penyintas lainnya. Mereka menyebut akses menuju area sekoci telah tertutup kobaran api sehingga banyak penumpang akhirnya melompat ke laut setelah melihat kapal lain mendekat.
"Lompat bukan karena nekat, tetapi atas rekomendasi petugas agar kami bisa segera dievakuasi kapal lain," tutur Karim.
Penyintas Bambang Susilo mengaku saat api membesar dirinya tidak lagi memikirkan keberadaan sekoci.
"Yang penting bagaimana caranya selamat dari kepungan api," katanya.
Basarnas Fokuskan Pencarian Dua Korban
Penyisiran difokuskan di permukaan laut dengan asumsi masih terdapat korban yang melompat ke air sebelum kapal terbakar sepenuhnya.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan perbedaan data manifes masih terus didalami. Basarnas hanya menyampaikan jumlah korban yang telah berhasil dievakuasi.
"Kami hanya mendeklarasikan jumlah korban yang sudah terevakuasi," ujarnya.
Menurut Syafii, sebagian korban selamat masih dalam perjalanan dari Pulau Masalembu menuju Surabaya. Empat korban lainnya masih menjalani perawatan di RSI Kalianget, Sumenep.
Ia juga memastikan seluruh 25 awak kapal dan tenaga katering berhasil selamat. Seluruh korban yang ditemukan di laut menggunakan jaket pelampung.
Namun hingga proses pencarian berlangsung, tim SAR belum menemukan sekoci maupun perahu karet penyelamat di sekitar lokasi kebakaran.
"Sementara ini, dari laporan petugas di lapangan memang tidak ditemukan sekoci atau perahu karet penyelamat," ujarnya.
Akurasi Manifes Menentukan Keselamatan
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menempatkan akurasi data penumpang sebagai bagian penting dalam investigasi kecelakaan pelayaran. Manifes menjadi dokumen dasar untuk mencocokkan jumlah orang di atas kapal, mempercepat proses pencarian dan identifikasi korban, serta membantu penyusunan kronologi kecelakaan.
Bagi investigator, ketidaksesuaian antara manifes dan jumlah penumpang aktual dapat menyulitkan penentuan jumlah korban maupun evaluasi efektivitas proses evakuasi. KNKT juga menegaskan bahwa setiap investigasi kecelakaan bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab dan menghasilkan rekomendasi keselamatan agar kejadian serupa tidak terulang, bukan untuk mencari pihak yang dipersalahkan.