PONTIANAK POST – Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering sejak 1991 berdasarkan rata-rata curah hujan nasional. Bagi Kalimantan Barat, catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu bukan sekadar rekor klimatologi, melainkan peringatan dini atas meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berkurangnya cadangan air, hingga potensi terganggunya aktivitas pertanian selama musim kemarau.
BMKG menyebut penurunan curah hujan dipicu menguatnya fenomena El Nino yang telah mencapai kategori kuat dan berkembangnya Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua fenomena tersebut sama-sama mengurangi pembentukan hujan di Indonesia, termasuk di Kalimantan bagian selatan yang mencakup sebagian wilayah Kalimantan Barat.
Rekor Kekeringan Terparah dalam 35 Tahun Terakhir
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Fachri Radjab, mengatakan rata-rata curah hujan nasional pada Juli 2026 menempati peringkat pertama sebagai bulan Juli paling kering sejak pencatatan dimulai pada 1991.
"Di bulan Juni, curah hujan rata-rata wilayah Indonesia berada pada peringkat kedelapan terkering sejak 1991. Namun pada Juli, ternyata Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering peringkat pertama sejak 1991," ujarnya dalam Dialog Nasional yang digelar Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8).
Menurut Fachri, El Nino saat ini masih berpotensi meningkat menjadi kategori sangat kuat dengan peluang sekitar 75 persen pada Agustus hingga Oktober 2026. Di saat bersamaan, fenomena IOD positif diperkirakan terus berkembang sehingga semakin mengurangi curah hujan selama musim kemarau.
"Ini mungkin yang perlu menjadi antisipasi kita ketika dua fenomena ini aktif, baik di sisi timur maupun sisi barat Indonesia, dan sama-sama berpotensi mengurangi curah hujan selama periode musim kemarau ini," katanya.
Kalbar Selatan Ikut Mengalami Penurunan Curah Hujan
BMKG mencatat hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua mengalami curah hujan rendah hingga sangat rendah selama Juli 2026.
Bagi Kalimantan Barat, kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah, terutama kawasan bergambut di bagian selatan, memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran saat hujan berkurang dalam waktu lama.
BMKG sebelumnya juga memperkirakan sebagian besar Kalimantan berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan pola El Nino 1997 pada periode September hingga November 2026 dengan probabilitas mencapai 80–90 persen.
Berkurangnya hujan menyebabkan cadangan air di lahan gambut terus menyusut, sementara proses penguapan tetap berlangsung. Akibatnya, lahan menjadi lebih mudah terbakar dan berpotensi memicu munculnya titik panas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius di Kalimantan Barat yang hampir setiap musim kemarau menghadapi ancaman karhutla dan kabut asap.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama BPBD sebelumnya telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Asap hingga 15 November 2026. Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kalbar menyiagakan empat helikopter dan satu pesawat untuk patroli udara, water bombing, maupun mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Selain itu, ratusan titik rawan karhutla telah dipetakan sebagai dasar penguatan patroli terpadu selama puncak musim kemarau. [Sisipkan kutipan terbaru Kepala Pelaksana BPBD Kalbar atau Koordinator Pusdalops BPBD Kalbar mengenai kesiapan menghadapi puncak kemarau].
Hari Tanpa Hujan Terus Bertambah
BMKG juga mencatat kekeringan meteorologis mulai meluas di berbagai daerah.
Hingga awal Agustus 2026 terdapat 306 titik pengamatan yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
Sebanyak 1.657 titik lainnya mengalami HTH sangat panjang selama 31–60 hari, sedangkan 322 titik mengalami HTH panjang selama 21–30 hari berturut-turut.
Rekor terpanjang terjadi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan 90 hari tanpa hujan.
Mitigasi Menjadi Kunci
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga September, sementara El Nino diperkirakan bertahan hingga sekitar Mei 2027 meski pengaruhnya terhadap pola hujan mulai berkurang setelah musim hujan tiba pada pertengahan Oktober.
Bagi Kalimantan Barat, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan lebih penting daripada penanggulangan. Penguatan patroli, operasi modifikasi cuaca, kesiapsiagaan pemadaman dini, serta kepatuhan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi langkah penting guna mencegah bencana asap yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga perekonomian masyarakat.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro