Penyintas KMP Mutiara Sentosa 2 Bertahan Hidup Berjam-jam di Laut, Basarnas Tutup Operasi SAR

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 22:35 WIB
MENANGIS HARU: Penyintas KMP Mutiara Sentosa 2, Adela Astri, tak kuasa menahan tangis setelah kembali bertemu suami dan putranya yang sempat terlepas dari genggamannya saat menyelamatkan diri dengan melompat ke laut ketika kapal terbakar di perairan utara Madura. (PUGUH S/JAWA POS)
MENANGIS HARU: Penyintas KMP Mutiara Sentosa 2, Adela Astri, tak kuasa menahan tangis setelah kembali bertemu suami dan putranya yang sempat terlepas dari genggamannya saat menyelamatkan diri dengan melompat ke laut ketika kapal terbakar di perairan utara Madura. (PUGUH S/JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Tragedi KMP Mutiara Sentosa 2 terbakar meninggalkan kisah perjuangan hidup para penyintas yang harus bertahan selama berjam-jam di tengah laut sebelum pertolongan datang. Di saat yang sama, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan operasi pencarian setelah seluruh korban yang tercatat dalam data resmi dinyatakan telah dievakuasi.

Di balik data evakuasi tersebut, tersimpan kisah kepanikan, keberanian, dan perjuangan para penumpang yang harus memilih melompat ke laut untuk menyelamatkan diri dari kobaran api.

Genggaman Seorang Ibu Lepas Demi Bertahan Hidup

Bagi Adela Astri, momen paling menyakitkan bukan ketika melihat kapal dilalap api, melainkan saat harus kehilangan genggaman putranya di tengah ombak.

Perempuan asal Kabupaten Bogor itu melompat ke laut bersama ratusan penumpang lainnya setelah kebakaran semakin membesar. Dengan tangan kanan ia menggenggam putranya, Muhammad Guntur, sementara tangan kirinya menahan seorang bocah lain yang tidak dikenalnya agar tidak tenggelam.

Berulang kali ia menelan air laut sambil berusaha tetap mengapung.

Namun tenaga Adela akhirnya habis.

"Anak saya terlepas," ujarnya dengan suara bergetar.

Beruntung, putranya lebih dahulu diselamatkan rekan kerja sang suami. Setelah lebih dari tiga jam terombang-ambing di laut, Adela akhirnya ikut dievakuasi bersama bocah yang sempat ditolongnya.

Momen paling mengharukan terjadi ketika ia dipertemukan kembali dengan suami dan anaknya di Pulau Masalembu. Bocah yang sempat berada dalam genggamannya juga berhasil bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.

"Saya lupa namanya siapa, yang penting dia selamat," katanya.

Melompat Tanpa Sirene Bahaya

Penyintas lain, Syahrial, mengaku terbangun akibat kepulan asap hitam pekat yang memenuhi kapal.

Menurut sopir asal Makassar itu, tidak ada sirene darurat yang membangunkannya. Kepanikan sudah terjadi ketika ia keluar menuju geladak.

"Perintah petugas kapal, lompat dan berenang sejauh mungkin dari kapal," katanya.

Syahrial bersyukur hampir seluruh penumpang yang dilihatnya telah mengenakan jaket pelampung sehingga peluang bertahan hidup menjadi lebih besar.

Sementara itu, Prapto menyaksikan kobaran api menjalar cepat dari buritan menuju haluan, lokasi para penumpang berkumpul.

Panas menyengat dan asap tebal memaksa seluruh penumpang mengambil keputusan terakhir, yakni melompat ke laut.

Menurutnya, satu-satunya sekoci yang berada di bagian belakang kapal diduga tidak dapat digunakan saat kondisi darurat.

Tiga Jam Menunggu Pertolongan

Seluruh penyintas bertahan di tengah gelombang selama sekitar tiga jam.

Harapan baru muncul ketika sejumlah kapal tongkang yang melintas memutar haluan untuk memberikan pertolongan.

Prapto meyakini musibah yang terjadi pada pagi hari menjadi faktor penting yang menyelamatkan banyak nyawa.

"Bayangkan kalau malam. Jumlah korban akan jauh lebih banyak," ujarnya.

Basarnas Akhiri Operasi Pencarian

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyatakan operasi SAR resmi dihentikan setelah dilakukan sinkronisasi data bersama KSOP dan operator kapal.

Hasil pendataan menunjukkan terdapat 238 penumpang dan awak kapal, terdiri atas 233 orang selamat dan lima orang meninggal dunia.

Jumlah tersebut berbeda dari manifes awal yang mencatat 272 penumpang dan awak kapal.

Meski demikian, Basarnas masih menerima laporan adanya seorang sopir ekspedisi bernama Abdul Rahman yang diduga berada di kapal, tetapi tidak tercantum dalam manifes.

Keluarga dan perusahaan telah menyerahkan tiket, laporan pekerjaan, serta rekaman video sebagai bukti bahwa korban memasuki kapal sebelum keberangkatan.

Syafii menegaskan operasi pencarian dapat kembali dibuka apabila ditemukan bukti baru yang valid mengenai adanya korban yang belum terevakuasi.

Lima Korban Meninggal Akibat Benturan

Basarnas memastikan lima korban meninggal dunia bukan akibat terbakar.

Menurut Syafii, para korban mengalami benturan keras ketika melompat dari kapal yang saat itu sudah dalam posisi miring.

Anjungan kapal berada lebih dari tujuh meter di atas permukaan laut. Ketika kapal miring, tinggi lompatan diperkirakan mencapai lebih dari 10 meter.

Selain itu, para penyintas harus bertahan terapung sekitar dua jam sebelum kapal penolong tiba.

Proses evakuasi berlangsung berat karena banyak korban harus memanjat tangga tali menuju kapal penyelamat dalam kondisi fisik yang telah melemah.

Penyintas Jalani Pemulihan Fisik dan Psikologis

Sebanyak 10 penyintas masih menjalani perawatan di RS PHC Surabaya.

Direktur RS PHC menyebut sebagian besar pasien mengalami mual, muntah, vertigo, nyeri otot, hingga kelelahan akibat berenang dan benturan saat melompat dari kapal.

Seorang balita berusia dua tahun yang berhasil diselamatkan ayahnya juga terus menunjukkan perkembangan positif.

Selain penanganan medis, rumah sakit turut memberikan pendampingan psikologis kepada para penyintas yang masih mengalami guncangan emosional. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
penyintas kapal terbakar evakuasi penumpang kebakaran kapal laut keselamatan pelayaran basarnas