PONTIANAK POST – Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, diproyeksikan menghadapi dampak El Nino yang lebih berat dibanding sejumlah pulau lain di Indonesia. Jika beberapa wilayah justru memiliki peluang meningkatkan produktivitas sektor tertentu, Kalimantan dihadapkan pada ancaman meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berkurangnya ketersediaan air, hingga penurunan produksi pertanian.
Pemetaan tersebut disampaikan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) sebagai dasar penyusunan kebijakan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Bagi Kalimantan Barat, kajian tersebut menjadi peringatan agar upaya mitigasi tidak hanya berfokus pada pemadaman karhutla, tetapi juga menjaga ketahanan air dan sektor pangan selama musim kemarau.
Bappenas: Setiap Pulau Membutuhkan Strategi Berbeda
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi menegaskan pemerintah tidak dapat menerapkan satu pola penanganan yang sama untuk seluruh Indonesia.
Menurutnya, setiap pulau memiliki karakteristik dampak El Nino yang berbeda sehingga respons yang disusun juga harus bersifat spesifik sesuai kondisi wilayah.
"Tidak ada satu intervensi yang bisa menjawab dan juga diterapkan di seluruh wilayah secara seragam," ujarnya dalam Dialog Nasional "Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat" di Jakarta, Selasa (4/8).
Ia menjelaskan kebijakan yang disiapkan pemerintah mempertimbangkan kombinasi lokasi, jenis dampak, dan karakteristik sektor yang terdampak agar langkah mitigasi lebih efektif.
Kalimantan Menghadapi Tiga Ancaman Sekaligus
Dalam pemetaan Bappenas, Pulau Sumatera dan Kalimantan diperkirakan menghadapi tiga dampak utama El Nino, yakni meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya ketersediaan air, serta menurunnya produksi pertanian.
Ketiga ancaman tersebut saling berkaitan. Penurunan curah hujan menyebabkan cadangan air menyusut sehingga lahan, terutama kawasan gambut, menjadi lebih mudah terbakar. Pada saat yang sama, sektor pertanian juga menghadapi risiko penurunan produktivitas akibat terbatasnya pasokan air.
Bagi Kalimantan Barat, kondisi tersebut menjadi perhatian karena provinsi ini memiliki kawasan gambut yang luas dan hampir setiap musim kemarau menghadapi ancaman karhutla yang berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi.
Jawa dan Bali Justru Memiliki Peluang
Berbeda dengan Kalimantan, Pulau Jawa memang diperkirakan mengalami penurunan ketersediaan air, produksi pertanian, serta peningkatan risiko karhutla dan gangguan kesehatan.
Namun, wilayah tersebut juga memiliki peluang meningkatkan produktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan produksi garam karena intensitas penyinaran matahari yang lebih tinggi selama kemarau.
Di Bali dan Nusa Tenggara, El Nino diproyeksikan memberi peluang peningkatan produktivitas PLTS dan budidaya rumput laut meski tetap menghadapi ancaman kekeringan.
Sementara itu, Sulawesi berpotensi mengalami penurunan produksi pertanian dan ketersediaan air, tetapi memiliki peluang meningkatkan hasil perikanan tangkap dan budidaya rumput laut.
Adapun Maluku dan Papua diperkirakan lebih banyak terdampak pada sektor kesehatan serta kelautan dan perikanan, dengan peluang peningkatan hasil perikanan tangkap dan rumput laut.
Empat Sektor Menjadi Perhatian Pemerintah
Bappenas mengelompokkan dampak El Nino ke dalam empat klaster utama.
Klaster pertama mencakup sektor hutan, lahan, dan pertanian yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan serta penurunan produktivitas padi, kelapa sawit, dan kopi. Di sisi lain, terdapat peluang meningkatkan produksi palawija, hortikultura, dan tebu.
Klaster kedua adalah energi dan sumber daya air yang menghadapi risiko berkurangnya ketersediaan air dan penurunan produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Sebaliknya, produksi listrik dari PLTS diperkirakan meningkat.
Klaster ketiga berkaitan dengan kesehatan akibat meningkatnya risiko penyakit sensitif iklim, seperti demam berdarah, malaria, pneumonia, dan diare.
Sementara klaster keempat mencakup sektor pangan akuatik yang diperkirakan mengalami penurunan produktivitas perikanan budidaya, tetapi memiliki peluang meningkatkan hasil perikanan tangkap di sejumlah wilayah.
Kalbar Perlu Memperkuat Antisipasi
Bagi Kalimantan Barat, pemetaan Bappenas menjadi dasar penting dalam menyusun langkah mitigasi yang lebih terarah.
Selain memperkuat pencegahan karhutla, pemerintah daerah juga perlu menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian agar dampak El Nino tidak meluas menjadi persoalan sosial maupun ekonomi.
Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang sebelumnya menetapkan Kalimantan Barat sebagai salah satu provinsi prioritas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi risiko karhutla dan menjaga cadangan air selama musim kemarau.
Infografis: Dampak El Nino Kuat di Tiap Pulau Indonesia
| Wilayah | Ancaman Utama | Peluang |
|---|---|---|
| 🌴 Sumatera | • Karhutla meningkat • Ketersediaan air berkurang • Produksi pertanian menurun • Risiko kesehatan meningkat |
- |
| 🌳 Kalimantan | • Karhutla meningkat • Ketersediaan air berkurang • Produksi pertanian menurun • Risiko kesehatan meningkat |
- |
| 🏙 Jawa | • Ketersediaan air menurun • Produksi pertanian turun • Karhutla meningkat • Gangguan kesehatan • Produksi PLTA/PLTM menurun |
• Produksi listrik PLTS meningkat • Produksi garam meningkat |
| 🏝 Bali–Nusa Tenggara | • Ketersediaan air menurun • Produksi pertanian turun |
• Produksi listrik PLTS meningkat • Produktivitas rumput laut meningkat |
| 🌊 Sulawesi | • Ketersediaan air menurun • Produksi pertanian turun • Karhutla meningkat • Penyakit sensitif iklim • Produksi PLTA/PLTM turun • Perikanan budidaya menurun |
• Perikanan tangkap meningkat • Rumput laut meningkat |
| 🐟 Maluku–Papua | • Risiko kesehatan meningkat • Dampak pada sektor kelautan dan perikanan |
• Perikanan tangkap meningkat • Rumput laut meningkat |
Highlight Kalimantan Barat
🔥 Risiko terbesar:
- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
- Penurunan ketersediaan air
- Produksi pertanian menurun
- Potensi gangguan kesehatan akibat asap
Empat Klaster Dampak El Nino Menurut Bappenas
| Klaster | Dampak Negatif | Peluang |
|---|---|---|
| 🌾 Hutan, Lahan & Pertanian | Karhutla, produksi padi, sawit, kopi menurun | Palawija, hortikultura, tebu meningkat |
| 💧 Energi & Sumber Daya Air | Air baku berkurang, produksi PLTA/PLTM turun | Produksi listrik PLTS meningkat |
| 🏥 Kesehatan | Risiko DBD, malaria, pneumonia, diare meningkat | - |
| 🐠 Pangan Akuatik | Budidaya lele, nila, udang, rumput laut menurun | Perikanan tangkap dan produksi garam meningkat |
Sumber: Kementerian PPN/Bappenas – Dialog Nasional Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat (4 Agustus 2026).
Editor : Aristono Edi Kiswantoro