Kebakaran Bromo Kian Meluas hingga Ratusan Hektare, Angin Kencang Hambat Pemadaman

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 23:33 WIB
Petugas berupaya memadamkan kobaran api yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Medan terjal, vegetasi kering, dan angin kencang membuat proses pemadaman berlangsung sulit, sementara operasi water bombing disiapkan untuk mendukung penanganan dari udara. (JAWA POS)
Petugas berupaya memadamkan kobaran api yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Medan terjal, vegetasi kering, dan angin kencang membuat proses pemadaman berlangsung sulit, sementara operasi water bombing disiapkan untuk mendukung penanganan dari udara. (JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Kebakaran Bromo terus meluas di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Hingga Kamis (6/8), sekitar 127 hektare vegetasi savana dilaporkan terbakar. Kencangnya embusan angin membuat api terus menjalar ke lereng dan tebing, sehingga upaya pemadaman dari darat maupun udara belum mampu mengendalikan kobaran api secara maksimal.

Tim gabungan telah mengerahkan drone penyemprot, mobil pemadam kebakaran, truk tangki air, hingga pemadaman manual menggunakan alat pemukul api (gebyok). Sementara itu, dua unit helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dijadwalkan mulai beroperasi pada Jumat (7/8) untuk mempercepat pemadaman dari udara.

Mengutip Radar Bromo (grup Pontianak Post), kebakaran bermula di kawasan Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, sebelum meluas ke Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dan Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Kawasan TNBTS sendiri membentang di empat kabupaten, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan kobaran api terus bergerak menuju kawasan savana dan bagian atas tebing akibat tiupan angin yang cukup kencang.

Drone Hanya Mampu Menjangkau Titik Api di Area Bawah

Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai metode. BPBD Jawa Timur mengerahkan drone penyemprot, sementara Balai Besar TNBTS menurunkan armada pemadam kebakaran serta truk tangki air untuk mendukung operasi darat.

Namun, kondisi geografis membuat efektivitas pemadaman sangat terbatas.

"Untuk titik api di bawah masih bisa dijangkau drone. Kalau di tebing cukup sulit karena anginnya sangat kencang," ujar Oemar.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menambahkan, tim gabungan memfokuskan pemadaman di kawasan Jantur, Kabupaten Probolinggo.

Menurutnya, angin kencang pada siang hari menjadi kendala utama karena membuat api cepat merambat ke vegetasi kering di sekitarnya.

Helikopter Water Bombing Mulai Beroperasi Hari Ini

BNPB menyiapkan dua unit helikopter untuk mendukung pemadaman dari udara.

Helikopter jenis MI dan Sikorsky diberangkatkan dari Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada Kamis (6/8) pukul 09.12 WIB.

Kedua helikopter diperkirakan mulai melakukan operasi water bombing pada Jumat (7/8).

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pengerahan armada udara dilakukan karena medan kebakaran sulit dijangkau personel di darat.

"Kami upayakan dua unit, jenis MI dan Sikorsky. Ini sedang persiapan diberangkatkan dan kemungkinan mulai beroperasi besok," ujarnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satrio Nurseno menjelaskan, api sebenarnya sempat terkendali pada Rabu (5/8) malam.

Namun, rerumputan dan vegetasi yang mengering akibat musim kemarau menyebabkan bara kembali menyala pada Kamis dini hari di kawasan Blok Bukit Jantur.

"Keringnya rerumputan dan vegetasi akibat kemarau memicu titik api baru menyala kembali," katanya.

Operasi pemadaman melibatkan ratusan personel gabungan dari BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Jawa Timur, Balai Besar TNBTS, Perhutani, Damkar, Satpol PP, kepolisian, TNI, hingga masyarakat sekitar.

Di sejumlah lokasi, petugas bahkan harus memadamkan api secara manual menggunakan ranting pohon karena alat pemukul api mengalami kerusakan dan medan terlalu terjal untuk dilalui kendaraan.

Selain penyemprotan air, petugas juga membuat sekat bakar agar api tidak terus merambat ke kawasan konservasi lain.

BNPB Pertimbangkan Operasi Modifikasi Cuaca

Selain water bombing, BNPB juga menyiapkan opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu proses pemadaman.

Namun, pelaksanaannya masih menunggu hasil koordinasi dengan BMKG karena hingga kini pertumbuhan awan hujan di wilayah terdampak masih sangat minim.

Suharyanto mengatakan operasi serupa juga tengah berlangsung di enam provinsi lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kebakaran Bromo TNBTS terbakar water bombing Bromo kebakaran Gunung Bromo kebakaran savana Bromo