Kekeringan di Kalimantan, Kementerian PU Selamatkan 801 Hektare Sawah dan Layani 15.900 Jiwa

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:22 WIB
Ilustrasi Kekeringan
Ilustrasi Kekeringan

 

PONTIANAK POST - Penanganan kekeringan di Kalimantan terus diperkuat pemerintah di tengah dampak El Nino yang mengancam ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian. Hingga 5 Agustus 2026, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat 81 lokasi di kawasan Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara telah mendapatkan penanganan.

Dari penanganan tersebut, sebanyak 801 hektare lahan sawah berhasil diselamatkan, sementara layanan air bersih diberikan kepada sekitar 15.900 jiwa yang terdampak kekeringan.

Angka tersebut menjadi bagian dari penanganan kekeringan secara nasional yang telah mencapai 492 lokasi. Kementerian PU menangani 105 lokasi sawah dengan total luas 22.210 hektare serta 387 lokasi permukiman untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 155.228 jiwa.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan penanganan kekeringan dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi serta produktivitas pertanian tidak terganggu.

“Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, air menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” kata Dody di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Kawasan Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan kekeringan. Selain menyelamatkan lahan pertanian, pemerintah juga mengarahkan intervensi pada pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Penanganan dilakukan melalui sejumlah langkah, antara lain penanganan darurat, pengelolaan sumber daya air secara adaptif, serta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Secara nasional, dari 492 lokasi yang telah ditangani Kementerian PU, sebanyak 442 lokasi telah selesai, sedangkan 50 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan.

Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah lokasi penanganan terbanyak, yakni 305 lokasi, dengan cakupan penyelamatan 12.875 hektare sawah dan pelayanan air bersih bagi 125.540 jiwa.

Sementara itu, Sulawesi mencatat 49 lokasi penanganan dengan luas sawah yang diselamatkan mencapai 7.799 hektare serta pelayanan air bersih bagi 7.153 jiwa. Sumatra memiliki 31 lokasi penanganan yang mencakup 177 hektare sawah dan pelayanan air bersih bagi 3.368 jiwa.

Adapun Maluku, Maluku Utara, dan Papua tercatat memiliki 10 lokasi penanganan dengan cakupan 618 hektare sawah serta pelayanan air bersih bagi 3.267 jiwa.

Pemerintah menilai penanganan kekeringan tidak hanya penting untuk menjaga ketersediaan air bagi rumah tangga, tetapi juga mempertahankan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Khusus di Kalimantan, penyelamatan 801 hektare sawah dan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi 15.900 jiwa menunjukkan bahwa dampak kekeringan membutuhkan respons yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

Kementerian PU terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta mengembangkan strategi pengelolaan sumber daya air yang adaptif agar masyarakat dan sektor pertanian memiliki ketahanan lebih baik menghadapi musim kemarau dan perubahan kondisi iklim.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
sawah gagal panen kalimantan kekeringan Air Bersih