Mahasiswa Alor Bersuara Harga Beras Mahal, Mentan Amran Datang Langsung

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:52 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, saat meninjau kondisi dan program pertanian di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (8/8/2026). Aspirasi Adriano soal persoalan pangan di Alor mendorong Mentan datang langsung ke daerah tersebut.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, saat meninjau kondisi dan program pertanian di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (8/8/2026). Aspirasi Adriano soal persoalan pangan di Alor mendorong Mentan datang langsung ke daerah tersebut.

 

PONTIANAK POST – Suara seorang mahasiswa asal Kabupaten Alor tentang mahalnya harga beras membuat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman turun langsung ke daerah tersebut. Amran bahkan membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta untuk memastikan persoalan pangan yang disampaikan mahasiswa itu mendapat tindak lanjut.

Mahasiswa tersebut adalah Adriano Padama, mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) asal Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyampaikan kondisi masyarakat di daerah asalnya saat menghadiri kuliah umum yang diisi Mentan Amran di UNDIP, Semarang, Kamis (6/8).

Dalam kesempatan tersebut, Adriano mengungkap persoalan distribusi pangan yang masih dihadapi masyarakat Alor. Ketika distribusi terganggu, harga beras di sejumlah wilayah disebut dapat melonjak hingga Rp25 ribu-Rp30 ribu per kilogram.

Aspirasi itu langsung mendapat perhatian Amran. Dua hari kemudian, Sabtu (8/8), Mentan tiba di Kabupaten Alor untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus memastikan persoalan yang disampaikan Adriano ditindaklanjuti.

Suara Mahasiswa dari Alor

Amran mengatakan keberanian Adriano menyampaikan persoalan masyarakat Alor patut diapresiasi karena aspirasi tersebut dinilai berkaitan langsung dengan kondisi rakyat.

“Urgensi kunjungan ke Alor ini yang pertama, ada kami memberi kuliah umum di UNDIP, Universitas Diponegoro. Kemudian tiba-tiba ada sosok pemuda Alor yang tampil. Kalau pun berteriak, saya terima dengan senang hati, karena teriakannya adalah membawa aspirasi rakyat nyata, real,” ujar Amran saat berada di Alor, Sabtu (8/8).

Menurut Amran, mahasiswa seharusnya memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Ia menilai Adriano tidak menyampaikan aspirasi untuk kepentingan pribadi, melainkan membawa persoalan masyarakat di daerah asalnya.

“Saya bangga dengan namanya Adriano. Ini adalah putra terbaik NTT. Ini harus kita kawal. Kenapa? Mereka membaca denyut nadi masyarakat. Apa keinginan masyarakat? Bukan bahasa basi, bukan hanya pencitraan, apalagi mengada-ada. Inilah mahasiswa yang harus diteladani. Ini mahasiswa terbaik yang pernah aku temui, ini luar biasa,” kata Amran.

Ia menilai keberanian mahasiswa seperti Adriano penting karena pemerintah membutuhkan informasi langsung mengenai persoalan yang dirasakan masyarakat di daerah.

“Membawa aspirasi rakyat bukan kepentingan pribadi. Padahal dia juga hidup pas-pasan. Tetapi memperjuangkan rakyat Alor, NTT khususnya. Insyaallah kami langsung turun,” ujarnya.

Rapat Dibatalkan, Langsung ke Alor

Amran mengatakan keputusan datang langsung ke Alor merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam merespons aspirasi masyarakat. Menurut dia, persoalan yang disampaikan Adriano tidak boleh berhenti sebagai keluhan.

“Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta. Kami langsung terbang dari Jakarta, dari Jawa Tengah, langsung ke Alor. Kami sudah lihat, semua permintaan kami penuhi. Di bawah naungan Kementerian Pertanian,” kata Amran.

Dalam kunjungan tersebut, Adriano turut mendampingi Amran meninjau sejumlah lokasi dan melihat program pertanian yang disiapkan pemerintah untuk masyarakat Alor.

Bagi Adriano, respons tersebut menjadi pengalaman penting setelah persoalan yang disampaikannya mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih karena Pak Menteri sudah berkenan datang ke daerah kami yang terpencil ini. Kami sangat senang,” ujar Adriano.

Beras Alor Dipastikan Aman

Amran mengatakan persoalan pangan di Alor perlu dijawab dengan langkah yang tidak hanya menyelesaikan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memperkuat produksi pangan dalam jangka panjang.

Untuk kebutuhan mendesak, pemerintah memastikan ketersediaan beras. Di saat yang sama, produksi padi dan jagung di Alor akan terus didorong agar ketahanan pangan daerah semakin kuat.

“Pak Adriano, beras sudah aman. Ada di gudang-gudang sekarang. Harga itu Rp13 ribu, sama dengan harga Jakarta. Kita sekarang tidak akan kesulitan beras,” tegas Amran.

Amran juga meminta Perum Bulog memastikan stok beras di Alor tetap tersedia. Jika masyarakat membutuhkan, Bulog diminta melakukan operasi pasar dan menyediakan beras dengan harga terjangkau.

“Bulog operasi pasar. Tidak ada batasan. Kalau ada yang mau beli beras, kita keluarkan. Lakukan pasar di mana dibutuhkan. Pasar murah,” kata Amran.

Respons pemerintah tersebut menjadi tindak lanjut atas persoalan yang sebelumnya disampaikan Adriano. Dari sebuah aspirasi di ruang kuliah, persoalan harga dan distribusi pangan di daerah terpencil itu akhirnya membawa Menteri Pertanian datang langsung untuk melihat kondisi masyarakat Alor.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
menteri amran amran sulaiman Alor beras mahal pertanian