PONTIANAK POST- Tim rescue Northern Star Resources (NTR) dari Australia mengapresiasi kemampuan para rescuer Indonesia dalam ajang Indonesia Mining Emergency Response Community (IMERC) 2026 di Balikpapan. Pengalaman mengikuti berbagai kategori tantangan sekaligus menjadi kesempatan bagi tim Australia untuk mempelajari teknik penyelamatan yang tidak terdapat dalam pelatihan standar mereka.
Kapten Tim NTR Alice Burdett mengatakan timnya mendapatkan pengetahuan baru, terutama saat mengikuti kategori Under Water Rescue and Recovery.
“Di Australia kami tidak mendapatkan pelatihan mengenai Under Water Rescue, jadi kami belajar banyak dengan melihat tim Indonesia melakukan penyelamatan itu,” kata Alice Burdett, Sabtu.
Pelajari Penyelamatan Bawah Air
Dalam skenario Under Water Rescue and Recovery, peserta harus menolong sejumlah orang yang mobilnya jatuh ke perairan dalam hingga tenggelam. Para penyelamat kemudian dituntut membuka pintu mobil, melepaskan sabuk keselamatan, dan membawa korban ke permukaan untuk mendapatkan pertolongan lanjutan.
Menurut Alice, penyelamatan bawah air tidak menjadi bagian dari kurikulum pelatihan rescue tambang di Australia karena kondisi tambang di negara tersebut tidak memiliki badan air seperti yang dapat menyebabkan fatalitas.
“Di sana kering dan panas,” terang Alice.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia yang memiliki panas disertai kelembapan sehingga membuat orang lebih gerah dan banyak berkeringat.
Northern Star Resources merupakan perusahaan tambang emas yang berbasis di Perth, Australia Barat. Dalam IMERC 2026, tim tersebut juga menurunkan sejumlah rescuer perempuan pada beberapa kategori tantangan, yang mencerminkan keberagaman komposisi unit emergency response perusahaan tersebut.
Pada hari ketiga IMERC 2026, NTR mengikuti tiga kategori tantangan. Selain Under Water Rescue and Recovery, Alice dan anggota timnya mengikuti Vertical Rescue serta Confined Space Rescue.
Sehari sebelumnya, tim NTR telah menyelesaikan tiga kategori lainnya, termasuk Fire Fighter Structure.
Alice mengatakan keikutsertaan dalam IMERC 2026 memberikan pengalaman baru bagi timnya melalui pertukaran pengetahuan dengan para rescuer Indonesia yang telah terbiasa menghadapi berbagai kondisi di lapangan.
Menurut dia, kesempatan melihat langsung teknik penyelaman dan penyelamatan bawah air menjadi pengalaman penting karena kategori tersebut tidak tersedia dalam pelatihan standar emergency response di Australia.
Terpukau Fasilitas GRN
Selain mengikuti kompetisi, Alice juga mengapresiasi fasilitas pelatihan Garuda Rescue Nusantara (GRN), yang menjadi lokasi penyelenggaraan IMERC 2026. Ia menilai fasilitas tersebut memiliki sarana latihan yang lengkap untuk berbagai skenario keadaan darurat.
“Bangunannya megah dan fasilitasnya lengkap. Bahkan di Australia kami tidak memiliki gedung semegah dan selengkap seperti GRN ini,” katanya.
Untuk latihan skenario penyelamatan di air, GRN memiliki kolam renang dengan kedalaman berbeda dan sistem penggantian air yang dapat dilakukan dengan cepat. Ketika skenario membutuhkan air dengan visibilitas rendah seperti air sungai berlumpur, kondisi air kolam dapat disesuaikan.
Dua paramedis asal Australia, Jen Pearce dan Sue Steele, yang turut mendirikan IMERC, juga hadir dalam penyelenggaraan lomba di GRN.
Keduanya menilai pertemuan komunitas pertolongan darurat atau Emergency Response Team (ERT) Indonesia dan Australia bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk bertukar pengetahuan dan meningkatkan standar penanganan keadaan darurat.
Jen melihat adanya perkembangan peserta IMERC 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dalam penanganan korban. Tahun ini, menurut dia, banyak tim telah lebih memprioritaskan penanganan korban secara tepat daripada sekadar mengejar kecepatan.
“Tentu kecepatan juga penting, tapi cepat tidak asal cepat. Cepat dan benar, itu yang tepat,” kata Sue, yang telah lebih dari 20 tahun menjadi medic darurat pertambangan.
IMERC 2026 berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 di fasilitas pelatihan dan simulasi GRN, Balikpapan. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kompetensi, jejaring, dan kesiapan komunitas emergency response dalam menghadapi berbagai situasi darurat di lapangan. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas